Dahulukan Kualitas Naskah, Bukan 'Follower' Penulis

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Selasa, 17/05/2016 10:15 WIB
Dahulukan Kualitas Naskah, Bukan 'Follower' Penulis Buku-buku fiksi terbitan Gagasmedia. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada buku berat, ada juga buku ringan. Hal ini tentu saja merujuk pada bobot konten si buku. Terlepas apa pun genre-nya, peminat buku berkonten ringan ternyata tak sedikit.

Hal ini disadari benar oleh Gagasmedia. Karena itu, sejak awal, tahun 2004, penerbit ini berani merilis buku dengan pemilihan judul, desain cover, dan isi berbeda sekaligus terkesan sangat ringan bila dibandingkan dengan buku-buku yang beredar saat itu

Sengaja dibuat demikian, berangkat dari niat menjadikan buku bukan barang yang “wah” dan agar tak berjarak dengan kebanyakan orang yang gemar membaca.


Gagasmedia adalah satu dari 20-an penerbit di bawah naungan Agromedia Pustaka. Selain sekitar 10 lebih penerbit di Jakarta, ada juga penerbit yang berada di Bandung dan Yogyakarta.

Gagasmedia khusus menggarap buku-buku populer remaja yang ditulis oleh penulis lokal.  Sekitar 80 persen terbitannya adalah fiksi dan 20 persen nonfiksi, seperti Buku Pintar Cewek Juara (2013) yang ditulis Zivanna Letisha serta buku inspiratif The Alpha Girl's Guide (2015) oleh Henry Manampiring. Target pembacanya berusia 15-35 tahun, yakni remaja hingga dewasa muda.

Penulis generasi pertama Gagasmedia, di antaranya Raditya Dika lewat Kambing Jantan (2005), Adhitya Mulya dengan novel komedi Jomblo (2005), dan Moammar Emka lewat Jakarta Undercover 2 (2006) telah jadi inspirasi banyak orang.

“Mereka memberi aura baru dengan tulisan-tulisan segar, karena sebelumnya, novel ya begitu-begitu saja,” ujar Pemimpin Redaksi Gagasmedia Resita Wahyu Febiratri saat dijumpai CNNIndonesia.com di kantor Gagasmedia di Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (13/5).

Tren yang berubah tiap tahun menuntut penerbit untuk peka terhadap tren dan kebutuhan pembaca. Ambil contoh, saat demam Korea dua-tiga tahun lalu, buku-buku tentang Korea dan berlatar belakang Korea, laris manis. Sekarang, jika terbit buku tentang Korea, tak akan lagi diserap pembaca sebanyak dulu, tak akan sebombastis sebelumnya.

Tak ada cara lain untuk mengetahui tren, kecuali dekat dan berkumpul dengan pembaca. Gagasmedia juga memiliki focus discussion group (FGD), yakni 10 anak SMA dan mahasiswa yang selama setahun jadi “narasumber” pertama Gagasmedia dalam menggodok tema.

Selain itu, awak redaksi harus mengikuti perkembangan terkini lewat beragam media.

Konten tetap jadi pertimbangan utama  sebuah naskah diterbitkan atau tidak, bukan jumlah follower si penulis naskah. Jika follower yang jadi acuan, tentu para penulis baru akan “mengkeret” duluan sebelum menyodorkan naskah ke penerbit.

“Jumlah follower itu memang akan menentukan oplah,” ujar Resita. “Tapi sebelum bicara oplah, kita kan bicara kualitas naskah dahulu. Walau follower banyak, tapi kalau konten tidak sesuai, tetap tidak bisa diterbitkan.”

Urusan follower di media sosial tak lepas dari “idealnya” penulis era sekarang yang harus bisa memasarkan karyanya sendiri. Berbeda dengan penulis konvensional yang sudah puas ketika tahu bukunya ada di rak toko buku.

“Sekarang, penulis harus aktif dan dekat dengan pembaca serta bisa bercerita tentang isi bukunya lewat web atau medsos. Penulis mempromosikan karyanya itu sesuatu yang logis, organik.”

Resita memberi contoh Kambing Jantan Raditya Dika. Sejak diterbitkan pertama kali pada 2005, buku itu sudah cetak ulang hingga 50 kali. Jika judul-judul lain sekali cetak antara 1.500 hingga 3.000 eksemplar, Kambing Jantan langsung di angka 20 ribu eksemplar.

Jumlah follower Raditya Dika di Twitter yang mencapai 13,5 juta tak dapat dimungkiri jadi faktor penting bukunya terus bertahan di toko buku. Kontennya masih diminati karena komedi merupakan materi yang bisa diterima semua orang.

Dan jika saat pertama terbit, pembaca Kambing Jantan masih remaja, tentu kini sudah dewasa, maka penggemar Raditya sudah lintas generasi.

Para penulis buku yang menulis secara ringan dan sederhana telah menginspirasi pembaca untuk menulis juga, melahirkan penulis dan novelis muda. Tiap tahun, tak kurang seribu naskah masuk ke Gagasmedia berasal dari penulis-penulis baru ini, anak-anak yang masih berseragam sekolah.

Semangat menulis anak muda semakin bergairah, seiring makin mudahnya akses terhadap buku.

“Radit dan kawan-kawan membawa semangat itu,” ujar Resita. “Bacalah yang kamu suka terlebih dulu, lalu tulislah apa yang harus disampaikan.”

Pemimpin Redaksi Gagasmedia Resita Wahyu Febiratri. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
(vga)