Toko Musik Tutup, Mau Beli di Mana?

Fadli Adzani , CNN Indonesia | Jumat, 06/11/2015 12:08 WIB
Toko Musik Tutup, Mau Beli di Mana? Ilustrasi rekaman fisik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nasib para kolektor rilisian fisik musik seperti CD, Kaset dan Piringan Hitam berada di ujung tanduk. Pasalnya, toko-toko musik di Jakarta dan juga Indonesia semakin langka ditemukan.

Kabar buruk lainnya datang dari toko musik Disc Tarra, yang dikabarkan akan menutup gerai musiknya dan hanya menyisakan delapan gerai saja di Indonesia.

(Baca juga: Dikabarkan Tutup, Disc Tarra Tebar Diskon Besar-besaran)

Masalah ini membuat para kolektor CD, kaset maupun piringan hitam mulai giat mencari toko-toko musik 'cadangan' untuk memuaskan dahaga mereka.

Hal itu dirasakan oleh Raja Muhammad Irfan, selaku kolektor CD dan piringan hitam.

"Toko musik besar di Indonesia, khususnya di Jakarta, mulai menghilang sedikit demi sedikit. Saya sebagai kolektor rilisan fisik harus mencari cadangan toko musik independen," ujar Irfan ketika dihubungi CNN Indonesia via telepon, Jakarta, Kamis (5/11).

Ia mengaku gemar mengunjungi Pasar Santa, Blok M dan Jalan Surabaya untuk mencari rilisan fisik berupa CD maupun piringan hitam.

"Ya paling kalau toko musik besarnya sudah mulai berkurang, saya cek ke toko-toko musik independen di Pasar Santa, Blok M atau Jalan Surabaya," tambahnya.

Pasar Santa sendiri menyimpan banyak toko musik independen yang menyediakan rilisan fisik seperti CD, kaset dan piringan hitam, yang disuguhkan oleh toko musik Substore, The High Fidelity Records atau Laidback Blues Store.

Ketiga toko musik independen ini menjual banyak macam rilisan fisik dari musisi lokal maupun mancanegara serta dalam berbagai bentuk.

Selain Pasar Santa, Jalan Surabaya juga dijadikan destinasi favorit para kolektor rilisan fisik, terdapat sekitar belasan toko musik independen yang berjejer di sana.

Namun sangat disayangkan, rilisan fisik musisi mancanegara biasanya sudah dalam kondisi bekas, namun masih layak dimiliki.

"Nggak masalah kok, walaupun sudah bekas, kondisinya juga masih bagus, dan jarang juga ditemukan di toko-toko musik besar," Irfan menceritakan.

Menurut Irfan, terdapat faktor-faktor yang mengakibatkan toko musik besar di Indonesia tidak bisa bertahan. Salah satunya adalah pembajakan yang marak di kalangan bawah.

"Dengan adanya pembajakan, ya masyarakat akan beli yang lebih murah, tidak peduli itu palsu atau bukan."

Selain pembajakan, di era digital ini masyarakat lebih memilih untuk menikmati musik melalui internet, yang lagi-lagi mengakibatkan turunnya konsumen toko musik.

"Masyarakat jadi banyak yang lebih milih streaming musik di internet, mereka nggak perlu repot-repot mengganti CD atau kaset," tegas Irfan sambil mengeluh.

Irfan pun berkeluh kesah tentang toko musik besar yang tidak menyediakan rilisan fisik seperti piringan hitam.

Beberapa tahun belakangan, piringan hitam menjadi pilihan favorit anak muda untuk mendengarkan musik. Selain tahan lama, piringan hitam juga indah untuk dikoleksi.

"Toko-toko musik besar tidak bisa mengikuti pasar anak muda sekarang ini, mereka lebih memilih piringan hitam daripada CD, hal itu juga membuat toko musik besar tidak bisa bertahan."