Indonesia Darurat Penulis Buku Perjalanan

Vega Probo, CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2015 11:15 WIB
Indonesia Darurat Penulis Buku Perjalanan Kebanyakan buku perjalanan Indonesia dibuat penulis asing. Penjajahan fantasi pun tak terelakkan. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/ed/mes/14)
Jakarta, CNN Indonesia -- Minimnya buku perjalanan Indonesia—narasi, bukan panduan—yang ditulis oleh orang Indonesia, mendorong penulis Agustinus Wibowo untuk memulai proyek baru: keliling Indonesia. Hal ini berawal dari keprihatinannya.

“Kebanyakan buku perjalanan Indonesia ditulis oleh orang asing. Mereka memberikan pandangan atas-bawah,” kata Agustinus kepada CNN Indonesia, saat ditemui di kawasan Slipi, Jakarta Barat, baru-baru ini.
 
Pandangan atas-bawah yang dimaksud Agustinus merujuk pandangan yang merendahkan: bangsa asing merasa dirinya lebih unggul, sementara bangsa Indonesia dipandang negatif dan primitif.

Ia pun melanjutkan, “Berbeda halnya bila buku perjalanan Indonesia ditulis sendiri oleh orang Indonesia, maka pandangan yang diberikannya sejajar, tidak berat sebelah.”


Sebagai penulis perjalanan, pria asal Lumajang, Jawa Timur, ini mengakui tulisan perjalanan membawa bias dan persepsi dari orang yang melakukannya. Tanpa disadari, terjadi penjajahan fantasi.

Contohnya, orang Indonesia digambarkan sebagai si pemalas oleh orang asing. Fatalnya, bila literatur asing ini dibaca anak cucu kita, maka begitulah gambaran yang ia dapat tentang nenek moyangnya.

Padahal tidak semua orang Indonesia malas. Gambaran salah kaprah macam ini tidak akan terjadi andai orang Indonesia sendiri yang melakukan penjelajahan dan mencatatnya dalam buku perjalanan.

Padahal lagi, bangsa Indonesia adalah bangsa bahari yang sudah berlayar ke mana-mana sejak ribuan tahun silam. Tapi catatan perjalanannya terbilang minim.

Untuk itulah, Agustinus bertekad menjelajahi Indonesia dan membuat buku perjalanan Indonesia. Sekaligus untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalanya.

“Indonesia selalu digambarkan negatif, tapi kok, enggak tergoyahkan,” katanya. “Jadi saya ingin mencari tahu: ‘mengapa Indonesia, dengan segala keberagamannya, masih mampu berdiri sebagai negara hingga hari ini.’”

Dengan melakukan dan menulis perjalanan sendiri, setidaknya menurut Agustinus, kita—orang Indonesia—tidak perlu meminjam persepsi bangsa asing untuk mengenal dan memahami negerinya.

Agustinus prihatin, buku perjalanan Indonesia terbilang langka di rak toko buku di luar negeri. Sementara buku perjalanan negara Asia lain, dari China sampai Arab, terbilang banyak.

Saat berada di London untuk menghadiri London Book Fair, pada April lalu, ia sempat menyambangi toko buku setempat dan hanya menemukan satu buku tentang perang Aceh, itu pun ditulis orang asing.

“Bandingkan dengan buku novel atau buku motivasi. Buku perjalanan yang bersifat naratif—bukan buku panduan—terbilang sangat minim di toko buku di dalam dan luar negeri.”

Agustinus memandang ironi: betapa negara sebesar Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak ke-empat di dunia tapi minim buku perjalanan tentang Indonesia yang dibuat penulis Indonesia.

“Karena itu, proyek saya saat ini adalah berkeliling Indonesia dan menuliskan tentang Indonesia dari angle berbeda,” katanya. “Saya menyusuri perbatasan Indonesia, mulai dari Papua Nugini.”

Selama bertualang di perbatasan Papua-Papua Nugini, penulis buku Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol ini bergaul dengan warga setempat, tak terkecuali personel Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Saya susuri perbatasan, masuk hutan, tinggal di kamp OPM, untuk menunjukkan ‘ini loh, realita,’” katanya. “Karena selama ini kita nyaris tak pernah mendengar cerita dari daerah ini.”

Petualangan tiga bulan menyusuri perbatasan Papua-Papua Nugini ini siap diestafet petualangan berikut di daerah perbatasan lain, termasuk Timor Leste.

Agustinus memperkirakan bukunya akan kelar dalam satu atau dua tahun ini. Bagaimana pun, ia mengakui, butuh biaya besar untuk melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dan negara tetangga.

Pengalaman berkeliling Indonesia dan negara tetangga ini akan mengisi kekosongan yang memprihatinkan: buku perjalanan Indonesia yang digarap sendiri oleh penulis Indonesia.

Agustinus blusukan di perbatasan Papua dan menjalin keakraban dengan warga setempat. (CNNIndonesia Free Rights/Agustinus Wibowo)
(vga/vga)