Penulis Indonesia Berjaya di London Book Fair

Vega Probo, CNN Indonesia | Jumat, 17/04/2015 12:25 WIB
Penulis Indonesia Berjaya di London Book Fair Buku karya penulis asal Indonesia, Agustinus Wibowo (kemeja biru), memikat pengunjung London Book Fair. (CNNIndonesia Rights Free/Dok. Agustinus Wibowo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stand Indonesia di ajang London Book Fair (LBF), meriuh saat digelar acara bincang-bincang Indonesian Travel Writing: When Indonesians See The World yang menghadirkan penulis Agustinus Wibowo, pada Kamis (16/4), pukul 11 waktu Inggris.

Agaknya publik London mulai jatuh hati pada kisah-kisah seru yang dipaparkan oleh penulis Indonesia. Sebagaimana diketahui, Agustinus adalah penulis buku best seller berjudul Selimut Debut, Garis Batas, dan Titik Nol.

“Kalau ditotal sekitar 30 orang yang mendengarkan acara, baik di tempat duduk maupun dari luar stand. Di luar stand juga diputar video-video Afghanistan yang menarik pengunjung untuk datang,” tulis Agustinus melalui surel kepada CNN Indonesia (17/4).


Stand Indonesia, 5B140, menampilkan 223 judul buku pilihan dari berbagai penerbit. LBF adalah ajang jual beli rights buku. LBF diramaikan 25.000 pelaku industri dari 124 negara. Selain itu, juga digelar acara diskusi dan pameran foto.
 
“Stand Indonesia terletak di corner dengan lemari buku di sisi-sisi tembok yang menampilkan buku anak-anak, sastra, dan fotografi. Ruangan terbuka di keempat sisi tembok sehingga pengunjung bisa mengalir dari berbagai arah,” kata Agustinus.

Pengalaman Lebih Berharga Ketimbang Uang

Pria yang kenyang bertualang ini tak tampil sendirian, melainkan bersama Elizabeth Pisani, penulis Indonesia Etc. yang sudah berkeliling Indonesia selama satu tahun dan pernah tinggal di Indonesia sebagai jurnalis selama bertahun-tahun.

“Kami membahas tentang perjalanan dan buku kami, tetapi lebih banyak diambil dari sisi identitas,” tulis Agustinus yang mengaku konflik identitas di dalam dirinya, perjalanan menjadi sebuah pencarian jati diri dan pencarian tentang rumah.

Sedangkan Pisani, sebagaimana dikutip Agustinus, mengaku, “Menjadi seseorang yang sama sekali asing, hidup di lingkungan yang sama sekali asing, tetapi dia merasa itu sebagai ‘rumah’ karena dia merasa diterima di lingkungan itu.”

Di surelnya, Agustinus menuliskan, bagaimana ia memandang “rumah” sebagai sebuah kondisi batin yang menerima lingkungan di sekelilingnya, sedangkan Pisani merasa “rumah” ketika orang itu diterima di lingkungan bersangkutan.

Agaknya inilah yang membuat pengunjung LBF tertarik: “Bagaimana seorang traveler yang berkeliling selama bertahun-tahun di jalan seperti kami membiayai perjalanan dan hidup dari perjalanan.” Soal biaya ini, menjadi bahan pertanyaan pengunjung LBF.

“Pisani menjawab, kalau ingin kaya jangan jadi penulis,” tutur Agustinus via surel. Ia sendiri setuju dan menjawab, “Apa yang kita dapatkan dari perjalanan jauh lebih berharga daripada uang dan itu tidak bisa dinilai dengan apa pun.”

Agustinus Wibowo dan Elizabeth Pisani di London Book Fair (16/4). (CNNIndonesia Rights Free/Dok. Agustinus Wibowo)
Temukan Jawaban Lewat Perjalanan

“Ternyata banyak orang yang melintas di depan stand yang tertarik dengan perbincangan kami tentang seluk beluk Indonesia, dari perspektif berbeda,” tulis Agustinus, berusaha mempresentasikan materi dengan sebaik-baiknya.

Perspektif berbeda yang dimaksud Agustinus, “Pisani sebagai orang luar yang melihat Indonesia dan saya sebagai orang Indonesia yang melihat dunia luar untuk melihat kembali jati diri sebagai Indonesia. Inilah benang merah perbincangan kami.”

Selain menjadi pembicara talkshow, Agustinus juga memamerkan 32 foto perjalanannya di Afghanistan, Papua Nugini, China, Pakistan, dan negara-negara Asia Tengah. Ditampilkan dalam bentuk totem foto di luar stand, yang cukup menarik pengunjung.

Tahun ini, Agustinus siap merilis buku terbaru, Ground Zero: When Journey Takes You Home. Berkisah tentang “perjalanan ke ranah identitas, dan masalah identitas sekarang menjadi masalah global, di tengah isu imigrasi, terorisme, konflik ras maupun agama, terutama di Eropa yang menjadi permasalahan hangat.”

Untuk selanjutnya, Agustinus mengaku siap menulis tentang Indonesia. Tujuannya tak lain “untuk mencari jawab apa yang sesungguhnya merekatkan Indonesia sebagai sebuah negara. Saya akan mengunjungi berbagai perbatasan indonesia, juga negara-negara tetangga dan daerah-daerah diaspora Indonesia seperti Suriname dan Afrika Selatan, untuk memahami makna Nusantara dalam arti luas.”

Agustinus mengaku tertarik mengeksplorasi lebih jauh subjudul “exploring the improbable nation” di buku Indonesia Etc. karya Pisani. Kebetulan, diakui Agustinus, orang indonesia jarang mempertanyakan masalah ini.

“Di mata orang asing: kenyataan bahwa Indonesia masih berdiri sebagai sebuah negara adalah hal yang tidak masuk akal. Apakah rahasia di baliknya, buat saya itu menarik untuk saya temukan jawabannya melalui perjalanan saya.”



(vga/vga)