Film garapan Stephen Chow yang juga dibintanginya itu terasa sangat Hollywood. Padahal, film itu merupakan kerja sama Sony Pictures Entertainment di Amerika dengan Jepang dan Hong Kong. Itu merupakan salah satu contoh sukses upaya koproduksi.
"Setelah film selesai, tim distribusi dan Sony akan melihat masing-masing pasar sebagai penonton filmnya, apakah film itu bakal sukses di daerah itu atau tidak. Dari situ kami membuat diskusi," ujar Chieko Murata saat wawancara dengan CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu dilakukan, karena pasar film Hollywood semakin kecil. "Di Jepang, pasar film Hollywood hanya 40 persen. Enam puluh persennya lokal. Di India, bahkan pasar film lokalnya 90 persen," ujar Chieko.
Ia melanjutkan, jika Hollywood terus melakukan penetrasi dengan filmnya sendiri, kelamaan akan kehilangan pasar. Film dan rumah produksi lokal lebih tahu pasarnya ketimbang Amerika. Mereka juga bisa digunakan memasarkan film. Karena itulah, koproduksi menjadi simbiosis mutualisme.
Meski terdengar seperti jalan pintas bagi film Indonesia, Chieko menilai itu belum bisa dilakukan di Negeri Khatulistiwa. Sebab, pasar film lokal Indonesia masih sangat sedikit dibanding film Hollywood. Chieko pun menilainya tidak stabil.
Belum lagi ribetnya mengurus kontrak persetujuan dan uang yang dikeluarkan. "Jika box office lokal saja tidak mendukung, itu semua tidak layak dilakukan," ujar Chieko menegaskan.
Tahun depan, ia justru akan bekerja sama dengan Vietnam. Sebab, pasar film lokal dinilai semakin kuat. Sementara di Indonesia, Hollywood masih bisa menghasilkan banyak uang dengan caranya sendiri, film-film superhero dan lainnya.
"Sebenarnya Indonesia punya ratusan film lokal dan kualitasnya meningkat. Banyak talenta berbakat, aktor, sutradara, saya pikir Indonesia punya talenta terbaik di kawasan ini," ujarnya berkomentar. Sayang, pasar film lokal belum mendukung itu semua.
Orang-orang masih lebih suka menonton film Hollywood, meski Chieko tak bisa memberi angka perbandingan pasti seperti di Jepang dan India. "Beberapa film ditonton banyak orang, seperti Laskar Pelangi dan Habibie & Ainun. Tapi tetap, tidak stabil," tuturnya.
Ia menegaskan, orang-orang harus haus akan film mereka sendiri ketimbang Hollywood.
Bukan hanya jumlah penonton, yang menurutnya juga menjadi masalah adalah jumlah bioskop. Tidak semua daerah di Indonesia terjangkau bioskop. Dengan demikian, tidak semua dari mereka pula bisa menonton film, termasuk buatan lokal.
"Setidaknya katakanlah kami butuh 200 juta penonton. Saya tahu, itu masih jauh. Tapi dengan populasi di Indonesia, seharusnya itu bisa dicapai, meskipun butuh waktu karena banyak kepentingan bisnis dalam struktur industri perfilman," ujar Chieko. (rsa)