Dalam konferensi pers di Ubud, Bali, Rabu (28/10) Ketua Program Nasional UWRF 2015 I Wayan Juniarto yang akrab dipanggil Jun mengatakan tidak semua sesi itu diganti.
Ada beberapa yang sengaja dibiarkan kosong, bukan karena panitia sudah kelelahan mencari pengganti dalam waktu singkat, yakni sekitar satu minggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini seperti pengingat," ia menegaskan.
"Kebebasan bicara itu bukan pemberian, tapi harus diperjuangkan," ujar Jun menegaskan. Ia sendiri tak langsung mengiyakan saat pihak berwenang lokal memberi masukan agar sesi-sesi bertema sensitif dalam UWRF 2015 tidak diselenggarakan. Ada diskusi panjang dan negosiasi selama sekitar tiga minggu.
Namun pada akhirnya, UWRF tetap harus tunduk pada peraturan. Meski begitu, ke depannya Jun akan tetap memperjuangkan kebebasan berbicara dan berdiskusi, termasuk soal tema-tema sensitif itu.
"Ini waktu berdiskusinya pendek. Panitia perlu lebih membuka kanal-kanal informasi, lebih punya banyak waktu untuk menjelaskan bahwa ini hanya platform dialog sehat," katanya saat berbincang dengan CNN Indonesia usai konferensi pers.
Diakui Jun, panitia pun mendapat hikmah dari pembatalan beberapa sesi acara itu. Diakui atau tidak, masih ada jurang persepsi di Indonesia.
"Kelompok sastrawan dan pembaca biasanya menengah atas, kelompok intelektual. Kadang hal yang dipahami kelompok kelas ini belum tentu dipahami kelompok lain. Bukan soal kecerdasan, tapi perbedaan dalam tahap akses terhadap informasi," katanya bijak. Diperlukan jembatan untuk itu.
Perlahan, ia berjanji UWRF akan membangun jembatan-jembatan yang diperlukan bukan hanya kepada pemerintah atau kepolisian, tetapi juga seluruh kalangan masyarakat agar lebih terbuka. (rsa/utw)