Dilema Penulisan Sejarah di Indonesia

Apriliana Lloydta Anuraga, CNN Indonesia | Rabu, 27/01/2016 19:26 WIB
Dilema Penulisan Sejarah di Indonesia Ceramah sejarah Taufik Abdullah di Jakarta, Selasa (26/1). (ANTARA FOTO/Dodo Karundeng)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejarah Indonesia sering dianggap "plintat-plintut." Tidak semua bisa dipercaya, apalagi setelah pada Orde Baru sejarah banyak "dipelintir."

Beberapa faktor menjadi penyebab kebimbangan sejarah. Pertama, soal informasi yang bertambah dari waktu ke waktu. Objektivitas penulis menjadi soal lain. Belum lagi perkara referensi.

Seperti diketahui, referensi sejarah di Indonesia seringkali tidak lengkap. Pengarsipan sangat lemah. Para peneliti dan penulis sejarah tak jarang dibuat lelah saat mencari arsip di Indonesia.


Sudah bukan rahasia jika arsip-arsip sejarah Indonesia tersebar di luar negeri. Terbanyak di Belanda, negara yang pernah 350 tahun menjajah Indonesia.

Sejarawan Taufik Abdullah pun memuji Belanda soal itu. "Saya sering katakan, walau orang Belanda itu kejam atau segala macam, tapi mereka mencatat apa yang terjadi dan disimpannya," ujar Taufik.

Sebaliknya, Indonesia disebut Taufik sebagai bangsa yang tidak suka mencatat. Itu berkaitan dengan tradisi. "Kita gak punya tradisi mencatat. Kita punyanya tradisi mengingat, itu saja masalahnya."

Dengan demikian, sejarah Indonesia kebanyakan merupakan hasil kenangan orang-orang yang mengalami peristiwa yang konon terjadi secara langsung.

Namun, sejarah memang bukan perkara kepastian. Taufik menegaskan, sejarah bukan untuk dihafal oleh generasi selanjutnya. Sejarah menyangkut kearifan.

"Maka harus belajar sejarah. Supaya tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi tahu juga kenapa itu terjadi," ujarnya.

Perkara terjadi simpang siur sejarah, itu patut dimaklumi, menurut Taufik. Sejarah, ia menambahkan, sejak awal memang hal yang selalu menghadirkan perdebatan. Ilmu sejarah dianggap sebagai disiplin yang berusah merekonstruksi peristiwa.

"Sejarah itu pada dasarnya bersifat perdebatan. Terutama ketika yang bersifat fakta itu sudah diselesaikan," ujarnya pada CNNIndonesia.com, Selasa (26/1).

Menurutnya, sejarah bisa memperbaiki dirinya sendiri. Dalam ilmu sejarah, terdapat accepted history. Itu bisa menjawab pertanyaan "apa, kapan, siapa, dan di mana pada kejadian pasti.

"Sedangkan, jawaban tentang 'bagaimana' dan 'mengapa' adalah wilayah ketidakpastian sejarah yang senantiasa harus memperbaiki dirinya," lanjutnya.

Sejarah juga memperhitungkan latar belakang penulisnya. Itu titik penting dalam historiografi. Seseorang yang berlatar belakang akademis, akan menulis sejarah dari sudut pandang akademis saja.

Orang lain bisa saja menuliskan sejarah dalam lingkup yang lebih luas. Maka kata Taufik, sejarah bukan hanya soal fakta. Melainkan ada pula tentang penilaian seseorang saat melihat fakta tersebut. (rsa/rsa)