Dalam video berdurasi sekitar empat menit itu, Coldplay tampak dikejar-kejar dan dilempari cat warna-warni, dominasinya merah. Coldplay seperti menjadi bagian dari masyarakat India yang menikmatinya.
Festival yang dimaksud termasuk suci bagi India. Dengan warna dominan merah mereka memberi simbol perayaan yang meriah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Video Coldplay memicu perdebatan di kalangan elite India yang berbahasa Inggris. Bukan sekadar soal video itu sendiri, mereka juga memperdebatkan kelayakan budaya India yang ditampilkan.
Apalagi baru-baru ini Beyonce pernah mengenakan riasan pengantin khas India. Namun Bey mengenakannya secara lebih modern dan terbuka, pun penuh warna. Perdebatan itu kebanyakan di media sosial.
"Kenapa orang kulit putih tidak bisa mengerti? India tahun ini bukanlah tanah dengan orang-orang penakluk ular. Itu stereotipe," penyiar televisi Zakka Jacob menulis dalam akun Twitter pribadinya.
Seorang profesional di bidang pemberdayaan manusia, Nidhi Kapur pun mengunggah pernyataannya melalui Twitter. Ia berpendapat, "Sepertinya mereka jatuh cinta pada semua hal klise tentang India."
[Gambas:Youtube]
Meski begitu, tidak semua orang India membenci video Coldplay. Pritish Nandy, politikus dan penyair India berkicau melalui Twitter-nya, "India yang luar biasa. India yang eksotis. Digambarkan dengan sangat indah dalam video klip terbaru @coldplay Hymn for the Weekend."
Kritik-kritik serupa pernah muncul saat Danny Boyle memenangi Oscar lewat film Slumdog Millionare pada 2008. Ia dikritik karena menggambarkan India dengan hal-hal negatif seperti kemiskinan dan korupsi.
Kritikus mengatakan, film itu hanya menunjukkan sisi negatif India. Slumdog Millionare seperti memberi lampu sorot yang semakin menonjolkan sisi negatif itu. (rsa/vga)