Mantan tentara Siliwangi era Revolusi ini meninggal di usia 81 tahun di Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung, pada Minggu (14/6). Ia dirawat karena terkena serangan jantung. Tahun lalu, Rachmat masih aktif terlibat syuting sinetron di TVRI.
Keterlibatan aktor kelahiran 3 Juli 1933 di ranah sinema tak terlepas dari “rayuan” sutradara Usmar Ismail yang pertama kali menawarinya berakting di film Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961). Sejak itu, ia pun “kecanduan” berakting hingga 1990-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepeninggal Rachmat, Slamet mengaku sangat kehilangan. Saat dihubungi CNN Indonesia lewat sambungan telepon (14/6), ia menyatakan menyesal tak sempat menziarahi rumah abadi Rachmat di permakaman keluarga di Bojongkunci, Kecamatan Banjaran, Bandung.
Sekalipun sibuk dan diburu waktu, Slamet tak keberatan meluangkan waktu sejenak untuk mengenang sang sahabat, terutama pengalaman tak terlupakan saat sama-sama membintangi film November 1928, yang disutradarai Teguh Karya.
“Rachmat itu aktor autodidak yang mengandalkan bakat alam, namun aktingnya tak kalah dengan aktor jebolan akademi,” kata Slamet. “Di lokasi syuting, ia sangat mementingkan suasana yang kondusif, menyenangkan, tanpa ada iri-irian.”
Lihat juga:Usmar Ismail, Sang Penggawa Sinema Indonesia |
Sebagai aktor, Rachmat sangat berdedikasi tinggi. Dikatakan Slamet, Rachmat sama sekali tak mengeluh sekalipun harus tinggal di Yogyakarta selama enam bulan untuk syuting November 1928 yang juga dibintangi aktris Yenny Rachman.
“Aktor ya melakukan tugasnya aktor: mencipta, jangan meniru,” Slamet menirukan kata-kata yang pernah dilontarkan Rachmat semasa muda. Kini, Indonesia kehilangan sang aktor yang disiplin dan penuh dedikasi. Selamat jalan, Rachmat Hidayat. (vga/vga)