“Ini sangat menyedihkan, menjengkelkan, dan membuat frustasi. Setelah 17 tahun Reformasi, bangsa ini sekarang mundur ke belakang menuju Orde Baru dan pengekangan kebebasan berpendapat,” kata Eka kepada CNN Indonesia, Minggu (25/10).
Penulis novel Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau tersebut berpendapat otoritas mencari-cari alasan untuk meniadakan sesi 1965. “Ada semacam gelombang atau rezim antikomunis baru di Indonesia, dan polisi adalah bagian dari pemerintah,” kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tema 1965 menguat karena tahun ini bertepatan dengan peringatan G30S. Di Frankfurt Book Fair, dua penulis perempuan Indonesia, Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, mendiskusikan novel karya mereka, Pulang dan Amba, yang berlatar peristiwa 1965.
Pintu kebebasan berpendapat ditutup
Inisiator sekaligus Direktur UWRF Janet DeNeefe menilai pembatalan sesi 1965 sebagai hambatan besar bagi kebebasan berpendapat di Indonesia.
Dalam tulisannya yang dimuat Sydney Morning Herald, DeNeefe mengatakan beberapa tahun belakangan Indonesia sesungguhnya sudah mulai terbuka soal tragedi pembantaian massal yang mengikuti peristiwa G30S 1965.
"Banyak karya soal 1965 diterbitkan, diluncurkan,dan didiskusikan dalam festival. Pintu (menuju kebebasan berpendapat) sebenarnya perlahan sudah mulai terbuka, tapi kini justru kembali ditutup oleh kekuatan besar," ujarnya.
DeNeefe sangat kecewa. Ia percaya berbagai pihak menganggap aksi ini sebagai bukti ketakutan pemerintah untuk menghadapi tragedi berdarah tersebut.
Dia juga meminta maaf kepada pihak yang batal tampil di UWRF, dan berpendapat hal ini bakal menarik perhatian lebih luas dari dunia internasional.
Sementara Kapolres Gianyar Ajun Komisaris Besar Farman menyatakan pembatalan sesi 1965 di UWRF dilakukan oleh panitia sendiri, bukan Kepolisian.
“Tidak ada intervensi dan larangan. Kami (Kepolisian) sifatnya mengimbau, mengingatkan. Ini kan festival sastra dan budaya yang sudah berjalan 12 tahun. Tapi kenapa baru sekarang mau mengangkat masalah PKI,” ujar Farman.
Panitia UWRF mengatakan diskusi soal 1965 sesungguhnya untuk menghormati para korban. Namun panitia akhirnya memilih untuk “Mengalah demi kelangsungan Festival ke depannya.”