Batal di Ubud Writers, Diskusi Reklamasi Bali Pindah ke Sanur

Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia | Sabtu, 31/10/2015 09:47 WIB
Batal di Ubud Writers, Diskusi Reklamasi Bali Pindah ke Sanur Aktivis lingkungan menggelar aksi 'Menolak Reklamasi Teluk Benoa' di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, 15 September 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ubud, CNN Indonesia -- Diskusi panel For Bali yang batal digelar di Ubud Writers & Readers Festival, tetap akan berjalan di luar kepanitiaan UWRF. Diskusi dijadwalkan berlangsung siang ini, 14.00-16.00 WITA, Sabtu (31/10), dengan perubahan lokasi, dari Ubud ke Sanur.

“Panitia UWRF berinisiatif membatalkan diskusi For Bali karena menurut polisi agenda ini menyalahi izin acara, yaitu festival seni dan budaya. Tapi di Sanur nanti kami diskusi biasa, tidak perlu izin macam-macam,” kata penulis dan aktivis sosial-politik Rudolf Dethu yang akan menjadi moderator diskusi tersebut, kepada CNN Indonesia.
For Bali menyoroti soal gerakan Tolak Reklamasi sebagai respons atas rencana reklamasi atau perluasan tanah seluas 700 hektare di Bali. Reklamasi yang disebut dilakukan dalam rangka pengembangan proyek raksasa itu mendapat penolakan luas dari masyarakat Bali karena menyasar hutan mangrove atau hutan bakau.

Padahal hutan bakau berperan penting untuk mencegah intrusi atau perembesan air laut ke daratan, mencegah erosi atau pengikisan permukaan tanah oleh aliran air, juga mencegah abrasi atau pengikisan permukaan tanah akibat empasan ombak laut.


Diskusi soal reklamasi ini berubah judul menjadi Reclamation & Social Movement, dan bakal digelar di Rumah Sanur Creative Hub, di bawah naungan ForBALI dan Rumah Sanur, bukan UWRF.

Narasumber yang semula ada tiga, kini berkurang satu. JRX atau Jerinx, drummer band Superman is Dead yang merupakan tokoh Bali kontemporer, tak jadi menghadiri diskusi ini. JRX sejak lama menolak rencana reklamasi pantai Bali. Dia terlibat aktif dalam demonstrasi menentang degradasi lingkungan dan budaya Bali.

Dua narasumber lainnya, Wayan Suardana dan Thorr Kerr, akan tetap hadir. Wayan yang dikenal dengan panggilan Gendo merupakan aktivis sosial dan lingkungan yang juga Ketua Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI). Dia pernah ditahan karena membakar foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam unjuk rasa di Bali pada Desember 2004.

Sementara Thor Kerr adalah dosen  di Departemen Studi Budaya dan Komunikasi Universitas Curtin, Perth, Australia. Buku terbarunya yang terbit tahun ini, To The Beach: Community Conservation and its Role in ‘Sustainable Develompent’, meneliti tentang dinamika gerakan sosial yang efektif terhadap reklamasi pantai untuk pembangunan properti.
Sampai saat ini, kata Dethu, rencana reklamasi pantai Bali belum terwujud karena terhambat soal AMDAL (analisis dampak lingkungan) yang merupakan syarat bagi suatu proyek yang diperkirakan akan memberi pengaruh terhadap lingkungan di sekitarnya.

“Sudah tiga tahun rencana reklamasi mentol di AMDAL. Kami (masyarakat) terus memantau,” ujar Dethu.

Terkait pembatalan diskusi For Bali di UWRF, Direktur UWRF Janet DeNefee yang merupakan pendukung gerakan Tolak Reklamasi, menyatakan keputusan pembatalan ini amat mengganggu setelah sebelumnya UWRF juga harus membatalkan seluruh acara bertema peristiwa 1965.
“Ini pukulan telak yang memunculkan kekhawatiran besar terkait seberapa besar otoritas lokal ingin menyensor bukan hanya isu 1965, tapi juga program kami keseluruhan,” kata dia.

Namun satu hal jelas, ujar DeNefee, mencoba menghentikan isu tertentu dibahas di festival ini sama saja dengan menggaungkan isu itu ke seluruh dunia.

(agk)