Memanasnya Tren Komik Lokal Anak Negeri

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2015 13:56 WIB
Memanasnya Tren Komik Lokal Anak Negeri Sejumlah komik di Comic Con 2015. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bila yang gemar membuka media sosial, beberapa tahun terakhir marak komik strip yang beredar menghibur para netizen.

Bukan pencitraan, komik-komik strip yang kebanyakan buatan komikus lokal tersebut sebenarnya bagian dari kebangkitan komik karya anak negeri.

"Sebenarnya kondisi komik lokasi sendiri tengah hangat-hangatnya, mulai meningkat," kata Sunny Gho, CEO Kosmik, penerbit komik lokal, kepada CNN Indonesia saat ditemui di Jakarta Comic Con JIExpo Kemayoran, Jumat (26/9).


Sunny yang merupakan pewarna komik Marvel ini mengatakan hal tersebut lantaran kondisi komik Indonesia sekarang berbeda jauh ketimbang periode 2000 hingga 2009, yaitu saat seluruh penerbit tak ingin menerbitkan komik lokal.

Para penerbit besar kala itu menganggap komik lokal tak menarik dan tak menjual seperti Captain Tsubasa, Slam Dunk, One Piece, ataupun Naruto.

Hingga pada 2009 muncul sebuah komik lokal bernama Garudayana yang merupakan hasil inisiasi sebuah penerbit lokal yang mulai mengubah suhu komik lokal.

Garudayana sejatinya adalah komik yang menceritakan kisah Gatot Kaca namun dengan gambar ala komik Jepang yang bermata bundar, tampan ataupun cantik, berhidung indah, dan enak dipandang. Garudayana laris di pasaran.

Sejak saat itu, para penerbit mulai menerbitkan komik lokal. Kini, seluruh penerbit memiliki komik lokal andalannya masing-masing. Lalu, mengapa Garudayana dapat mengubah pasar komik?

"Kisah yang lokal memiliki koneksi dengan pembaca lokal, kisah tersebut lebih 'ramah' bagi pembaca. Dan bila mengetahui komik bagus tersebut dari Indonesia, muncul kebanggaan di dalamnya," kata komikus yang mulai bergelut sejak 2002.

Meski tengah berada dalam hangatnya suasana cinta komik lokal, namun kondisi ini masih cukup jauh tertinggal bila ingin menyusul komik Jepang yang sudah ada sejak 1940.

Berdasarkan pemaparan Sunny, komik Indonesia baik berupa produksi judul ataupun hasil pemasaran komik, hanya sekitar satu persen dari capaian komik di Jepang.

Komik Si Juki, salah satu komik lokal ini terbilang sukses karena dapat menjual lebih dari 30 ribu eksemplar sekali terbit.

Namun, bila dibandingkan dengan One Piece buatan Jepang, komik tentang kisah bajak laut itu terbit hingga satu juta eksemplar sekali terbit, dan hanya di Jepang.

"Makanya di Jepang, komik One Piece, Naruto, dan Bleach itu tidak boleh tamat berbarengan karena industri kertas di Jepang akan menurun drastis hingga separuhnya," papar Sunny.

Menurut Sunny, Indonesia kini sudah berhasil merilis 15 judul baru setiap bulannya. Hal ini jelas kemajuan dibanding nihil pada 2008, dan 10 judul per tahun saat 2010.

Menjalankan komik lokal ternyata membutuhkan usaha yang cukup keras. Selain dibebankan syarat keberlangsungan komik yaitu sekitar 3000 eksemplar sekali terbit, para komikus di Indonesia dituntut memiliki kemampuan mengenali pasar.

Bila berkaca pada induk komik yang dominan di Indonesia, Jepang, komikus hanyalah bertugas membuat cerita dan konsep gambar. Sedangkan penyesuaian dengan pasar beserta turunan Intellectual Product (IP) dikerjakan oleh tim tersendiri.

Di Negara Matahari Terbit itupun, komikus kadang diberikan arahan guna menyesuaikan cerita agar dapat laris di pasaran. Berbeda jauh dengan di Indonesia, yang kadang komikus meriset sendiri dan terus mencoba menemukan keinginan pasar agar karyanya tak sia-sia.

"Salah satunya adalah penggunaan media sosial, kalau di Indonesia, bila komik sudah laris di internet dapat berupa terkenal atau dibaca secara daring, 90 persen pembaca akan membeli versi cetaknya," kata Sunny.

Trik ini sukses diterapkan oleh Faza Meonk dengan Si Juki. Komik Si Juki versi cetak laris manis meski sudah terbit versi gratis dan lengkap dalam media sosial.

Namun trik di Indonesia ini tak dapat diterapkan di Amerika Serikat dan Jepang. Di Amerika, ada pihak yang tak mengizinkan untuk adanya komik versi daring, tapi ada juga yang merilis versi daring dengan ketentuan tertentu.

Di Jepang, tak akan dapat beredar komik dengan versi daring secara gratis. Bila pembaca lebih memilih untuk daring, maka mereka harus membelinya dengan harga lebih murah sedikit dibanding versi cetak.

"Ya di Indonesia, komikusnya harus lebih keras sedikitlah." kata Sunny.