Widya Kirana, Editor Senior Gramedia Pustaka Utama, memegang erat prinsip ini selama lebih dari 20 tahun mengerjakan penyuntingan naskah-naskah Nh Dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada masa itu, komputer sudah digunakan. Naskah yang masuk ke Penerbit dalam bentuk print-out yang dikirim lewat jasa pos/kurir atau soft-copy yang dikirim lewat surat elektronik. Demikian pula naskah-naskah Dini.
Karya yang akan diterbitkan ulang itu dipindai dari buku lama. Tak jarang karya itu harus diketik ulang karena pada umumnya hasil pindaian tidak memuaskan atau bahkan sangat buruk saking banyaknya huruf yang tak terbaca atau keliru terbaca oleh mesin pemindai alias jadi banyak “salah ketik.”
Naskah terbaru Dini yang terakhir Widid sunting adalah Dari Ngalian ke Sendowo (2015).
Naskah Dini, menurut Widid, terbilang “bersih,” salah ketik sangat sedikit ditemui. Andaipun ada yang perlu mendapat perhatian adalah kadang dijumpai penulisan yang tidak konsisten.
“Misalnya, di depan tertulis ‘kerjasama,’ tapi di halaman belakang ‘kerja sama.’ Jadi kami tanyakan ke Bu Dini mau pilih yang mana, kalau mau disambung, ya disambung semua,” ujar Widid saat dijumpai di kantornya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada akhir Januari lalu.
Novel karya Nh Dini berjudul Namaku Hiroko. (CNN Indonesia/Silvia Galikano) |
“Penulis kan kepalanya penuh ide untuk dituangkan. Jadi wajar saja kalau ada kata yang terlewat, atau ada bagian-bagian yang tidak masuk akal. Misalnya, di paragraf awal tokoh-tokohnya ketemu di taman, di paragraf berikutnya kok ketemu di tempat lain. Tapi yang seperti ini tidak ada dalam karya Bu Dini.”
Selebihnya, jika ada kalimat atau pilihan kata yang khas, yang menurutnya tidak umum, Widid selalu berkonsultasi kepada pengarang atau kadang-kadang mengusulkan perubahan. Namun jika pengarang berargumen bahwa memang “keunikan” tersebut disengaja dan penjelasannya bisa diterima, Widid akan menganggap itu sebagai hak pengarang untuk menentukan apa dan bagaimana ia menuliskan isi pikirannya, semacam licentia poetica.
“Karena kadang pertimbangan memilih sebuah kata/frasa/kalimat adalah karena pilihan tersebut lebih puitis ketimbang bentuk lain walau yang terakhir ini ‘benar’ menurut aturan berbahasa.”
Sebagai contoh, Dini kerap menggunakan kata-kata atau istilah dari bahasa Prancis, atau menempatkan kata depan “pada” alih-alih “di,” juga menyelipkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan bahasa Jawa walau ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Penggunaan ungkapan-ungkapan Jawa ini, menurut Widid, jadi ciri khas Dini yang sangat menghayati ungkapan-ungkapan itu sejak kecil. “Gusti Allah ora sare” dan “Bismillah niat ingsun” adalah dua ungkapan yang sering ditemukan dalam karya-karyanya dan umum digunakan oleh masyarakat Jawa.
Penggunaan catatan kaki pun sepenuhnya keputusan Dini, yakni untuk bagian-bagian cerita yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Lebih sering, catatan kaki itu berupa penjelasan atas istilah asing atau istilah Jawa, atau judul buku yang pernah terbit yang memuat penggalan cerita tertentu. Namun pernah juga Dini khusus memberi catatan kaki yang berisi resep membuat sambal bajak.
Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012). (CNNIndonesia/Silvia Galikano) |
Yang juga atas sepersetujuan pengarang adalah pemilihan cover atau sampul buku. Dalam Cerita Kenangan berjudul Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012), diceritakan Dini ikut menggiring gajah di Lampung.
Untuk buku itu, Dini mengusulkan cover yang menggambarkan kegiatan menggiring gajah. GPU kemudian mencarikan ilustrator dan menyiapkan tiga ilustrasi cover untuk dipilih oleh Dini. Untuk cover buku Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), malah Dini menggunakan lukisan karyanya sendiri, yakni lukisan Candi Bayon di Kamboja.
Dini juga memilih cover untuk karya-karyanya yang dicetak ulang, baik yang sejak pertama kali diterbitkan oleh GPU maupun yang hak penerbitannya sudah dialihkan ke GPU.
Di luar komunikasi urusan pekerjaan, pertemuan Widid dan Dini terbilang sering, terutama saat Dini tinggal di Graha Wredha Mulya, perumahan untuk kaum lansia mandiri di Sendowo, Yogyakarta. Setiap kali Widid, yang berasal dari Yogyakarta, pulang kampung menemui ibunya dan anak-anaknya yang kuliah di kota itu, ia selalu menyempatkan diri menemui Dini di rumahnya. Namun ketika Dini memutuskan pindah ke Wisma Lansia Langen Werdhasih di Lerep, Ungaran, Widid belum sempat datang ke Ungaran.
Kini Dini tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, di Banyumanik, Semarang. Sudah beberapa kali Widid menemuinya. Kalau Dini ke Jakarta dan bermalam di rumah sepupunya, Edi Sedyawati, di kawasan Menteng, Widid datang ke Menteng. Walau yang terakhir ini terbilang jarang, yakni hanya kalau ada yang perlu dikonsultasikan terkait naskah yang sedang Widid garap.
“Kalau datang, saya membawa sekadar buah kesukaan Bu Dini, hal biasa dan wajar dalam adat sopan santun orang bertamu,” kata Widid. Dini pun demikian, tak jarang ia membawakan oleh-oleh hasil kunjungannya ke suatu tempat, seperti membawa sabun sereh hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga.
Dini, menurut Widid, adalah pribadi yang apa adanya. Zakelijk. Saking zakelijk-nya sampai pernah terjadi kesalahpahaman yang sempat membuat hubungan keduanya agak tawar; yakni sewaktu Dini menulis “kakus,” lalu Widid menggantinya dengan “toilet.” Setelah berdiskusi, akhirnya dikembalikan lagi ke “kakus.”
Kata itu sengaja Dini pilih karena ada perbedaan arti antara kakus dan toilet. Masalah ini pun sudah dianggap selesai.
“Beliau ke saya baik. Kami, para editor di GPU, berusaha menjalin hubungan sebaik mungkin dengan semua pengarang. Buat saya, beliau sepuh, pengarang senior, jadi tinggal menyesuaikan ‘gelombang’-nya. Dengan Bu Dini gunakan gelombang ini, dengan yang lain gelombang lain,” ujar Widid.
(vga)
Novel karya Nh Dini berjudul Namaku Hiroko. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012). (CNNIndonesia/Silvia Galikano)