'I am Indonesian,' Gerakan Cinta akan Indonesia

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Selasa, 11/10/2016 09:02 WIB
'I am Indonesian,' Gerakan Cinta akan Indonesia Pameran foto I am Indonesian. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konsisten dengan upaya pelestarian budaya, Galeri Indonesia Kaya (GIK) yang berada di bawah naungan Bhakti Budaya Djarum Foundation mengajak publik untuk lebih mencintai Indonesia, lewat gerakan bertajuk ‘I am Indonesian’.

Diwujudkan dalam bentuk pameran foto yang melibatkan 100 seniman, gerakan ini diharapkan dapat menjadi pendorong kesadaran bagi publik untuk juga merasakan hal yang sama.

Keseratus seniman, yang pernah terlibat atau tampil di panggung GIK tersebut, dipotret dalam busana rancangan desainer fesyen Oscar Lawalata. Setiap busana yang didominasi warna putih itu dibuat dengan menggunakan kain tenun dan dihiasi aneka motif batik.


“Pameran ini ingin mengajak kita semua, untuk sama-sama bangga, dan lebih mencintai Indonesia," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bhakti Budaya Djarum Foundation, disela-sela perayaan hari jadi ke-3 tahun GIK, yang bertempat di lantai delapan, Grand Indonesia, Jakarta, pada Senin (10/10).

Disampaikan Renita, para seniman yang terlibat berperan cukup besar dalam memajukan seni pertunjukan Indonesia untuk masyarakat. Dipotret oleh fotografer Glenn Prasetya, setiap foto yang dipamerkan merupakan ekspresi kecintaan terhadap seni pertunjukan dari setiap seniman.

“Di setiapnya kita sertai juga dengan kutipan arti panggung dan seni pertunjukan bagi mereka,” tambah Renita.

Cinta Indonesia

Gerakan ‘I am Indonesian’ pada awalnya digagas oleh Oscar, yang mengolah kain tradisional menjadi karya seni dalam potongan busana modern.

Selama lebih dari lima belas tahun berkarya dalam dunia fesyen, Oscar mengungkapkan bahwa ia banyak bertemu dan bertukar cerita dengan para pengrajin kain Indonesia di berbagai daerah. Baginya, ada banyak filosofi, perhatian, dan kehangatan dalam selembar kain yang dihasilkan.

"Dari pengalaman tersebut, saya sadar bahwa Indonesia memiliki budaya nusantara yang tidak dimiliki bangsa lain, dan seharusnya itu menjadi kebanggaan. Hal ini mendorong saya untuk mencetuskan sebuah gerakan yang mampu meningkatkan kebanggaan kita, sehingga setiap orang akan dengan lantang berkata, ‘I am Indonesian’," katanya.

Adapun 100 seniman yang terlibat, di antaranya ada Addie MS, Yovie Widianto, Agus Noor, Butet Kartaredjasa, Be3, Chelsea lslan, Denny Wirawan, Dewi Lestari, Erwin dan Gita Gutawa, Garin Nugroho, Happy Salma, Jay Subiyakto, dan Joko Anwar.

Selain itu, ada juga Julie Estelle, Maudy Koesnaedi, Monita Tahalea, Nano dan Ratna Riantiarno, Reza Rahadian, Ria Irawan, Sapardi Djoko Damono, Sundari Soekotjo, Sujiwo Tedjo, Titi DJ, Trio Lestari, Titiek Puspa, dan Wawan Sofwan.

Pameran foto tersebut berlangsung di Lobi Shinta dan Plaza Shinta di lantai tiga East Mall Grand Indonesia, dari 10 Oktober hingga 23 Oktober 2016.

Tiga tahun GIK

“Sedari awal, kita konsisten ingin mengenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia,“ ujar Renita.

Dari keinginan tersebutlah kemudian tiga tahun lalu, Galeri Indonesia Kaya dibangun untuk menghadirkan sebuah ruang publik bagi dunia seni pertunjukan Indonesia.

Sejak diresmikan pada 10 Oktober 2013 lalu, kata Renita, GIK telah dikunjungi lebih dari 300 ribu penikmat seni dan menyaksikan lebih dari seribu pertunjukan.

Selama itu, lebih dari 300 pekerja seni terlibat dalam beragam kegiatan seni seperti tarian, teater, monolog, pertunjukan musik, pameran, diskusi, workshop, dan sebagainya.

Renita pun menyebutkan GIK memiliki sejumlah program yang ditujukan agar masyarakat dapat mengakses konten budaya dengan cara menyenangkan dan tanpa dipungut biaya. Terkait penyediaan seni pertunjukan gratis ini disampaikan Renita merupakan bagian dari upayanya untuk membangun kecintaan masyarakat terhadap seni budaya.

"Ini tahun ketiga, rencananya, sampai tahun ke-10, kami akan tetap berupaya membangun kecintaan masyarakat terhadap seni budaya lewat seni pertunjukan,” ungkapnya.

Menurut Renita, untuk membangun kecintaan masyarakat butuh proses yang tidak instan dan singkat. Ia meyakini dengan adanya proses ini, pada suatu hari nanti, publik akan siap jika kemudian hari ada pemungutan biaya tiket untuk menonton.

"Seiring itu, kita juga mesti membenahi generasi seni pertunjukan, sehingga muncul seniman-seniman baru berbakat, dan diikuti dengan fasilitas atau mungkin gedung pertunjukan baru yang lebih memadai,” ujarnya.

Oleh karenanya, GIK kemudian juga mengusung program ‘Ruang Kreatif’ untuk seniman-seniman muda dari berbagai daerah di Indonesia.

Lewat program Ruang Kreatif ini, kata Renita, para seniman muda yang berpotensi, bisa belajar lebih banyak dengan mentor yang berpengalaman, untuk kemudian mengembangkan gagasan kreatif menjadi sebuah pertunjukan yang menarik. Di samping itu, mereka juga didorong untuk konsisten menghasilkan karya-karya baru dan inovatif. (rah/rah)