Kepada CNN Indonesia, Sabtu (24/10), Oppenheimer mengatakan pembatalan ini adalah salah satu pukulan terkeras bagi kebebasan berpendapat di Indonesia, setidaknya sejak peringatan 50 tahun peristiwa G30S.
"Sangat menjengkelkan, dan saya khawatir tindakan ini adalah upaya militer dan kekuatan bayangannya untuk memperoleh kembali kekuasaan, sebuah upaya untuk mengintimidasi dan membungkam publik," kata Oppenheimer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu 70 personel polisi mendatangi tempat penayangan film dan mengatakan hendak mengamankan para penonton. Namun, kata Oppenheimer, dia tidak begitu saja percaya.
Pada saat yang sama, kata Oppenheimer, Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya justru merestui pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI yang diselenggarakan FPI.
"Lagi-lagi ini membuktikan apa yang kita semua tahu, bahwa kelompok paramiliter adalah bagian dari kekuatan bayangan tentara dan polisi,” ujar Oppenheimer.
Deretan acara bertema 1965 yang dibatalkan panitia UWRF meliputi tiga diskusi panel, pemutaran film Senyap, pameran, dan peluncuran buku. Tiga diskusi yang dibatalkan berjudul 1965, Bearing Witness; 1965, Writing On; dan 1965, Bali.
Secara terpisah, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Nur Khoiron mengatakan sentimen anti-Partai Komunis Indonesia masih kuat, termasuk di kalangan Tentara Nasional Indonesia. Hal ini dinilai menjadi salah satu intimidasi terhadap kegiatan pengungkapan peristiwa 1965 di berbagai daerah.
Klaim tak intervensi
Kapolres Gianyar Ajun Komisaris Besar Farman menyatakan pembatalan sesi 1965 di UWRF dilakukan oleh panitia sendiri, bukan Kepolisian.
“Tidak ada intervensi dan larangan. Kami (Kepolisian) sifatnya mengimbau, mengingatkan. Ini kan festival sastra dan budaya yang sudah berjalan 12 tahun. Tapi kenapa baru sekarang mau mengangkat masalah PKI,” ujar Farman.
“Apa betul untuk memperingati 50 tahun PKI? Warga Indonesia kenapa harus memperingati PKI? Kenapa enggak memperingati Indonesia merdeka? Sastranya mau mengarah ke mana?” kata Farman.
Apapun, panitia mengatakan memilih untuk “Mengalah demi kelangsungan Festival ke depannya.” (agk)