Sekalipun tak persis sama, film berdurasi sepuluh menit ini menggambarkan perjuangan Raisa menapaki tangga karier. Termasuk dukanya menghadapi penolakan beberapa produser.
Di adegan awal, diperlihatkan momen masa lalu, saat si cantik bernama panjang Raisa Andriana ini masih menyanyi di kafe, dan dipandang sebelah mata oleh orang di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pas sekarang justru kerasa: untung ya, waktu itu enggak diterima," katanya. "Kalau diterima, jangan-jangan enggak kayak sekarang," ia melanjutkan.
Namun dari segi cerita, film ini terkesan terlalu instan. Bisa jadi karena durasi filmnya memang sangat pendek. Jatuh bangun Raisa kurang digambarkan secara utuh.
Emosi film ini pun kurang mengena. Sekalipun alur ceritanya jelas, namun terasa datar. Harus diakui, memang tidak mudah merangkum kisah sekian tahun dalam durasi sepuluh menit.
"Kesulitannya berhadapan dengan durasi, bukan film panjang, sementara ceritanya panjang. Akhirnya fokus pada hal esensial," kata Angga yang memilih tiga esensi penting: sisi Raisa yang pantang menyerah, percaya diri dan independen.
"Esensinya membuat potensi sendiri dan menunjukkan kepada semua orang yang semula meragukan, jadi bisa," ujar Angga seraya menegaskan film ini bertujuan menginspirasi perempuan Indonesia.
Senada dengan Angga, Raisa pun berharap semua orang yang menyaksikan film perdananya ini bisa menangkap pesan yang disampaikan.
"Key message-nya proses, kerja keras dan percaya diri," katanya. "Aku percaya proses. Di film ini, ter-capture proses itu sendiri."
Penasaran ingin menyaksikan kisah hidup dan akting Raisa? Saksikan di sebuah stasiun televisi swasta, juga via Youtube.
(vga/vga)