Fotografer Asal Negara Muslim Pertama yang Diakui Dunia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 10/11/2015 08:55 WIB
Fotografer Asal Negara Muslim Pertama yang Diakui Dunia Nabil Ghandi, fotografer asal Maroko. (Dok. Nabil Ghandi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Usia Nabil Ghandi masih sembilan tahun saat sang ayah membisikkan kata-kata yang tak ia mengerti. "Lihatlah dengan hati," katanya, tiap Nabil hendak menjepret dengan kamera.

Saat itu, ia hanya menggunakan kamera untuk bermain. Seperti anak lain memainkan boneka atau mobil-mobilan. Ayah Nabil punya begitu banyak kamera, mulai antik sampai modern. Maka pria Maroko itu pun akrab dengan kamera.

Tapi baru bertahun-tahun kemudian, setelah puluhan perjalanan dan usia yang terbuang, Nabil memahami maknanya. Ia tertular hobi sang ayah memotret. Kali ini tak sembarang.


Nabil banyak memotret lansekap dan manusia, namun tak sekadar yang indah-indah. Ia punya pendekatan berbeda. Bukan sekadar seni, ia juga melihat dan mengeksplor ke dalam nilai setiap hal yang dipotretnya.

Kelamaan ia menemukan identitas: fotografer pencinta antropologi dan seni. Ia banyak mengabadikan perjalanan dan orang-orang di dalamnya. Saat ke India misalnya, Nabil bukan memotret magisnya bangunan Taj Mahal.

Ia justru mengarahkan kameranya pada nenek yang membuka buku, kakek di pinggir jalan, atau anak-anak berbusana tradisional.

"Perempuan itu seorang sadhu, orang suci di India. Biasanya sadhu itu hanya laki-laki, dan mereka hanya melakukan hal-hal seperti meditasi," kata Nabil saat berbincang dengan CNN Indonesia di Ubud, Bali.

Ia mengaku terkejut saat mendapati ada sadhu perempuan saat sedang berjalan-jalan di Sungai Gangga, dan serius membaca. "Dia seperti anak kecil, mencurahkan perhatian pada apa yang dia lakukan," katanya.

Refleks Nabil mengambil kamera dan memotretnya. Ia memberinya judul: "We Can Always Learn." Foto itu hingga kini telah dipamerkan di banyak negara di dunia.

"Pernah di Wina Austria, New York, dan tentu saja Maroko," tutur Nabil. Foto yang sama juga sudah menghiasi dua antologinya.

Beranjak dewasa, Nabil memang tidak hanya membawa kamera ke Maroko saja. Ia bagai menjelajah dunia, terutama Asia. Memotret dengan hati, seperti pesan sang ayah.

"We Can Always Learn" karya Nabil Ghandi. (Dok. Nabil Ghandi)
Lewat gambarnya, pria 37 tahun itu ingin menyampaikan pesan perdamaian. Agar yang melihat fotonya merasa takjub dalam damai.

"Ketika saya memotret, saya selalu ingin mengedepankan estetika, nilai positif, dan sifat welas asih yang melekat pada semua hal, seperti lagu untuk hidup atau penghargaan untuk penciptaan," katanya.

Ia seperti ingin menyampaikan pada dunia, ada potensi yang tersimpan dan menunggu untuk dieksplor oleh mata yang teliti.

"Ketika kita bisa menyampingkan semua gagasan yang melekat pada moral, kondisi, dan prasangka, seolah objek itu masih 'perawan' dari semua definisi atau interpretasi manusia, itu akan menghasilkan gambar yang apa adanya. Karena mereka sudah sempurna dan indah."

Nabil banyak belajar soal itu saat dirinya "menenangkan diri" di India dan Nepal. Nabil merasa lebih bisa mengeksplor diri dan lingkungan setelah ia belajar menjadi terapis energi di sana, dari seorang Tibet.

Pesan damainya akhirnya tertangkap oleh Amerika. Sebuah penerbit besar, World Wide Art Books memasukkan Nabil ke dalam 100 fotografer terbaik dunia. Karyanya terpampang dalam International Masters of Photography edisi ke-dua, terbit 2014.

"Sebelumnya mereka merangkum 100 pelukis terbaik dunia. Dua tahun belakangan itu jadi 100 fotografer terbaik dunia," kata Nabil. Foto-fotonya dikurasi oleh Despina Tunberg dan disunting Thomas Tunberg.

Sebelum termaktub dalam buku bersampul hard cover edisi kolektor itu, karya Nabil juga telah mendapat banyak penghargaan. Sejak 2011 ia telah disebut talenta muda berbakat di Eropa, khususnya Maroko dan Perancis.

Trevisan International Award dari Italia pernah digenggamnya. Karyanya juga pernah masuk Museum of Young Arts di Wina, Austria.

Buku yang menyebut Nabil Ghandi sebagai salah satu fotografer terbaik dunia. (Dok. Facebook/Nabil Ghandi)
Karyanya pun pernah terpilih dibanding lebih dari tiga ribu fotografer dunia, untuk dipamerkan di Singapura. India, Austria, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat pun mengakui foto-fotonya.

Nabil berbangga sebagai fotografer pertama dari negara Muslim yang menembus kancah dunia. Namun uniknya, ia justru tak mau disebut sekadar seorang Muslim belaka.

"Saya tak ingin membatasi diri. Saya ingin membagi pesan cinta dari semua agama, sebagai manusia, meski saya lahir di lingkungan Islam," tutur Nabil menegaskan.

Sebulan belakangan, Nabil berkunjung ke Bali, Indonesia. Ini kali keempat dirinya menginjakkan kaki di Pulau Dewata. "Setiap ke sini, saya selalu bisa melihat diri saya akan hidup di sini," tuturnya saat ditanya alasan ia memutuskan kembali.

Ia juga tertarik belajar bahasa Indonesia.

Sembari mendapat izin turis sebulan di Bali, Nabil juga mengerjakan sebuah proyek buku. "Studi antropologi tentang suku-suku primitif dan misteri terapi di dunia, berawal dari Bali," ujarnya. Namun, itu butuh waktu.

"Saya sedang mencari penerbit yang sangat serius menyunting soal itu," lanjut Nabil.

Sementara itu, beberapa galeri di Bali juga mulai tertarik memamerkan karyanya. "Baru-baru ini saya juga diundang menerbitkan karya dalam buku Vanguard Visionaries bersama fotografer berbakat lainnya.

Buku itu akan segera dirilis dan tersedia di banyak negara, termasuk Indonesia. Karya-karya Nabil bisa dilihat di galeri ini, atau laman pribadinya.