Srihadi, dari Pewarta Gambar hingga Ambasador Seni

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2016 08:15 WIB
Srihadi, dari Pewarta Gambar hingga Ambasador Seni Srihadi Soedarsono, sang seniman dengan laku roso. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bakat gambar dan intuisi roso membawa Srihadi Soedarsono selangkah demi selangkah masuk dalam sirkuit besar peradaban.

Lewat bakatnya, dia dikenal sebagai tokoh seni rupa Indonesia. Lewat gambar, dia menjadi pejuang, pahlawan, saksi sejarah didirikan dan diperjuangkannya Republik ini hingga menjadi ambassador seni rupa Indonesia di pentas seni rupa dunia.

Pameran bertajuk 70 Tahun Rentang Kembara Roso yang akan digelar pada 11-24 Februari 2016 di Galeri Nasional, Jakarta meliputi rekam jejak karya Srihadi Soedarsono sebagai pelukis besar—maestro—Indonesia.


Sepanjang 1959-1998, Srihadi adalah dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) dan diangkat sebagai guru besar ITB pada 1992.

Dia mengawali profesi sebagai pewarta gambar di era Revolusi Kemerdekaan, bergabung di Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian Pertahanan pada 1945. Tugasnya membuat poster, grafiti, menulis slogan yang mengobarkan semangat juang di dinding-dinding besar dalam kota dan gerbong-gerbong kereta api untuk Balai Penerangan Divisi TNI di Solo.

Tugas membuat brosur militer dan menggambar sketsa peristiwa penting untuk dokumentasi berlanjut saat Srihadi menjadi staf Penerangan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Penerangan Tentara Divisi IV TNI di Solo.

Srihadi bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM) di Yogyakarta pada 1946, dan belajar dengan pelukis-pelukis perintis seni lukis Indonesia, seperti Soedjojono dan Affandi. Pada masa inilah gambar Borobudur (1948) dan D. Setiabuddhi (1948) dibuat.

Setelah Belanda ditarik dari Indonesia pada Desember 1949, Srihadi meninggalkan ketentaraan dan meneruskan sekolah yang sebelumnya pernah terhenti. Dia mendapat beasiswa, bersekolah di SMAN 1 Margoyudan, tamat pada 1952.

Tekad belajarnya yang kuat, juga niat eksploratif, membuatnya ingin berjalan ke Barat. Dari Jawa Tengah ke Jawa Barat, ke Balai Pendidikan Universiter Guru Seni Rupa Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang untuk sementara berkedudukan di Fakultet Teknik Bandung (sekarang ITB).

Di ITB, Srihadi belajar dengan pendekatan kubisme. Meski demikian dia tidak menelannya mentah-mentah, melainkan mengembangkan roso, mengasah cara pandang pada dunia.

“Itu yang saya sebut seniman besar yang sudah menempatkan visi,” kata kurator pameran Rikrik Kusmara, pada Rabu (17/), saat jumpa wartawan menjelang pameran.

Sketsa Borobudur (1948) karya Srihadi yang terkenal. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Fase yang juga penting adalah ketika di Bali, pada 1955, Srihadi menanyakan hal prinsipil: untuk apa seni dan bagaimana mewujudkan world view seni. Pergolakan ini ada di tiap seniman tapi sulit menemukan kuncinya.

Di Bali, Srihadi banyak mencermati dan belajar hingga menemukan makna, esensi dari garis, fungsi dari seni dan rupa, hingga menjadi hal yang signifikan bagi peradaban. Di situlah garis horison mulai tumbuh, tentang filsafat ada dan tidak ada.

Sepulang dari menempuh kuliah magister di Amerika (tamat 1962), Srihadi melihat peralihan di Indonesia berkembang dalam perspektif salah arah. Kemiskinan dan ketimpangan sosial merajalela.

Dia mengkritik melalui lukisan Anak-anak Irian dan Coca-cola (1974), lukisan kanvas yang menampilkan dua bocah Papua, kurus, tak mendapat akses pendidikan, tapi mudah sekali mendapat Coca Cola.

Era 1970-an hingga sekarang, Srihadi banyak melakukan perjalanan ke banyak tempat. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi melihat peradaban, melakukan journey.

Ketika memamerkan karya-karya tentang Eropa, pada 2012, banyak tokoh seni yang terkejut bagaimana Srihadi memaknai garis dari roso serta dimensi Zen.

“Dalam pameran nanti akan ada seri tempat-tempat spiritual di Asia. Kertasnya berwarna. Bagaimana Srihadi merespon warna itu, ‘sakti,'” ujar Rikrik.

(sil/vga)