Para Pemberi Napas Kebangkitan Lokananta

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Sabtu, 16/04/2016 10:15 WIB
Para Pemberi Napas Kebangkitan Lokananta Proses penggandaan kaset di Lokananta, Solo, Jawa Tengah, pada Selasa (12/4). (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bekerja tidak hanya soal uang, tapi juga soal kenyamanan. Banyak orang yang bergaji besar, namun tak pernah puas dengan hidupnya.

Filosofi ini sepertinya dianut oleh sebagian besar karyawan perusahaan rekaman Lokananta yang berada di Solo, Jawa Tengah.

Perusahaan rekaman yang telah berdiri sejak 1956 itu kini menyisakan sekitar 100 karyawan yang terbagi dalam Divisi Percetakan dan Divisi Perekaman.


Sebagian besar pegawai yang tersisa ialah karyawan yang belum sempat diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), setelah Presiden Gus Dur telanjur membubarkan Departemen Penerangan dan melikuidasi Lokananta di bawah badan usaha Percetakan Negara.

Tentu saja banyak yang bertanya, mengapa mereka tak mencari pekerjaan baru, yang lebih menjanjikan kepastian hari depan.

Namun ketika diwawancarai oleh CNNIndonesia.com pada Senin (11/4), beberapa karyawan ternyata mempunyai alasan yang tak sekadar perkara uang.

Lima Kali Bolak-Balik

Bimo, karyawan di bagian penerimaan tamu yang pertama kali mengatakan hal tersebut. Usianya terbilang masih muda dan agaknya masih bisa mendapatkan pekerjaan lain selain melayani tamu-tamu Lokananta.

Rasa bangga dan ingin menjaga sejarah menjadi alasan Bimo untuk menjalani pekerjaan yang dimulainya sejak 2014 ini.

Pria berkulit sawo matang ini memulai kariernya dengan magang di Lokananta pada 2007. Pertama kali mencari alamat calon tempat kerjanya, Bimo sampai harus tersasar lima kali.

Para pendiri Lokananta terpajang di salah satu ruang Lokananta di Solo, Jawa Tengah, Selasa (12/4). (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
"Plang nama yang di depan itu sempat tertutup tanaman tinggi. Saya sampai bolak-balik lima kali di jalanan depan lalu baru tahu kalau Lokananta ternyata yang saya lewati dari tadi," kata Bimo sambil tertawa.

Meski disebut sebagai perusahaan, namun keberadaan Lokananta memang sangat jauh dari tipikal bangunan perkantoran di kawasan sibuk Jalan Jendral Sudirman, Jakarta.

Tugas Bimo pertama kali ialah menata piringan hitam dan master yang masih berantakan. Awalnya dia sempat menganggap enteng tugas tersebut.

Setelah tahu kalau barang yang harus dibereskannya berjumlah puluhan ribu keping, dia pun hanya bisa menelan ludah.

Selama tiga bulan, dari pagi hingga malam Bimo membantu karyawan lain menata barang-barang di sana. Ia juga pernah sampai terkantuk-kantuk ketika diminta gantian menjaga proses remastering untuk menyelamatkan master yang hampir rusak.

Keringanan tangannya lalu dihargai dengan penawaran kerja setelah ia lulus dari sekolah menengah kejuruan. Tanpa pikir panjang, Bimo menerima tawaran tersebut.

"Saya baru tahu apa itu Lokananta ya pas magang. Waktu kecil belum ngerti, mengapa di rumah ada kaset yang bertuliskan Lokananta. Setelah diceritakan sejarahnya, saya baru merasa bangga dan tentu saja ingin ikut bantu menjaga," ujar Bimo.

Bimo termasuk karyawan junior yang populasinya semakin banyak terlihat di Lokananta. Bersama karyawan senior, mereka bahu membahu membenahi perusahaannya. Tidak tampak kesenjangan di antara mereka.

Hal itu terlihat saat jam makan siang, di mana seluruh karyawan biasanya makan bersama sambil bersenda gurau di sebuah kantin sederhana berdinding kayu triplek yang terletak di belakang Lokananta.

Walau demikian, Bimo dan kawan-kawan tetap menaruh rasa hormat yang besar kepada tetua Lokananta.

Dibayar Nasi Bungkus

Salah satu karyawan senior yang bersedia diwawancarai ialah Titik Sugiyanti, pegawai bagian hubungan masyarakat yang sudah bertugas sejak 1994.

Sebenarnya ada juga karyawan yang lebih senior darinya, tapi mereka sepakat untuk diwakilkan saja dengan Titik yang dianggapnya paham dengan permintaan wawancara seperti ini.

Berbeda dengan Bimo, Titik sempat merasakan jatuh bangun Lokananta sebelum akhirnya berusaha bangkit kembali.

"Saat saya masuk, perusahaan ini memang sudah payah. Padahal awalnya berniat masuk sini karena orang tua ingin saya menjadi PNS. Tapi ya itu, karena pembubaran dan likuidasi ditambah pembajakan karya," kata Titik.

Seingat Titik, pada 1998 hingga 1999, Lokananta sempat berhenti berproduksi karena tidak ada order untuk menutupi pengeluaran. Uang kas perusahaan pun hanya tersisa Rp700ribu

Titik bersama karyawan lainnya pun harus ikhlas tidak digaji selama hampir enam bulan. Padahal ketika itu dia sedang mengandung anak pertamanya.

"Saya tetap bertahan karena percaya kalau Lokananta bisa bangkit kembali seperti dulu. Sudah hanya itu saja,"Titik Sugiyanti, karyawan Lokananta.
"Tentu saja kami bingung, karena datang ke sini tidak boleh masuk, harus lapor polisi yang mengawal proses audit dulu. Kami yang tetap datang pagi lalu hanya duduk-duduk sampai jam pulang sore," ujar Titik.

Yang paling diingat oleh Titik ialah ketika ia dan rekan kerjanya diminta datang untuk membersihkan piringan hitam.

Mereka lalu dengan senang hati melakukan tugas tersebut, walau hanya dibayar dengan nasi bungkus.

"Saya tetap bertahan karena percaya kalau Lokananta bisa bangkit kembali seperti dulu. Sudah hanya itu saja," kata Titik.

Harapan itu muncul pada tahun 2000, ketika itu toko rilisan musik yang bernama Toko Harapan Musik meminjamkan uang sebesar Rp25 juta tanpa bunga kepada Lokananta untuk operasional.

Sebagai gantinya, dikatakan Titik, Lokananta memberikan rilisan musik produksinya secara gratis yang dimaksudkan untuk cicilan hutang.

"Uang pinjaman itu pelan-pelan membangkitkan kembali Lokananta. Kami lalu semakin berbenah dan hasilnya pada 2006 kembali mendapat order perekaman dan penggandaan kaset," ujar Titik.

Berlian Belum Diasah

Hingga saat ini, Titik terbilang paling merasakan pergantian sembilan pemimpin Lokananta. Tak hanya itu, dia pun mengaku berpengalaman dengan makhluk halus penghuni bangunan tua itu.

Semakin ke sini, dia merasa orang yang memimpin Lokananta semakin memiliki visi dan misi yang ideal.

Pegawai di perusahaan rekaman Lokananta, Solo, Jawa Tengah, ketika dikunjungi pada Kamis (14/4). (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
"Kami mulai mendekati anak muda di komunitas musik untuk mempromosikan kembali Lokananta pada 2014. Strategi ini dilakukan bukan hanya untuk menggaet pasar, tapi juga mengedukasi mereka untuk tahu sejarah dari Lokananta," kata Titik.

"Di Solo saja masih ada anak muda yang tidak mengenal Lokananta, bagaimana dengan di pelosok kota lainnya?" lanjutnya.

Lini bisnis Lokananta saat ini ialah percetakan, perekaman lagu, penggandaan rilisan fisik dan penyewaan lahan.

Titik optimis jika visi dan misi yang ideal dapat konsisten dijalankan, maka Lokananta akan kembali berjaya seperti pada era '70-an dan '80-an.

"Apa pun yang terbaik untuk Lokananta, pasti saya dan karyawan lain dukung. Harapan saya, semoga ada yang berbaik hati menyumbangkan mesin pencetak piringan hitam, karena kami ingin kembali mengembangkan lini bisnis itu," ujar Titik.

"Lokananta ini bagai berlian yang belum diasah. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan," ujarnya menutup pembicaraan.

(ard/meg)