Sesi Ubud Writers yang Batal Dibiarkan Kosong untuk 'Tribute'

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 28/10/2015 18:43 WIB
Pembatalan beberapa sesi di ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) dipastikan tak akan diganti dengan kegiatan lain. Berikut alasan penyelenggara. Beberapa pelaku dunia sastra berkumpul di ajang Ubud Writers and Readers Festival. (Dok. Ubud Writers & Readers Festival/Anggara Mahendra)
Ubud, CNN Indonesia -- Sebelum resmi dibuka, setidaknya sudah delapan sesi bertopik sensitif dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 dibatalkan. Bukan hanya tentang peristiwa 1965, panitia juga membatalkan sesi diskusi tentang reklamasi Bali.

Dalam konferensi pers di Ubud, Bali, Rabu (28/10) Ketua Program Nasional UWRF 2015 I Wayan Juniarto  yang akrab dipanggil Jun mengatakan tidak semua sesi itu diganti.

Ada beberapa yang sengaja dibiarkan kosong, bukan karena panitia sudah kelelahan mencari pengganti dalam waktu singkat, yakni sekitar satu minggu.


Sesi yang dibiarkan kosong, menurut Jun justru merupakan pengingat atau tribute. "Kami membiarkannya kosong selama acara untuk mengingatkan orang-orang bahwa kami sudah bekerja keras dan ternyata itu harus dibatalkan," tuturnya.

"Ini seperti pengingat," ia menegaskan.

Dengan adanya sesi yang bolong itu, orang-orang akan memikirkan soal kebebasan bicara yang masih belum bisa disamaratakan untuk semua kalangan.

"Kebebasan bicara itu bukan pemberian, tapi harus diperjuangkan," ujar Jun menegaskan. Ia sendiri tak langsung mengiyakan saat pihak berwenang lokal memberi masukan agar sesi-sesi bertema sensitif dalam UWRF 2015 tidak diselenggarakan. Ada diskusi panjang dan negosiasi selama sekitar tiga minggu.


Namun pada akhirnya, UWRF tetap harus tunduk pada peraturan. Meski begitu, ke depannya Jun akan tetap memperjuangkan kebebasan berbicara dan berdiskusi, termasuk soal tema-tema sensitif itu.

"Ini waktu berdiskusinya pendek. Panitia perlu lebih membuka kanal-kanal informasi, lebih punya banyak waktu untuk menjelaskan bahwa ini hanya platform dialog sehat," katanya saat berbincang dengan CNN Indonesia usai konferensi pers.

Diakui Jun, panitia pun mendapat hikmah dari pembatalan beberapa sesi acara itu. Diakui atau tidak, masih ada jurang persepsi di Indonesia.

"Kelompok sastrawan dan pembaca biasanya menengah atas, kelompok intelektual. Kadang hal yang dipahami kelompok kelas ini belum tentu dipahami kelompok lain. Bukan soal kecerdasan, tapi perbedaan dalam tahap akses terhadap informasi," katanya bijak. Diperlukan jembatan untuk itu.

Perlahan, ia berjanji UWRF akan membangun jembatan-jembatan yang diperlukan bukan hanya kepada pemerintah atau kepolisian, tetapi juga seluruh kalangan masyarakat agar lebih terbuka. (rsa/utw)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK