"Momen yang paling berkesan itu ketika menjelang buka puasa. Karena di meja dapur sudah pasti tersedia berbagai makanan," kata Meisya ketika ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Ibunda Meisya memang gemar dan ahli memasak. Hidung Meisya sangat akrab dengan wangi sedapnya makanan sang ibunda. Ia juga sudah biasa melihat kekacauan dapur rumah sedari kecil. Kunonya dapur legendaris itu kini menjadi kenangan tak ternilai baginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski sederhana, tetapi yang dihasilkan dari dapur itu tidak ada yang mengalahkan," kata Meisya mengungkapkan.
Bagi istri Bebi Romeo itu, makanan-makanan itu merupakan ganjaran puasa ternikmat yang pernah ia rasakan semasa kecil.
Sampai sekarang pun, resep tersebut masih suka dimasak oleh sang ibunda untuk Meisya sekeluarga. Tetapi karena Bebi tak tahan pedasnya cabai, maka makanan itu menjadi seutuhnya milik Meisya. Bebi jarang menyentuh.
"Bebi kan mulut Jawa. Bagi dia terlalu pedas, dan memang ada pantangan makan pedas, tapi dia tetap ketagihan meski kepedasan." kata Meisya.
(rsa/rsa)