Diibaratkan, meme adalah hal yang selalu bergerak maju, tak pernah berhenti. Gambar dan makna yang diangkat pun selalu berbeda, biasanya tergantung isu serta momen lucu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Biasanya, meme ramai diunggah ke media sosial seperti Twitter, Facebook, bahkan Instagram. Itu dilakukan guna memperluas jangkauan meme tersebut agar dapat diketahui banyak orang, sehingga menjadi viral.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tugas Dagelan dalam buku itu ialah menyortir seluruh meme yang hits di tahun 2015 dan memasukannya ke buku setebal 192 halaman tersebut.
Aziz serta teman-temannya mengerjakan buku itu di pertengahan tahun 2015. Kala itu, agar tidak tersangkut masalah perizinan dari sang pemilik meme, ia mendesain serta menggambar ulang seluruh meme yang ia pilih dan memasukannya dalam Diary: Dagelan 2015.
"Kita kurasi konten meme-nya, dan memasukan semua itu ke buku. Pada akhirnya, kita memutuskan untuk mendesain ulang, kita gambar lagi, dan kami rasa tidak ada masalah perizinan lagi," ia menambahkan.
"Ya, Dagelan itu kan kalian semua. Jadi, cermin itu adalah pernyataan dari kami untuk para pembaca agar mereka dapat mengerti bahwa tanpa mereka, buku ini tak akan pernah dirilis," ujar Reza Waluyo Jati Bahar, selaku pemimpin redaksi Dagelan.
Menurut penuturannya, Dagelan berharap bahwa netizen dan masyarakat Indonesia bisa menjadi teman yang menyenangkan untuk tumbuh bersama.
Melalui buku yang dibanderol seharga Rp80 ribu itu, Dagelan berharap bahwa meme yang ada dalam buku tersebut dapat tersampaikan ke pencinta meme di Indonesia.
Ia menegaskan, Diary: Dagelan 2015 menggambarkan masyarakat Indonesia. Segala kejadian lucu yang terjadi di ibu kota, bahkan Bekasi, pun ada dalam buku tersebut. (ama)