Eka Kurniawan: Ada Gelombang Antikomunis Baru di Indonesia

Anggi Kusumadewi, Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Minggu, 25/10/2015 20:01 WIB
Eka Kurniawan: Ada Gelombang Antikomunis Baru di Indonesia Eka Kurniawan. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Eka Kurniawan, salah satu penulis yang dijadwalkan mengisi diskusi panel “1965, Writing On” di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), kecewa dengan pembatalan seluruh sesi bertema 1965 pada acara yang akan dihelat 28 Oktober-1 November itu.

“Ini sangat menyedihkan, menjengkelkan, dan membuat frustasi. Setelah 17 tahun Reformasi, bangsa ini sekarang mundur ke belakang menuju Orde Baru dan pengekangan kebebasan berpendapat,” kata Eka kepada CNN Indonesia, Minggu (25/10).

Penulis novel Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau tersebut berpendapat otoritas mencari-cari alasan untuk meniadakan sesi 1965. “Ada semacam gelombang atau rezim antikomunis baru di Indonesia, dan polisi adalah bagian dari pemerintah,” kata dia.
Eka diberi tahu soal pembatalan sesi 1965 pada UWRF ketika baru mendarat di Jakarta setibanya dari Frankfurt Book Fair, Jerman –pameran buku terbesar di dunia. Pada pameran itu, Indonesia menjadi tamu kehormatan dan tema 1965 didiskusikan terbuka di dalamnya.


Ini menambah rasa kesal Eka. “Baru satu minggu yang lalu di Frankfurt, Indonesia di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membahas persoalan 1965 secara terbuka. Sekarang di Indonesia justru begini,” ujarnya.

Tema 1965 menguat karena tahun ini bertepatan dengan peringatan G30S. Di Frankfurt Book Fair, dua penulis perempuan Indonesia, Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, mendiskusikan novel karya mereka, Pulang dan Amba, yang berlatar peristiwa 1965.

Pada 1965, pembunuhan massal terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang dipicu oleh peristiwa G30S, yakni tragedi berdarah pada 30 September malam di mana tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh.
Semula, “1965, Writing On” pada UWRF akan mengeksplorasi efek kekerasan antargenerasi.  Sedianya acara itu akan diisi oleh Eka Kurniawan, penulis yang kerap disandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer; Ayu Utami, penulis peraih Prince Claus Award 2000; Linda Christanty, penulis dan wartawan peraih Southeast Asian Writers Award 2013; Putu Oka Sukanta, penulis yang pernah ditahan 10 tahun pada 1966-1976 tanpa diadili karena bergabung dengan organisasi seni sayap kiri Lekra; dan Adrian Vickers, pakar Indonesia modern dan budaya Bali.

Pintu kebebasan berpendapat ditutup

Inisiator sekaligus Direktur UWRF Janet DeNeefe menilai pembatalan sesi 1965 sebagai hambatan besar bagi kebebasan berpendapat di Indonesia.

Dalam tulisannya yang dimuat Sydney Morning Herald, DeNeefe mengatakan beberapa tahun belakangan Indonesia sesungguhnya sudah mulai terbuka soal tragedi pembantaian massal yang mengikuti peristiwa G30S 1965.

"Banyak karya soal 1965 diterbitkan, diluncurkan,dan didiskusikan dalam festival. Pintu (menuju kebebasan berpendapat) sebenarnya perlahan sudah mulai terbuka, tapi kini justru kembali ditutup oleh kekuatan besar," ujarnya.

DeNeefe sangat kecewa. Ia percaya berbagai pihak menganggap aksi ini sebagai bukti ketakutan pemerintah untuk menghadapi tragedi berdarah tersebut.

Dia juga meminta maaf kepada pihak yang batal tampil di UWRF, dan berpendapat hal ini bakal menarik perhatian lebih luas dari dunia internasional.
DeNeefe pun yakin para penulis Indonesia tak akan tinggal diam. “Karena mereka adalah orang-orang yang menulis untuk dapat didengar, yang akan berjuang untuk mengungkap kebenaran," ujarnya.

Sementara Kapolres Gianyar Ajun Komisaris Besar Farman menyatakan pembatalan sesi 1965 di UWRF dilakukan oleh panitia sendiri, bukan Kepolisian.

“Tidak ada intervensi dan larangan. Kami (Kepolisian) sifatnya mengimbau, mengingatkan. Ini kan festival sastra dan budaya yang sudah berjalan 12 tahun. Tapi kenapa baru sekarang mau mengangkat masalah PKI,” ujar Farman.
“Apa betul untuk memperingati 50 tahun PKI? Warga Indonesia kenapa harus memperingati PKI? Kenapa enggak memperingati Indonesia merdeka? Sastranya mau mengarah ke mana?” kata Farman.

Panitia UWRF mengatakan diskusi soal 1965 sesungguhnya untuk menghormati para korban. Namun panitia akhirnya memilih untuk “Mengalah demi kelangsungan Festival ke depannya.”

(agk/agk)




ARTIKEL TERKAIT