Carrie Fisher Jadi Seniman Bebas karena Menulis

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 28/12/2016 10:10 WIB
Carrie Fisher Jadi Seniman Bebas karena Menulis Carrie Fisher juga seorang penulis, selain aktris. (REUTERS/Mario Anzuoni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Carrie Fisher tidak sekadar menghafal dialog di lokasi syuting Star Wars saat dirinya pertama menjadi Princess Leia pada 1977. Memorinya juga mencatat. Hari demi hari, adegan demi adegan, ia tuangkan dalam tulisan.

Sampai akhirnya, tulisan itu dibukukan hampir 40 tahun kemudian. The Princess Diarist, buku terakhir Fisher, merupakan autobiografi dirinya termasuk saat bermain Star Wars. Dirilis bulan November lalu, itu membuat kejutan.

Pasalnya Fisher benar-benar blak-blakan. Ia bercerita tentang skandalnya dengan Harrison Ford, lawan mainnya sebagai Han Solo dalam film Star Wars. Saat itu Fisher sendiri masih berusia 19 tahun, sementara Ford sudah menikah.


Dalam bukunya Fisher menulis, tiga bulan ia punya skandal dengan Ford. Mereka menjadi Leia dan Han di depan kamera selama hari kerja, tapi Carrie dan Harrison di akhir pekan. Tidak ada cinta, semua murni nafsu belaka.

Ford tidak pernah berkomentar soal skandal itu. Fisher mengaku sempat memberinya kopi bukunya, meminta persetujuan untuk mempublikasikan skandal yang sudah tersimpan puluhan tahun. Ford sempat mengancam, tapi lalu bungkam.

Bagaimana pun, skandal itu masa lalu. Fisher pun sudah meninggal pada Selasa (27/12) setelah mengalami serangan jantung beberapa hari sebelumnya. Dunia hiburan berduka. Bintang-bintang Star Wars pun memberi penghormatan khusus.

Tapi The Princess Diarist membuktikan bahwa Fisher bukan hanya sekadar aktris. Ia lebih dari hanya pemain peran. Fisher juga penulis andal. Semasa hidupnya ia telah menerbitkan beberapa buku, yang ditulisnya sendiri.

Novel saja ada Postcards from the Edge, Surrender the Pink, Delusions of Grandma, Hollywood Moms, dan The Best Awful There Is. Ia juga menulis nonfiksi berjudul Wishful Drinking, Shockaholic, dan The Princess Diarist.

Tidak sedikit pula buku itu yang masuk daftar laris, setidaknya di USA Today. The Princess Diarist sendiri belum masuk daftar laris. Namun setelah kabar kematiannya pada Selasa pagi, sore harinya penjualan buku itu meningkat.

Fisher memang kutu buku. Masa kecilnya, setelah menghadapi perceraian orang tua pada usia dua tahun, dihabiskan dengan membaca sastra klasik. Ia juga gemar menulis puisi, sampai kesibukan berakting menyita waktunya.

Buku pertamanya dirilis pada 1987, Postcard from the Edge. Sebuah dongeng semi-autobiografi yang kemudian menjadi film dengan dibintangi Meryl Streep. Fisher juga yang menulis skenario untuk film tentang aktris muda Hollywood yang menjalani rehabilitasi obat dan menghadapi hubungan dengan ibunya itu.

Fisher mengaku, sebenarnya ia ingin membuat memoar yang humoris. Tapi memorinya selama direhabilitasi karena obat-obatan terus muncul. Ia pun menjadikan buku itu sebagai fiksi pada akhirnya. “Itu ketika saya butuh humor. Ketika tidak adas yang lucu. Saya di tempat terburuk dan tidak mati,” katanya.

Ia memang dikenal sebagai sosok yang blak-blakan dan lucu. Tulisannya pun akhirnya kebanyakan tentang kehidupannya sendiri. Keterbukaan dalam menulis pribadinya itu, mengutip USA Today, membuatnya jadi seniman yang bebas.

Lewat tulisan, Fisher memang sudah bebas. Karena sebelum jiwanya terbang akibat serangan jantung, setidaknya ia sudah mengungkapkan rahasia besarnya, yakni skandal dengan Ford, melalui tulisan. Karena menulis itu, membebaskan. (rsa/rsa)