Sitor Situmorang di Antara Sumatra dan Pasar Senen

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2016 02:50 WIB
Sitor Situmorang di Antara Sumatra dan Pasar Senen Pementasan "Pasar Senen, Sitor dan Harimau Tua" menandai satu tahun wafatnya penyair Sitor Situmorang, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Rabu, 20 Januari 2016. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua cerita mewakili identitas Sitor Situmorang dipentaskan. Harimau Tua mewakili kesumatraannya, dan Pasar Senen yang jadi tempat lahir karya-karyanya.

Lewat foto-foto hitam putih Pasar Senen sebagai latar panggung, penonton dibawa ke masa ketika Pasar Senen adalah pasar tradisional dengan kios-kios sederhana. Pasar yang di sekelilingnya juga hidup kelompok-kelompok lain.

Panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, pada Rabu (20/1) malam, sejenak menggemakan lagi keriuhan Pasar Senen usai Kemerdekaan dalam tajuk Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua. Acara ini menandai satu tahun wafatnya Sitor Situmorang (2 Oktober 1923-21 Desember 2014).

Di antara riuhnya seruan “Mesin tik bekas!” “Kebaya!” “Batik!” dan “Buku tulis!” terselip suara manja merayu, “Mari, Mas… monggo… kehangatan….”

Di tengah sahut-sahutan itu pula diskusi politik, ekonomi, dan kebudayaan berjalan panas. Digambarkan bioskop Grand yang pasti ramai pada bulan muda. Restoran Setia yang hanya berjarak 10 meter dari bioskop kecipratan ramai ketika Grand memutar film Melayu. Gedung-gedung pertunjukan kesenian tradisional pun terang pamornya. Semua hidup dan saling menghidupi.

Hingga Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengusung ide membangun Jakarta, Pasar Senen digusur untuk dibangun Proyek Senen. Peradaban Pasar Senen hilang seketika.

Kini Senen sudah lain suaranya. Tak ada lagi riuhya penjual kopi, singkong goreng, kusir, tukang delman, juga tak ada lagi teman seiring.

Pasar Senen tadinya satu ekosistem yang dibiarkan tumbuh dan mengalir, tiba-tiba diubah paksa. Sejak itu, berkali-kali Proyek Senen dibakar dan terbakar melewati pergantian demi pergantian penguasa.

“Apa sih pengetahuan kita untuk mengubah?” ujar perangkai teks pementasan ini, Afrizal Malna, usai pementasan.

“Kalau tidak punya pengetahuan untuk mengubah, ya jangan lakukan. Apalagi yang diubah itu suatu titik penting. Senen itu bukan diubah, tapi dihancurkan.”

Pementasan ke-dua, Harimau Tua, tak lepas dari mitos masyarakat Sumatra bahwa harimau, juga buaya, adalah nenek moyang mereka, karenanya masyarakat menyebut harimau adalah “nenek.” Harimau menimbulkan macam-macam imaji antara khayalan dan kenyataaan, dan aspek inilah yang dijadikan titik berat pertunjukan.

Selain dua pertunjukan itu, diputar juga rekaman video terakhir: Alpeldoorn, 2 November 2014. Video ini diambil Afrizal Malna saat berkunjung ke kediaman Sitor di Alpeldoorn, Belanda, satu setengah bulan sebelum Sitor tutup usia. Dalam video itu, Sitor yang menderita Alzheimer, sudah tak jelas lagi bicaranya.

Untuk mengenang kepergiannya, sang istri berencana menggelar pesta rakyat tahunan di kampung halaman Sitor di Harianboho, Sumatra Utara, untuk mengenang kepergiannya. Rencana ini diungkapkan istri Sitor, Barbara Brouwer, yang ingin membangkitkan budaya lokal Harianboho dengah melibatkan kelompok-kelompok kreatif kampung ini dalam pesta rakyat.

Barbara, perempuan Belanda yang fasih berbahasa Indonesia, memberi contoh, “Selama tiga hari ada workshop menulis, musik, dan teater untuk anak-anak, yang dilatih mahasiswa. Malam harinya mereka mempertunjukkannya di atas panggung, di depan umum.”

Keluarga Sitor juga tengah merencanakan membangun Rumah Budaya Sitor Situmorang di Harianboho. Di sana akan dijadikan tempat berlatih kesenian, diskusi budaya, perpustakaan, juga museum.

“Rumah Budaya ini dibuka untuk umum, bagi siapa saja yang ingin mengenal budaya agar diskusi budaya bisa seramai dan sebersemangat dulu di zaman Sukarno,” kata Barbara. Sekadar informasi, Sitor adalah penasihat kebudayaan Soekarno.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, yang malam itu hadir, menyatakan Sitor Situmorang tidak perlu pengakuan dan penghargaan karena justru masyarakat yang membutuhkannya.

“Namun ada bentuk penghargaan lain, yaitu dalam mengembalikan Sitor Situmorang dan sastra Indonesia ke sekolah,” ujar Hilmar.


(adt)