Generasi 'Millenials' Jatuh Bangun Mencari Identitas

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2015 07:51 WIB
Generasi 'Millenials' Jatuh Bangun Mencari Identitas Ilustrasi kaum muda Indonesia. (Detikcom Free Watermark/Hasan Alhabshy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Generasi muda menghadapi segenap persoalan sesuai eranya. Kini, generasi muda antara lain dihadapkan pada persoalan identitas. Hal inilah yang menarik perhatian pemikir budaya populer dan dosen Australian National University Ariel Heryanto.

Kemarin (2/7), sang guru besar meluncurkan buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Buku kajian budaya populer ini diluncurkan, pada Kamis  di Beranda Kitchen, Kebayoran Baru.

Dalam diskusi peluncuran bukunya tersebut, Ariel menyoroti pentingnya peran anak muda sebagai agen perubahan dan kemajemukan Indonesia. Ia menyoroti pentingnya generasi muda memanfaatkan waktu sebelum tua dan "habis."


"Jadi inti utama dari buku ini adalah menunjukkan dari segi sejarah bahwa Indonesia itu kaya dengan kemajemukan. Kemudian kita mengalami Orde Baru atau Orba di mana segala hal itu ditunggalkan. Nah, sesudah Orba runtuh, anak muda ini energinya berlipat dan melakukan pencarian yang tidak tunggal, itu yang saya tulis di buku saya. Jatuh bangunnya mereka," papar Ariel.

Ariel berpendapat bahwa Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia adalah usahanya memahami pergerakan millenials atau generasi muda yang beranjak besar di era milenium. Perjuangan pencarian identitas yang berkenaan dengan semangat global menjadi poin penting buku Ariel.

"Upaya-upaya ini seringkali enggak bisa dipahami atau terabaikan oleh ahli maupun generasi tua, karena patokannya sudah lain. Berjuang untuk mencari identitas yang bermakna bagi anak muda, di tengah zaman yang enggak jelas dan kegagalan orang tua.

"Kegagalan tersebut entah karena meremehkan anak muda, atau menindas anak muda, itu dugaan saya. Dulu, orang tua saya zamannya ikut revolusi, zaman saya itu make love not war, kalau sekarang itu belum jelas. Defisit ideologi," tutur Ariel.

Ariel menilai defisit ideologi ini memicu generasi muda mencari wadah identitas. Energi anak muda yang berlimpah dan keinginan untuk terlibat dalam gerakan global mendorong generasi muda untuk mencari wadah sendiri.

"Dugaan saya, kalau anak muda itu energinya berlimpah, mau enggak mau terlibat dan masuk dalam gerakan global," katanya. "Boleh orang mengatakan, 'think globally, act locally,' namun sejak saya muda, gerakan-gerakan anak muda global itu sudah ada."

Nah, menurut Ariel, sekarang itu enggak ada wadahnya. "Mau masuk Senayan, wah, isinya orang tua-tua dan brengsek semua. Enggak ada tempat buat anak muda yang bisa menyalurkan energinya dengan cara yang dianggap sah dan bermoral menurut ukuran anak muda," jelas Ariel. Pada akhirnya, K-Pop dan ISIS menjadi contoh wadahnya.

Masa krisis seperti sekarang, dalam pandangan Ariel, harus dilihat dari kacamat positif, bahwa kesegaran ide dan peluang baru datang dari krisis dahulu. Ideologi apa pun dapat masuk dan tidak hanya ditelan mentah-mentah. Bahkan mentalitas poskolonial yang xenophobic pun, menurutnya, dapat perlahan dikikis lewat pembongkaran sejarah.

"Wajah-wajah di iklan misalnya, banyak yang asing, tapi juga dimaki-maki karena masih minder. Ada kontradiksi, kecemburuan dan kekaguman."

Dikatakan Ariel, ada hal yang tak bisa diceritakan dan membuat kita pilu, tapi sejarah harus dibongkar. Kita sudah sejauh ini tapi penguasa takut akan kekayaan sejarah, jadi disimplifikasi hanya untuk menguatkan mereka saja.

"Untuk sementara, jawaban yang paling simpel adalah kita harus bongkar kembali sejarah" katanya. "Di luar pelajaran resmi teks sejarah, Anda akan jauh lebih bangga pada Indonesia."

(vga/vga)