Joey Alexander Ucap Syukur untuk Orang Tua

Vega Probo, CNN Indonesia | Selasa, 22/12/2015 11:16 WIB
Joey Alexander Ucap Syukur untuk Orang Tua Joey Alexander (CNNIndonesia Internet/Dok. Joey Alexander)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wajah pianis cilik Joey Alexander tampak tertunduk malu-malu saat melakukan wawancara jarak jauh dengan jurnalis CNN TV Amara Walker, baru-baru ini, tentang nominasi Grammy Awards.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, pada awal Desember 2015, Joey menjadi musisi Indonesia pertama yang berhasil meraih nominasi Grammy Awards 2016 kategori Album Instrumental Jazz Terbaik.

Ketika itu, Joey sempat mencuitkan suka citanya via akun Twitter, “Two Grammy nominations…WOW…such a blessing. I thank God for giving me this wonderful gift of jazz piano and swing. And thanks to my fans!”


Kini, kepada Amara, lagi-lagi Joey menyatakan segenap perasaan setelah dinominasikan di ajang sekaliber Grammy, apalagi aksinya pun digemari pesohor dunia, dari Bill Clinton sampai Bill Crystal.

“Saya sangat terkejut tentu saja,” kata Joey kepada Amara. “Tak pernah terbayangkan saya bakal dinominasikan untuk Grammy, karena itu saya sangat bersyukur, dan tetap rendah hati.”

Saat disinggung soal para penggemarnya yang terdiri dari kalangan pesohor, termasuk Clinton dan Crystal, Joey sempat terkekeh, “Entah ya, saya tak pernah membayangkan hal itu.”

“Saya bersyukur kepada Tuhan berada di antara orang-orang ini,” kata Joey, “panitia Grammy yang memilih saya, juga para penggemar yang mendukung saya, dan terutama orang tua.”

Dalam wawancara tersebut, Joey menceritakan pengalaman belajar musik jazz secara autodidak dari orang tuanya, Denny Sila dan Fara. “Terutama ayah saya. Dia sangat menyukai jazz.”

Menurut Joey, sejak dirinya masih bayi, sang ayah selalu memperdengarkan lagu-lagu, antara lain yang dipopulerkan Louis Armstrong. Lalu, di usia enam tahun, ia mulai main piano.

Tanpa butuh waktu lama, di usia delapan tahun, Joey mendapat kesempatan berharga ber-jam session dengan pianis legendaris Herbie Hancock di Jakarta, juga tampil di Java Jazz Festival.

Setahun berikutnya, Joey memenangkan grand prize di Master-Jam Fest di Ukraina yang dijejali musisi dewasa. Sejak itu, namanya makin dikenal di kalangan penikmat dan pegiat jazz.

Setahun terakhir, ia diboyong orang tuanya ke New York, berbekal bantuan dari peniup terompet legendaris Wynton Marsalis. Di akun Facebook-nya, Marsalis memuji Joey sebagai “my hero.

Di Negeri Paman Sam, bakat Joey ditangani orang-orang yang tepat, termasuk dari Jazz at Lincoln Center. Mereka memberikan edukasi agar Joey tak sekadar piawai memainkan instrumen musik, juga mampu memberikan inspirasi bagi bocah lain seusianya.

Pada 2014 lalu, Joey tampil di sederet acara gala, seperti New York City for Jazz di  Rose Hall, The Jazz Foundation of America di Apollo, dan The Arthur Ashe Learning Center di Gotham Hall.

[Gambas:Youtube]


Berikutnya, pada Mei 2015, Joey merilis album musik My Favorite Things bersama label rekaman Motema Music. Joey memainkan lagu-lagu klasik, dari Coltrane sampai Rodgers & Hammerstein.

Album musik debut ini digarap bersama produser kaliber Grammy, Jason Olaine, juga pemain bass Larry Grenadier dan penabuh drum Ulysses Owens, beberapa musisi profesional lain.

Jelang pengujung wawancara jarak jauh dengan Amara di CNN TV, saat ditanya pendapatnya tentang julukan "jazz prodigy" yang diarahkan kepadanya, Joey menyatakan hal itu bukan masalah.

“Bagi, saya tak masalah disebut jazz prodigy, saya menghargai, saya ingin disebut musisi jazz saja,” kata Joey rendah hati, masih tertunduk malu-malu. “Saya selalu ingin menjadi musisi jazz.”

Sebelum menutup wawancara, Joey menyampaikan kata-kata untuk menyemangati bocah seusianya agar terus bermain musik, kelak menjadi lebih baik dan menampilkan bakat kepada dunia.

Joey yakin, selama masih muda dan mau bekerja keras, juga tak pernah mudah menyerah, maka selalu ada harapan untuk tampil gemilang. Semoga Joey kelak menggenggam piala Grammy pertamanya! (vga/vga)