Menjelajah Luar Angkasa Bersama Hollywood atau NASA?

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2015 15:07 WIB
Menjelajah Luar Angkasa Bersama Hollywood atau NASA? Matt Damon dalam film The Martian. (Dok. Fox)
Jakarta, CNN Indonesia -- Entah berapa kali National Aeronautics and Space Administration alias NASA disebut-sebut dalam film Hollywood. Setahun terakhir saja, ada Interstellar, Tomorrowland, dan The Martian yang melibatkan nama NASA di filmnya.

Keterlibatan NASA di Hollywood ternyata sudah lama. Saat Armageddon dirilis pada 1998, beredar kabar bahwa NASA ikut menyeleksi perekrutan kru dan bintang. Sebab, awalnya Armageddon muncul dengan segudang teori tentang luar angkasa yang ternyata salah.

Mengutip The Guardian, film yang dibintangi Bruce Willis itu mengandung 168 kemustahilan ilmiah. Kesalahan itu termasuk benda luar angkasa yang lepas landas seperti pesawat dari asteroid, gravitasi di stasiun luar angkasa, dan ledakan yang bisa melenyapkan Texas.


Dalam film terbaru yang mengisahkan Matt Damon berjuang hidup sendiri di Mars, The Martian keterlibatan NASA lebih mendalam lagi. Sutradara Ridley Scott bahkan merekrut ilmuwan-ilmuwan penting NASA, seperti Jim Green, Kepala Ilmu Planet NASA dan Rudi Schmidt, mantan manajer proyek agensi luar angkasa Eropa, Mars Express untuk film itu.

Bukan hanya itu. NASA bahkan membuka kantornya untuk media saat mempromosikan The Martian. Mereka juga menyampaikan dalam situs web resminya, teknologi apa saja yang ada dalam The Martian dan benar-benar dimiliki NASA.

Baru-baru ini, NASA bahkan ikut menulis bagaimana melindungi astronaut dari radiasi luar angkasa saat di Mars, dengan gambar Damon sebagai Mark Watney di salah satu adegan film.

Sehingga, film yang diadaptasi dari novel fiksi karena Andy Weir itu disebut-sebut lengkap soal akurasi ilmiah. Mulai dari proses yang diperlukan untuk membuat air dari bahan bakar roket sampai fungsi dari toilet, sudah melewati tahap uji dari para ilmuwan NASA.

Meski, dalam buku aslinya Weir sudah sangat detail soal teknik. Tak heran buku itu disukai NASA. Lembaga peneliti luar angkasa itu mengaku dengan senang hati membantu The Martian saat dihubungi Scott, pada tahun lalu.

"Ketika kami membaca buku fiksi ilmiah, kami memvisualisasikan itu seperti diri kami. Sekarang Ridley akan memvisualisasikan itu untuk semua orang," kata Green, yang dalam The Martian sepadan dengan karakter Chiwetel Ejiofor.

NASA menjawab segala pertanyaan mulai dorongan ion sampai pola cuaca di Mars. Mereka mengajak penulis dan sutradara The Martian tur keliling kantornya, menunjukkan prototipe teknologi yang akan digunakan untuk ke Mars di film itu.

Keistimewaan itu tidak didapat Interstellar dan Gravity, film sebelumnya tentang luar angkasa, yang tidak dibantu NASA. Namun NASA membantah pihaknya pilih-pilih film. Bagian relasi media NASA, Bert Ulrich mengaku banyak membantu film. Ia mengerjakan 100 dokumenter dalam setahun, belum ditambah film panjang.

Salah satu teknologi yang dibantu NASA dalam film The Martian. (Dok. Fox)
Film yang tidak terlalu serius soal sains pun mereka bantu. Seperti Apollo 13, Men in Black III, Transformers III, dan Armageddon. Dan tidak seperti militer AS, NASA tidak menyensor skenario maupun harus mendampingi film dari awal sampai akhir. NASA mengaku hanya mencoba memenuhi aturan tahun 1958 soal tugasnya.

Menurut aturan itu, NASA harus mempublikasikan aktivitas mereka sebanyak mungkin, sehingga "Proyek film, televisi, serta dokumenter adalah cara terbaik mengungkapkan cerita kami," menurut Ulrich dalam The Guardian.

Prinsipnya, semakin banyak NASA membantu dan mempromosikan film, film itu akan balik mempromosikan NASA. Apalagi film butuh banyak bantuan soal akurasi teori dan teknologi.

NASA juga bisa "memanfaatkan" momentum film. Misalnya, dengan mengumumkan penemuan air di Mars, saat The Martian yang menceritakan astronaut kesulitan mencari air di Mars, akan rilis. Meskipun, NASA membantah soal itu.

"Tidak, waktu soal pengumuman itu menyesuaikan rilisnya artikel tentang geosains alami, yang baru terbit hari ini," kata juru bicara NASA, Laurie Cantillo kepada The New Daily.

Namun prinsip itu tidak selamanya berlaku. Dalam beberapa film, NASA bisa saja dijelek-jelekkan. Tomorrowland misalnya, menjadikan NASA sebagai biang keladi atas kehancuran dunia. Interstellar juga mengesankan NASA tidak transparan serta membohongi manusia.

Meski begitu, film telah meringankan tugas NASA untuk "membawa" manusia ke luar angkasa. Film Hollywood, yang begitu luar biasa soal pengambilan gambar serta efek, juga telah melambungkan harapan masyarakat untuk mengintip kondisi di luar Bumi, entah itu Mars atau planet lain, meski sekadar buatan.

Film Hollywood tentang luar angkasa yang jelas-jelas fiktif—sekalipun penggarapannya didukung NASA—cenderung lebih menarik ketimbang film dokumenter kerja nyata NASA sendiri, seperti film dokumenter Pluto yang dibuat selama sembilan tahun dan baru-baru ini dirilis dirilis via YouTube. (rsa/vga)