Ulasan Film

'Allied': Kisah Cinta Dua Agen Rahasia

Rahman Indra, CNN Indonesia | Kamis, 24/11/2016 13:45 WIB
'Allied': Kisah Cinta Dua Agen Rahasia Menegangkan, dan juga dramatis. Brad Pitt dan Marion Cotillard menampilkan akting terbaik mereka untuk film yang diangkat dari kisah nyata. (Foto: Dok. Paramount Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film dengan latar Perang Dunia ke-dua bukan lagi hal baru, dari mulai Saving Private Ryan (1998) hingga yang sekarang juga tayang Hacksaw Ridge (2016). Begitu juga dengan kisah cinta di antara desingan peluru di antara dua pemeran utamanya, seperti Casablanca (1942) dan atau Mr. and Mrs. Smith (2005). 

Namun, Allied, yang disutradarai Robert Zemeckis, menghadirkan kisah cinta dramatis dengan ketegangan berulang, dan mengaduk-aduk emosi lewat dua plot utamanya.

Di bagian pertama, dengan latar dataran gurun pasir di Maroko, Afrika Utara ia mengajak penonton untuk memasuki kisah seorang agen yang mendarat dengan parasutnya. Di menit berikutnya, diketahui bahwa agen tersebut, yakni Max Vatan (Brad Pitt) sedang dalam masa tugas untuk misi rahasia dengan target seorang duta besar Jerman.


Untuk aksinya ini ia akan berperan sebagai seorang suami asal Perancis, dari agen Marianne Beausejour (dibintangi dengan sangat baik oleh Marion Cotillard).

Keduanya tinggal di sebuah rumah di Casablanca, dalam suasana mencekam di bawah ancaman Nazi Jerman. Marianne dengan lihai memainkan peran
sebagai warga negara Perancis biasa yang menikah dengan seorang pria pekerja tambang fosfat.

Aksi mereka dimulai dengan persiapan menjelang pesta di mana dihadiri oleh target operasi. Selama itu, masing-masing saling uji ketangkasan. Max
menguji kemahiran Marianne menggunakan senjata, dan sebaliknya Max diuji akan ketahanan nafsu seksualnya. Keduanya kerap saling tatap penuh makna.

Misi tersebut sukses, dan keduanya tak menampik telah saling jatuh cinta.

Penceritaan lalu beralih ke bagian besar ke-dua setahun berikutnya, ketika Max dan Marianne telah menikah, punya anak, dan hidup berumah tangga di London, Inggris.

Pimpinan Max di V Section, agen intelijen Inggris lalu mengabari bahwa Marianne yang ia nikahi bukanlah Marianne asli. Ia adalah mata-mata Jerman yang secara diam-diam telah berkirim pesan rahasia ke negaranya.

Max berada di persimpangan, antara harus membunuh orang yang ia cintai atau berusaha menyelamatkannya. Di bagian paruh terakhir menjadikan film ini tak hanya menegangkan, tapi juga lebih dramatis.

'Allied': Jatuh Cinta di Perang Dunia Ke-duaMarion Cotillard dan Brad Pitt dalam adegan film 'Allied.' (Foto: Dok. Paramount Pictures)
Dua bagian

Kisah film Allied, yang ditulis Steven Knight dapat dibagi atas dua kisah besar, dengan dua sorot fokus berbeda. Jika di bagian pertama misi rahasia di Maroko lebih menonjolkan kelihaian Marianne (Cotillard), di bagian kedua, fokus tersebut beralih ke Max (Pitt).

Berperan sebagai Marianne, agen Perancis yang lihai menyamar, berpura-pura dan menggunakan senjata, Cotillard adalah pilihan tepat. Bahkan, dapat dikatakan Marianne adalah karakter yang memang diciptakan untuk aktris kelahiran Perancis tersebut (yang secara kebetulan, namanya juga bisa dilafaskan sama).

Hampir setiap gerak dan aksinya mengesankan. Cotillard juga dengan meyakinkan ketika menampilkan dua sisi bertolak belakang, yang membuat penasaran, apakah ia sebenarnya jatuh cinta dengan lawan mainnya Max, atau sedang dalam masa penyamaran.

Pengaburan ini menjadi penting sepanjang film, yang membuatnya menjadi lebih menegangkan sebagai sebuah thrilller, dan juga romantis sebagai sebuah kisah asmara.

"Saya selalu membuat perasaan berasa nyata, itulah cara bertahan hidup," ujarnya suatu kali dalam sebuah percakapan. Yang kemudian seolah menjadi benang merah hingga akhir film.

Sementara, di bagian kedua, Zemeckis (yang sebelumnya membuat Forrest Gump dan Cast Away), mengalihkan sorot ke karakter Max atau Brad Pitt.

Bermain dengan meyakinkan sebagai Max, bahkan mampu berbahasa Perancis walaupun dengan aksen ala Quebec-nya, Pitt tampil mempesona. Karismanya hadir sebagai seorang agen berparas menarik, sigap, dan tatapan mata tajam yang akan membuat siapapun jatuh cinta.

Walau, di akhir film, ada harapan sorot film akan lebih baik pada Cotillard saja, sehingga berasa maksimal dalam mencapai klimaks, dan mungkin juga akan menjadikannya lebih dramatis.

'Allied': Jatuh Cinta di Perang Dunia Ke-duaBerperan sebagai Marienne Beausejour dan Max Vatan, dalam adegan film 'Allied.' (Foto: Dok. Paramount Pictures)
Muatan politis

Meski dibalut dengan kisah cinta, Allied jika ditarik lebih luas menampilkan muatan politis yang kental. Seperti judulnya, yang dapat diasosiasikan dengan makna 'sekutu', yakni bersatu, sependapat.

Permainan penyamaran kedua pemeran utama seolah menghadirkan apa yang kerap terjadi dalam hubungan dua orang atau negara yang bersekutu. Apakah benar-benar sependapat, atau di balik itu sebenarnya sedang berpura-pura atau melakukan penyamaran, dan pengkhianatan.

Bias atau pengaburan dalam hubungan ini dieksekusi dengan baik oleh Zemeckis sebagai sutradara.

Ia juga menampilkan sejumlah adegan dramatis yang menempel di ingatan. Di antaranya adegan dengan latar yang membuat takjub di gurun pasir Maroko, percintaan di dalam mobil, adegan melahirkan di tengah kecamuk perang, hingga kegelisahan di sebuah pesta yang di tengah-tengahnya kemudian diserang oleh bom dari udara.

Bagian desain busana, oleh Joanna Johnston, juga patut mendapat perhatian karena membuat para pemerannya, dengan latar perang dunia ke-dua, tampil begitu memanjakan mata. Para pemeran yang berparas ganteng dan cantik dibalut dengan busana yang juga tak kalah menariknya.

Komposer Alan Silvestri dan sinematografer Don Burges melengkapinya dengan kontribusi yang tepat sehingga setiap elemen menjadikan film ini menyenangkan untuk ditonton.

Di luar itu, meski dalam suasana perang, dan tegang, film ini akan membuat tawa dan menyentuh hati di saat yang sama. Ini yang menjadikan Allied, meski kerap disandingkan sama dengan plot beberapa film sebelumnya, menjadikan ia berbeda dan patut mendapat perhatian. (rah/rah)