Aksara Taufiq Ismail dalam Gita

M. Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 25/06/2016 10:24 WIB
Aksara Taufiq Ismail dalam Gita Taufiq Ismail bukan hanya menciptakan sajak, tapi juga lirik lagu. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Akan tiba masa, tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita, ke mana saja dia melangkah."

Lirik lagu nan puitis itu selama ini dikenal sebagai penggalan lagu Chrisye, Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Chrisye menyanyikannya penuh penghayatan.

Ia sendiri sampai menangis saat harus melantunkannya. Saat berlatih pun, penyanyi yang meninggal pada 2007 lalu itu gelisah dan tak bisa tenang. Tak biasanya Chrisye bersikap seperti itu saat akan merekam lagu di studio.


Alhasil Chrisye hanya bisa sekali merekam suaranya untuk lagu itu. Sebab ia tak bisa tahan untuk terus meneteskan air mata jika harus menyanyi berulang kali.

Istri Chrisye, Damayanti Noor pernah mengatakan pada CNNIndonesia.com, lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata memang sangat spesial untuk suaminya.

"Dia selalu bilang, lagunya dahsyat. Dia selalu merasa dikalahkan oleh lagu ini," ujarnya.

Terang saja, lagu itu konon diinspirasi dari Alquran, Surat Yasin ayat 65. Maknanya sangat dalam, tentang akhirat. Menceritakan bagaimana manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan di dunia setelah meninggal kelak.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan," demikian bunyi ayat itu dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Adalah Taufiq Ismail, seorang penyair kenamaan Indonesia yang menciptakannya bersama Chrisye. Seperti syair-syairnya dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Sajak Ladang Jagung, atau Puisi-puisi Langit, lirik lagu itu juga sangat menggugah emosi.

Taufiq rupanya tidak hanya mahir meracik aksara dalam puisi. Pria berdarah Minang itu juga gemulai meramu lirik lagu. Ia merasa musik bisa menjadi media publikasi puisi agar lebih luas.

Selain dengan Chrisye, Taufiq juga pernah bekerja sama dengan grup musik Bimbo, Ahmad Albar, dan Ucok Harahap.

Untuk Bimbo, Taufiq membiarkan puisinya dinyanyikan. Puisi dengan Puisi, Rindu Rasul, Sajadah Panjang, dan Oda pada Van Gogh adalah sederet karya Taufiq yang dilantunkan oleh Bimbo.

Tak bisa digugat lagi, makna masing-masingnya teramat dalam. Sajadah Panjang, misalnya. Mengisahkan manusia yang selalu beribadah meski di tengah kesibukan.

Rindu Rasul mengisahkan kecintaan Rasul kepada umat manusia.

Lewat lirik, kedua lagu itu jadi sangat menggugah perasaan pendengar musik. Telebih dibalut dengan musik dengan nada sendu. Lagu-lagu itu sering diputar untuk menambah khusyuk bulan suci Ramadan.

Lagu-lagu itu pun terus abadi dari masa ke masa. Tak salah bila Taufiq disebut sebagai sang ahli aksara. Ia bisa meramu kata menjadi bermakna, baik ketika dibaca maupun dilantunkan.
(rsa/rsa)