Otto Djaya, Pelukis yang Jenaka

Rahman Indra, CNN Indonesia | Jumat, 07/10/2016 08:58 WIB
Otto Djaya, Pelukis yang Jenaka Karya yang dibuat pada tahun 1990 berjudul "Kerokan". Otto Djaya menggoreskan cat akriliknya di atas kanvas berukuran 90 x 140 cm.(CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bertindak sebagai kurator, bersama Inge-Marie Holst, Rizki A. Zaelani menelusuri jejak pelukis Otto Djaya, yang berkarya sejak akhir 1940-an hingga 1990-an. Menurutnya, kehadiran Otto sebagai pelukis memang tidak begitu banyak mendapat sorotan, dibanding kakaknya Agus Djaya dan atau Sudjojono.

''Saya juga tidak mengira kalau ternyata Otto melukis hingga ratusan banyaknya," ujar Rizki saat dihubungi CNNIndonesia, pada Rabu (5/10).

Merayakan hari jadinya yang tepat 100 tahun, pada Kamis (6/10), pameran bertajuk 100 Tahun Otto Djaya (1916-2002) digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dari 30 September hingga 9 Oktober 2016. Pameran ini menampilkan 171 lukisan Otto Djaya yang unik, dengan gaya bercerita, ekspresif dan sarkastis.


Menurut Rizki, selama ini dirinya baru melihat dua karya Otto, yang tersimpan di Galeri Nasional Indonesia. Dua lukisan itu berjudul Pertemuan yang dibuat 1947, 65x88 centimeter, cat plakat di kertas, dan Wayang Golek karya 1954, 51x98 centimeter, cat minyak di kanvas.

“Saya lebih mengenal Otto lewat pameran kali ini,” ujar Rizki. Ia mengatakan, awalnya pameran ini diinisasi oleh Inge-Marie Holst bersama suaminya, Hans Peter Holst. Ia disarankan untuk mendampingi ketika Inge menyampaikan presentasinya di Galeri Nasional Indonesia. Menurutnya, nama Otto Djaya sebelumnya tidak banyak didengar di Indonesia, sehingga tidak banyak yang tahu karya-karyanya.

“Mungkin ada beberapa orang yang tahu dan mengoleksi, tapi tapi sebagai tokoh yang sejaman dengan Sudjojono, dia tidak banyak dikenal,” ungkap dia.

Oleh karenanya, kemudian pameran ini digelar agar publik kemudian menyadari bahwa ada satu sosok pelukis yang dalam diam melahirkan ratusan karya tentang Indonesia.

Pelukis Jenaka

Dari penelusurannya, Rizki menilai Otto Djaya sebagai pelukis jenaka, yang berbeda dengan pelukis lain di eranya. Karya Otto, merentang dari hal-hal yang dekat dengan keseharian, dunia pewayangan, hingga gambar-gambar model tanpa busana.

“Otto punya kecendrungan lukisan yang ekspresif, menekankan pada penggunaan warna, dan menggali komunikasi visual secara jenaka dalam menyampaikan kritiknya,” kata Rizki.

Oleh karenanya, ia menilai karya Otto lebih humoris daripada karya Agus Djaja yang serius. Otto melukis dengan gaya satir sarkastis, dan kadang lebih banyak unsur humornya.

“Ia jenaka, dengan menempatkan cerita punakawan dalam lukisannya. Begitulah cara dia membuat jarak dengan kritik, lewat menyisipkan perumpamaan dan menggunakan fabel,” tambah dia.


Pelukis Produktif

Sepanjang hidupnya, Otto tergolong produktif pada 1990-an, dengan banyak karya yang lahir dari ingatannya akan berbagai peristiwa, dari mulai korupsi hingga bahkan kejadian dua puluh tahun sebelumnya.

Menurut Rizki, Otto sebenarnya sudah memulai melukis di 1940-an. Meski kemudian karya-karya itu tidak banyak ditemukan. Salah satu karya lamanya itu, kata dia, yang tersimpan di Galeri Nasional Indonesia.

“Dan seperti Affandi, Otto juga kerap melukis dengan objek model tanpa busana,” ujarnya menambahkan.

Dari beberapa karyanya, Otto memiliki satu seri koleksi model tanpa busana yang cukup mencolok dan mencuri perhatian. Salah satunya kemudian juga dikoleksi oleh mantan Presiden Soekarno.

Menurut Rizki, lukisan Otto bersifat naratif bercerita, yang hingga kini menjadi tren di dunia lukis Indonesia. Gagasannya berasal dari kehidupan sehari-hari seperti tema pasar, warung, perayaan perkawinan, pertunjukan kesenian tradisi dan lain.

Jenis intensitas warna dari lukisan Otto juga dinilai melampaui zamannya yang terlihat dari warnaa hijau dedaunan yang khas dan biru langit yang cemerlang. Otto juga kerap mencampurkan atau memasukkan tokoh wayang dari keluarga punakawan, seperti Petruk dan Gareng, dalam lukisannya.

"Yang menarik dari gagasannya adalah spontanitas yang tampil nyaris begitu saja, alamiah," ujar dia.


Menikmati karya Otto, kata Rizki, akan menjadi lebih menarik ketika mampu menangkap pesan atau metafora yang disampaikannya secara simbolik. Yang jika menangkap pesan tersembunyi itu, akan membuat senyum menjadi tersungging karenanya.

“Kemunculan Otto kali ini setidaknya menyadari kita bahwa, masih banyak seniman Indonesia produktif yang mungkin belum banyak mendapat sorotan,” ujar Rizki.

Sementara, seperti halnya Agus Djaya, Otto juga merupakan anggota Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada 1937. Ini bisa dibilang sebagai organisasi pelukis pertama di Indonesia.

Selain Otto, kata Rizki, ada juga beberapa seniman lain yang mungkin belum banyak mendapat sorotan, di antaranya Emiria Sunassa. Menggali lebih jauh dan menemukan karya seniman Indonesia produktif menjadi lebih menggairahkan setelah adanya pameran Otto Djaya ini. (rah/vga)