Peduli Gajah Lewat Film Dokumenter 'Save Our Forest Giants'

M. Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 22/06/2016 09:46 WIB
Peduli Gajah Lewat Film Dokumenter 'Save Our Forest Giants' Iustrasi. (REUTERS/Noor Khamis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uni Eropa bersama Nicholas Saputra baru saja merilis film dokumenter bertajuk Save Our Forest Giants. Seperti judulnya, film ini berkisah mengenai keberlangsungan hidup gajah di Indonesia.

Tak hanya untuk gajah, film Save Our Forest Giants juga berisi pesan untuk pelestarian hutan yang menjadi tempat tinggal fauna lainnya di Indonesia.

Film dokumenter yang berdurasi sekitar enam menit ini mengambil tempat di Tangkahan. Tangakahan merupakan salah satu Taman Nasional Indonesia yang terletak di Gunung Leuser, Sumatera Utara.


Perpaduan keindahan gambar dan musik latar tak dapat dipungkiri langsung menggugah perasaan sejak detik pertama film diputar.

"Berkat kerjasama yang baik dengan Nicholas Saputra dan timnya, kini kami memiliki cerita menyentuh yang kami harap akan menginspirasi banyak orang. Saya percaya jika kita semua bekerja sama, kita dapat melindungi mamalia besar ini," kata Duta Besar Uni Eropa, Vincent Guérend, dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com pada Selasa (21/6).

Film Save Our Forest Giants diproduksi dengan apik oleh Nicholas Saputra dan Amanda Marahimin.

Sebelumnya Amanda pernah terlibat dalam produksi film Gie dan Tiga Hari Untuk Selamanya, yang dibintangi Nicho.

Dalam film Save Our Forest Giants juga dijelaskan jumlah perkiraan populasi gajah Sumatera di Indonesia. Diperkirakan, kini populasi gajah Sumatera hanya tersisa 1.500 ekor.

Dengan pembagian 300 ekor di berbagai kebun binatang Indonesia dan 200 ekor di berbagai tempat konservasi, bersama pawang gajah yang disebut mahut.

Saat ini kehidupan anak-anak gajah terancam virus Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV) yang dapat menyebabkan kematian.

Umur satu sampai sepuluh tahun adalah umur yang rawan bagi anak gajah untuk terinveksi virus EEHV. Kurang lebih tiga anak gajah mati di Tangkahan dari tahun 2009 sampai 2015.

Virus itu pertama kali ditemukan pada tahun sejak tahun 1995. Sejak saat itu banyak institusi yang coba mencari obat untuk virus tersebut. Namun, sampai saat ini obat itu belum ditemukan.

Dana menjadi kendala utama berbagai negara untuk menemukan obat ini, terlebih dengan obat yang tidak komersial karena ditujukan untuk binatang.

Sebelum merilis film ini, delegasi Uni Eropa mengadakan kampanye lewat media sosial dengan membuat slogan #jaGAjah. Kampanye itu mendorong anak muda untuk mengekspresikan pendapat mereka untuk melindungi gajah.

Produksi film ini dimaksudkan untuk melanjutkan kampanye senada yang sebelumnya sudah dilakukan. Dengan begitu masyarakat dapat melihat secara langsung seperti apa kejadian yang sebenarnya.

"Tujuan kami adalah untuk meningkatkan kesadaran. Oleh karena itu, jika Anda suka film ini, Anda dapat membantu dengan menyebarkannya ke teman-teman Anda," sambung Guérend.

[Gambas:Youtube] (ard/ard)