Menghitung Hari Menuju Karya Besar Nyoman Nuarta

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Senin, 06/06/2016 06:00 WIB
Tahun 2017 adalah target rampungnya GWK setelah 19 tahun berjalan. Infrastruktur yang kurang memadai jadi hambatan terbesar. I Nyoman Nuarta (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hanya berjarak beberapa meter dari air terjun kecil Curug Ale, para pekerja membangun patung-patung besar dari perunggu, baja, dan kuningan. Lempeng demi lempeng logam disambung dengan cara dilas. Suara gemuruh curug jadi peredam alami lengkingan suara las.

Di workshop inilah I Nyoman Nuarta membuat bagian demi bagian patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ditargetkan rampung tahun depan. Workshop di bawah rimbun pepohonan itu berada dalam kawasan tiga hektare NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung.

Sejak peletakan batu pertama, 8 Juni 1997, proyek prestisius kawasan taman kebudayaan di Bukit Balangan, Ungasan, Bali ini sudah mengalami enam presiden RI, dua kali krisis ekonomi besar (1998 dan 2008), serta tak terhitung cibiran dan pertanyaan, “Kapan selesainya?”


Padahal, GWK dibangun dari koceknya sendiri, bukan uang negara, dan sekarang dia sudah menjual seluruh sahamnya. Sehingga saat ini Nyoman berstatus hanya sebagai pematung yang mengerjakan GWK, bukan pemilik.

“Saya membuat GWK dengan apa yang saya bisa dan apa yang saya punya,” ujar Nyoman Nuarta saat menerima CNNIndonesia.com di NuArt Sculpture Park, Bandung, pertengahan Mei lalu.

Ihwalnya, pada era Soeharto, Kementerian Keuangan yang berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata meminjamkan uang sebesar Rp25 miliar melalui melalui Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Agunannya adalah lahan seluas 22 hektare dan masa pinjaman 25 tahun.

Dari Rp25 miliar, BTDC dapat saham 18 persen (Rp4,5 miliar) dan Nyoman 22 persen. Pinjaman itu, menurut Nyoman, adalah instruksi Suharto agar dia berfokus mengurus seni saja tanpa dipusingkan urusan uang.

Walau demikian, angka Rp25 miliar masih terlalu jauh untuk merampungkan GWK karena dana yang dibutuhkan Rp2 triliun.

Pinjaman berjangka waktu 25 tahun itu nyatanya kemudian mengalami masalah di tengah jalan. Entah bagaimana, utang Nyoman tiba-tiba membengkak, karena dikenakan bunga komersial dan harus dikembalikan segera dari perjanjian yang 25 tahun. Nyoman kemudian membawa kasus ini ke pengadilan dan menang.

“Agar tidak berlarut-larut, saya kembalikan saja uangnya, padahal masih 10 tahun lagi (dari tenggat pelunasan, red.). Saya sudah tidak ada utang.”

Karena tak mau punya utang lagi, akhirnya pada era pemerintahan Yudhoyono, Nyoman menjual seluruh sahamnya di GWK ke perusahaan properti Alam Sutera, sehingga kini statusnya dalam proyek GWK adalah pematung yang berkewajiban menyelesaikan karya seninya.

Sebelum melepas GWK kepada pihak lain, Nyoman memberi syarat, pemilik baru berkewajiban menyelesaikan patung dan kawasan taman kebudayaan itu dalam jangka waktu tiga tahun.

Kini pedestal sudah dibangun dan patung sudah siap dipasang. Diharapkan pada 2017 rampung dengan catatan cuaca baik. Di workshop NuArt, terpasang angka hitung mundur menuju rampungnya GWK. Saat kami datang, angka yang tertera adalah “244”.

“Niat saya membangun adalah untuk negara saya. Setelah saya tidak sanggup lagi karena ini menjadi tanggung jawab sendiri dan susah mencari mitra, akhirnya saya lepas dengan perjanjian agar itu jalan.”

Patung Dewa WIsnu di taman Garuda Wisnu Kencana. (Thinkstock/Jimrim)


Kini pengerjaan patung di workshop NuArt sudah 70 persen rampung. Sebagian besar sudah dikirim ke Bali menggunakan 8-12 truk sekali sepekan. Tak jarang, satu truk hanya berisi satu lempengan karena volume modul-modul patung termasuk gigantik.

Setelah jadi, total berat patung adalah tiga ribu ton dengan volume sembilan kali patung Liberty di New York, AS.

Dua kali kena krisis ekonomi tentu ikut berimbas ke harga bahan pembuatan patung yang 90 persen impor. Nyoman memesan tembaga dari Jepang, kuningan dari Jerman, dan baja tahan karat dari Italia.

“Para senimannya saja yang dari Indonesia,” kata Nyoma lalu terkekeh.

Krisis ekonomi pertama, menjelang Reformasi, merupakan pukulan yang keras bagi penggarapan proyeknya karena semua orang tiba-tiba “jadi miskin.” Karyawan Nyoman saat itu ada seribu orang, di antaranya enam ratus orang di Bali yang tetap bekerja siang malam mengerjakan GWK.

“Di Bali, saat itu, satu-satunya yang tetap bekerja hanya GWK. Berat memang, sampai akhirnya, alat berat kami jual. Kalau dulu saya hentikan sama sekali, bisa jadi GWK sekarang sudah tidak ada bekasnya.”

Infrastruktur yang kurang memadai merupakan hambatan lain bagi lekas rampungnya GWK. Bahan baku pun belum tersedia dalam jumlah yang memadai di Bali.

Semisal, welding rod hanya tersedia dalam hitungan kilogram, padahal yang perlu dibeli dalam hitungan ton. Besi pun tak bisa dibeli sekaligus, harus sedikit-sedikit, yang membuat ongkos produksi mahal.

Acetylene dan oksigen (bahan untuk mengelas) dalam jumlah banyak baru-baru saja tersedia di Bali. Sebelumnya, Nyoman memesan gas dari Surabaya, bertruk-truk banyaknya.

Karena itu diputuskan patung dikerjakan di workshop NuArt di Bandung, baru kemudian dibawa ke Bali untuk dipasang. Konsekuensinya biaya transportasi terbilang besar untuk mengongkosi enam ratus truk jalan darat dari Bandung ke Bali.

Mengapa hingga butuh banyak truk? Tak lain karena lempengan yang diangkut berbentuk lekuk-lekuk, tak heran jika satu truk hanya dapat membawa satu lembar. Lempengan yang yang disebut modul-modul GWK itu dibawa ke Bali dalam kondisi telah jadi, tapi dipotong-potong untuk memudahkan pengangkutan dan pemasangannya kelak.

“Harga sewa satu unit truk Rp11 juta, belum lagi memasang stegernya yang bisa lebih mahal dari harga patung. Itulah mengapa harga patung mahal. Syukur-syukur seniman dapat sisanya.”

Proses pengerjaan patung Garuda Wisnu Kencana karya I Nyoman Nuarta di Workshop NuArt Sculpture Park, Bandung. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)


Setelah berjalan 19 tahun, gambaran ideal taman kebudayaan GWK belakangan sedikit terganggu akibat pendirian beberapa tempat di kawasan itu tidak sesuai dengan masterplan. Beberapa di antaranya berbentuk ruko yang merusak lanskap GWK secara keseluruhan.

Pasalnya, GWK bukanlah patung Dewa Wisnu yang berdiri secara tunggal, melainkan terdiri dari land art, yakni gunung kapur bekas tambang kapur yang dipotong membentuk komposisi-komposisi tertentu. Di kawasan itu juga terdapat museum, galeri, dan amphitheater.

GWK sudah 70 persen selesai, tahun 2017 hanya tinggal hitungan bulan. Sekarang, dalam bentuk setengah, jadi saja GWK ikut mendatangkan visa melalui tiga ribu-empat ribu pengunjung setiap hari.

Jika sudah rampung, diperkirakan bakal ada 6000 pengunjung GWK setiap hari, atau sekitar 10 persen dari total kunjungan wisatawan ke Bali setiap hari, sehingga akan lebih banyak lagi pihak diuntungkan.

GWK menjadi landmark baru bagi kehidupan manusia modern di Indonesia, setidaknya destinasi baru yang diabdikan seorang seniman besar kepada negaranya. (sil/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK