"Nonton film-film kungfu sama horor terutama, karena yang diputar seringnya film-film seperti itu. [Nonton] di bioskop Medan, namanya Remaja Teater," kata Joko mengenang masa kecilnya, saat ditemui CNNIndonesia.com di kantornya baru-baru ini.
Mulanya ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang bertugas mengarahkan akting, juru kamera, dan sebagainya di balik film-film itu. "Setelah tahu film itu ada yang bikin, saya jadi ingin bikin film," ujar Joko melanjutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Filmnya tentang domba, sehari-hari ngapain aja. Karena enggak ada orang. Durasinya tujuh menit, edit sendiri, manual. Masih VHS ke VHS," kata sutradara Pintu Terlarang itu.
Sejak itu, film-film Joko selalu berhasil membuahkan kesan, meski tak semuanya laku secara komersil. Ia menyutradarai Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), Modus Anomali (2012), dan A Copy of My Mind (2015). Joko juga menjadi penulis untuk beberapa film lain.
Belakangan, lulusan Teknik Penerbangan itu juga eksis di festival-festival film internasional. Festival film terkenal seperti Cannes, Busan, Berlinale, dan Toronto, bukan lagi makanan baru bagi Joko. Ia bahkan pernah menang atau mendapat dana ko-produksi.
Namun siapa sangka, Joko masih punya satu ambisi yang belum tercapai. Pria 40 tahun itu ingin mengikuti kata pepatah soal pendidikan, "Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina."
Joko, yang sudah pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, masih ingin melanjutkan sekolah. "Saya ingin sekolah antropologi, lagi cari beasiswa di luar."
Bukan tanpa alasan, Joko sengaja memilih antropologi karena itu bisa membantunya lebih memahami manusia dan segala aspek yang ada, salah satunya soal budaya.
"Karena [saya] merasa bodoh. Kalau bikin skenario, kalau bikin film, kalau habis nonton film sendiri, 'Kok kurang ya. Kayak kurang apa, ya.' Kalau teknis sih bisa dipelajari sendiri. [Saya] jadi mikir, kalau kuliah lagi, kayaknya mau ambil tentang manusia," ujarnya.
Hingga kini, Joko sudah memasukkan persyaratannya ke beberapa universitas. Targetnya, ia akan kembali bersekolah tahun depan. Jika itu benar terjadi, artinya Joko akan meninggalkan sejenak dunia perfilman.
"Paling setahun, dua tahun," katanya santai.
Setelah itu, Joko mungkin akan kembali dengan film-film yang lebih menggebrak. Apalagi ia juga masih punya ambisi khusus di bidang perfilman yang belum tercapai. Joko ingin membuat film tentang UFO. Alasannya sederhana, karena ia menyukai UFO.