Saya, Ayah dan 'Star Wars'
Arian Arivin | CNN Indonesia
Senin, 21 Des 2015 18:04 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Mata saya nyaris tidak berkedip menatap layar komputer. Di sana, sebuah halaman di website Hot Toys, sebuah perusahaan mainan yang ada di Hong Kong baru saja mengumumkan pre-order sebuah rilisan mainan: Boba Fett 1/4 Scale Collectible Figure.Boba Fett, bagi mereka yang mengikuti serial film Star Wars, adalah karakter yang sudah tidak asing lagi. Seorang pemburu bayaran (bounty hunter) yang hanya loyal kepada perjanjian kerja sama, dan termasuk kategori "cult favorite," apalagi dalam film sebenarnya Fett tampil tidak banyak dan hanya bicara empat lines dalam trilogi pertama.
Saya sudah cukup lama mengumpulkan berbagai macam mainan, aksesori, atau apa pun yang ada hubungannya dengan Boba Fett, karakter favorit saya. Dulu, sepertinya ingin mengumpulkan apa pun yang berbau Star Wars. Apa daya budget tidak memungkinkan, dan akhirnya saya memutuskan fokus mengkoleksi satu karakter saja, walau kadang keputusan sendiri ini dilanggar sesekali. Susah menahannya!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya juga masih ingat bagaimana sedihnya saya sepulang dari menonton The Empire Strikes Back bersama keluarga karena jagoan-jagoan saya dikalahkan oleh The Dark Side. Han Solo dibekukan, tangan Luke putus, dan Darth Vader ternyata adalah... argh! (Penggemar Star Wars akan tahu apa yang saya maksud).
Ayah saya (almarhum) adalah seorang yang cukup kaku dan kurang bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya. Tapi Star Wars (juga musik), menjadi jembatan komunikasi kami yang baik. Latar belakangnya sebagai seorang scientist membuatnya bisa menjelaskan banyak hal terkait Star Wars kepada saya. Star Wars menjadi sebuah ikatan yang mengeratkan hubungan ayah dan saya.
Mungkin karena kaitan dengan ayah saya itu yang kemudian di bawah alam sadar mendorong saya untuk menjadi fanboy Star Wars. Ada yang menggores di hati.
Tentu setelah tumbuh lebih dewasa saya bisa menilai dan mengerti mengapa saya menjadi fanboy. Star Wars bagi saya sudah menjadi satu kesatuan paket hiburan yang sempurna.
Pertama, desain dalam filmnya secara estetis keren dan klasik. Bagaimana imajinasi pesawat X-Wing atau Millenium Falcon dari tahun 1977 hingga kini tidak terasa kuno. Ini menjadikan nyaris tiap mainan yang diproduksi mereka menjadi selalu keren dan layak koleksi.
Lalu referensi-referensi kebudayaan Asia seperti versi futuristik dari film 7 Samurai, juga pengaruh dari film Sanjuro dan Yojimbo. Bahkan pengaruh Indonesia juga ada lewat pencak silat? Pencak silat diadaptasi menjadi sebuah jenis seni bela diri dengan nama Teräs Käsi. Darth Maul merupakan salah satu karakter yang mengunakan Teräs Käsi dalam duel lightsaber-nya.
Juga yang mengesankan adalah karakter-karakter utama yang unik: C3PO yang menjengkelkan dan cerewet tapi tulus. Han Solo, seorang yang sering kepedean tapi juga seorang bad boy. R2D2 yang cerdik dan ringan tangan. Leia, seorang putri yang bengal dan mandiri. Luke, kesatria Jedi muda dan ceroboh tapi juga seorang yang bisa belajar dengan cepat. Chewbacca yang setia dan sayang kepada Han Solo. Dan tentu saja Darth Vader sebagai tokoh antagonis yang mengerikan dengan dengus napasnya yang khas.
Referensi fasisme Nazi yang diadaptasi menjadi Galactic Empire juga menjadikan Star Wars semakin keren. Musik garapan John Williams yang kemudian menjadi musik ikonik, seperti The Imperial March yang selalu digunakan untuk menggambarkan kedatangan sesuatu yang jahat.
Tentu referensi saya adalah Star Wars trilogi pertama dalam pembuatan tetapi sebenarnya trilogi ke-dua dalam urutan ceritanya. Tentu saya sudah menonton semua episode Star Wars.
Kini episode terbaru Star Wars sudah dirilis, Star Wars: The Force Awakens. Saya senang melihat generasi fanboys old school Star Wars yang kini sudah berkeluarga menonton bersama anak-anak mereka. Saya membayangkan akan ada sebuah kedekatan orang tua dan anak terjalin seperti yang saya alami sekian tahun silam.
(dlp)