Album Baru Montecristo setelah Enam Tahun 'Tidur'

Resty Armenia, CNN Indonesia | Rabu, 07/12/2016 21:02 WIB
Album Baru Montecristo setelah Enam Tahun 'Tidur' Montecristo meluncurkan album ke-dua di fisik dan digital. (dangquocbuu/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Band beraliran progresif rock asal Indonesia, Montecristo merilis album ke-dua, A Deep Sleep. Album itu berjarak enam tahun dari karya Montecristo sebelumnya.

Grup yang terdiri atas vokalis Eric Martoyo, gitaris Rustam Effendy, kibordis Fadhil Indra, pembetot bass Haposan Pangaribuan, gitaris Alvin Anggakusuma, dan penabuh drum Keda Panjaitan itu sebelumnya merilis album pertama Celebration of Birth pada 2010.

Eric menjelaskan, Montecristo mengambil tajuk dua ujung perjalanan hidup manusia dalam dua albumnya. Dalam Celebration of Birth, band ini bercerita tentang kelahiran. Sementara A Deep Sleep berkisah tentang kematian.


Rangkaian lagu dalam kedua albumnya, tutur Eric, memang bercerita tentang fase di antara kedua titik tersebut: kehidupan. Hanya satu kata, tapi berisi proses yang menurut Eric tak pernah sederhana. Ada kemanusiaan, pertemanan, perasaan berdosa, dan lain sebagainya.

Eric bercerita, A Deep Sleep mulai direkam sejak awal 2013 di beberapa studio di Jakarta. Proses kreatif dalam pembuatan album ini terbilang cukup pelan dan panjang, sehingga baru bisa rampung tiga tahun kemudian. Wajar saja, jika mereka bicara soal kehidupan.

"Biasanya kami masuk studio setelah matahari terbenam dan pulang saat matahari terbit. Dini hari adalah puncak kulminasi ide kreatif dalam proses rekaman album ini. Seperti album pertama, proses mastering album ini juga dikerjakan di Studios 301 di Sydney oleh Steve Smart," ujarnya dalam konferensi pers di Hard Rock Cafe Jakarta, Rabu (7/12).

Eric mengatakan, dalam meracik musik, Montecristo tetap mempertahankan formula 'rock yang berkisah.’ "Lewat lirik yang bertutur, kami menyampaikan cerita, menggarisbawahi pesan, dan mengajak pendengar berkontemplasi. Kami percaya, musik kendaraan tepat untuk itu.”

Pria asal Kalimantan Barat itu mengungkapkan, album fisik A Deep Sleep telah mulai disebarkan di Jawa dan kota-kota besar lainnya. Ia menuturkan, sekitar 1,5 bulan ke depan albumnya akan mulai masuk ke ranah penjualan digital melalui iTunes, Spotify, dan 300 toko digital lain di dunia. Ia optimistis albumnya kali ini bisa terjual sampai satu juta kopi.

Ide Lirik dari Hobi Melancong

Sebagai pengarang lirik utama Montecristo, Eric mengaku terbiasa menulis bait-bait lagunya saat pergi melancong. Ia merasa selalu mendapatkan ide segar untuk menulis saat sendiri. Tidak ada gangguan dari siapa pun dan apa pun.

"Saya memang suka traveling. Kalau orang lain tidur di pesawat, saya mulai menulis. Saya menikmati perjalanan jauh, itu saat terbaik untuk menulis. Setelah saya analisis, ternyata karena memang saya tidak sedang dikontak siapa pun saat itu," katanya.

Misalnya dalam lagu Alexander. Eric mengaku menulis lagu itu saat mengikuti tur napak tilas jejak sisa peninggalan Alexander Agung dari Kairo menuju Alexandria. Dalam perjalanan itu ia melewati padang pasir dan pemandangan indah lainnya.

"Saya juga suka baca karya sastra, seperti karya WS Rendra, Emha Ainun Najib, Pramoedya Ananta Toer, Putu Wijaya, Kahlil Gibran, dan lain sebagainya. Tapi karena mungkin saya tidak ditakdirkan menjadi penulis, sementara ini menulis lirik saja," ujarnya, terkekeh.

Rustam menambahkan, A Deep Sleep dipersembahkan untuk seorang sahabat yang juga musisi dan dianggap memiliki dedikasi tinggi memajukan musik progesif rock, Andy Julias. Andy wafat pada 17 Februari lalu.

"Banyak yang telah dia lakukan. Musik ini kan sulit dimasyarakatkan. Dia sangat militan, pernah beberapa kali mengadakan festival rock. Kami dedikasikan album ini untuknya dan dia untungnya sudah mendengar demonya waktu kami masih proses produksi," katanya.

Selain Alexander, A Deep Sleep terdiri dari sembilan lagu lainnya, yakni Mother Nature, The Man In A Wheelchair, Simple Truth, Ballerina, A Deep Sleep, A Blessing or A Curse?, Point Zero, Rendezvous, dan Nanggroe.