Ulasan Film

'Istirahatlah Kata-kata': Film Puitis Wiji Thukul

Rahman Indra, CNN Indonesia | Kamis, 19/01/2017 13:27 WIB
'Istirahatlah Kata-kata': Film Puitis Wiji Thukul Sosok penyair yang menakutkan pemerintah karena kata-katanya itu dihidupkan lagi oleh sutradara Yosep Anggi Noen lewat film yang kontemplatif dan puitis. (Foto: Dok. Limaenam Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wiji Thukul menghilang. Polisi mencari dan memburunya hingga ke Solo.

“Kapan bapakmu pulang?” seorang pria bertampang keras dan berjaket kulit menanyai perempuan dan anak kecil di hadapannya.

Adegan berpindah ke satu pojokan kamar dengan latar seorang pria berambut keriting.


Istirahatlah kata-kata/ Janganlah menyembur-nyembur / Orang-orang bisu.
Tidurlah kata-kata / kita bangkit nanti / menghimpun tuntutan-tuntutan / yang miskin papa dan dihancurkan.

Untaian puisi karya Wiji Thukul itu lalu terdengar dibacakan, saat ia berada di sebuah kamar sempit di Pontianak, Kalimantan Barat. Ia berjarak ratusan kilometer dari rumahnya di Solo karena diburu polisi.

Adegan itu lalu berseling lagi dengan gambaran intel yang menggeledah kamarnya di Solo. Ada nuansa tegang dan tekanan yang kental dalam adegan. Perempuan dan anak kecil itu kemudian diketahui adalah Sipon, istri Thukul dan Fitri Nganthi Wani, anak perempuannya. Selang-seling adegan Solo-Pontianak itu menjadi adegan pembuka dari film Istirahatlah Kata-kata.

Di Pontianak, Thukul berdiam diri, ketakutan dan merintis jalan sunyi. Ia terisolasi, enggan keluar rumah dan hidup dalam was-was. Demi rasa aman, ia juga mesti berpindah tempat. “Kamar ini ada pintu lain, sekiranya saya mau lari?” ujarnya suatu kali penuh rasa khawatir.

“Hidup jadi buronan ternyata lebih menakutkan dari menghadapi sekelompok ‘kacang ijo’ kala demonstrasi,” ujar Thukul dalam tampilan yang jauh dari keadaan baik-baik saja. Rambutnya awut-awutan, bajunya lusuh, dan tubuhnya kurus kering. Hanya matanya yang terkena bekas poporan senjata yang tetap nyalang.

Di antara sunyi dan keterasingan itu, sejumlah karya puisinya yang terpilih, kemudian mengalir dibacakan lewat berbagai medium. Ada yang dibacakan lewat narasi, oleh dirinya sendiri, hingga karakter di film.

Selain sajak Istirahatlah Kata-kata, ada juga sajaknya yang lain yang dibacakan pemeran pendukung. Di antaranya: “Apa guna banyak baca buku, jika mulutmu bungkam melulu."

Lalu, ada puisi Bunga dan Tembok yang dibawakan dengan musikalisasi emosional oleh Merah Bercerita yang berkolaborasi dengan Cholil. Merah Bercerita adalah nama panggung Fajar, putra Wiji Thukul yang memberikan kata-kata Thukul menjadi penuh makna dan kuat lewat penyampaiannya.

Seumpama bunga / Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh / Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah/
Seumpama bunga / Kami adalah bunga yang tak Kau kehendaki adanya / Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi/ 

Semasa hidupnya, Wiji Thukul telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi. Di antaranya ada Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000). Namun, di luar itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya.

Gramedia Pustaka Utama, pada Maret 2014 lalu menerbitkan kumpulan puisi lengkap Thukul dengan judul Nyanyian Akar Rumput yang dirangkum Okky Madasari dan Arman Dhani. Total ada 171 puisi yang dibagi dalam 7 bab, yakni bab Lingkungan Kita si Mulut Besar (1), Ketika Rakyat Pergi (2), Darman dan Lain-lain (3), Puisi Pelo (4), Baju Loak Sobek Pundaknya (5), Yang Tersisih (6) dan Para Jendral Marah-marah (7).

‘Istirahatlah Kata-kata’: Film Puitis Wiji Thukul Jalan sunyi Wiji Thukul dalam pelariannya di film 'Istirahatlah Kata-kata'. (Foto: Dok. Limaenam Films)
Dari buku ke film

Film Istirahatlah Kata-kata memboyong kisah dan sajak Wiji Thukul yang selama ini ada di buku tersebut ke medium visual. Dari serangkaian kisah hidupnya yang dramatis, Yosep Anggi Noen, sebagai penulis naskah dan sutradara, memilih peristiwa pelarian Thukul dalam rentang waktu 1996-1998 sebagai latar cerita.

Pilihan ini tentu saja beralasan, dan alasan itu dibeberkan dengan gamblang dari awal film lewat teks narasi yang ditayangkan di adegan pembuka. Dalam teks itu disampaikan bagaimana Thukul menjadi seorang ‘menakutkan’ bagi pemerintah Soeharto yang mempelopori berdirinya Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kerusuhan yang direkayasa pada insiden Juli 1996 lalu menempatkannya sebagai satu dari daftar orang yang diburu.

Dari pijakan narasi ini, Anggi kemudian menghantar penonton pada kisah pelariannya yang misterius dan terasing. Jalan sunyi yang mendominasi sepanjang film seolah menjadi penanda bahwa hingga kini pun kehadiran Wiji Thukul tidak pernah diketahui dengan jelas, apakah ia hilang atau dihilangkan.

Anggi juga tak melepaskan imej Thukul sebagai penyair, malah mencoba menerjemahkan sosoknya ke layar dengan menjadikannya puitis, sunyi dan medium untuk berkontemplasi. Menikmati film ini juga kemudian tak jauh beda saat menikmati puisi dalam diam dan penuh tanda-tanda.

Tanda-tanda itu menyebar di hampir setiap adegan, antara lain ekspresi kosong Thukul, kegelisahan Sipon, anak muda berseragam polisi yang tak waras, hingga pertanyaan akan kartu tanda penduduk. Semua menjadi tanda-tanda yang saling terkait satu sama lain.

Di luar itu, Anggi menyelipkan sentuhan personal Thukul lewat perhatiannya yang besar untuk Sipon dan anak-anaknya, walaupan dalam masa pelarian. Sisi lain ini menjadi menarik karena jarang terungkap ke publik. 

‘Istirahatlah Kata-kata’: Film Puitis Wiji Thukul Salah satu adegan dalam film 'Istirahatlah Kata-kata'. (Foto: Dok. Limaenam Films)

Membangkitkan kata-kata

Seperti halnya Thukul yang bermain dengan kata-kata, Anggi yang pernah membuat film kontemplatif seperti Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) bermain dengan gambar. Istirahatlah Kata-kata dapat saja bermakna ganda untuk beristirahat sejenak (terasing di Pontianak), lalu membangkitkannya kembali.  

Selain skenario yang matang berkat riset mendalam, ia didukung elemen film lainnya yang kompak. Dari mulai musik pengiring, lanskap sunyi Pontianak, hingga para pemeran yang tepat.

Pemilihan Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul dapat dikatakan berhasil. Emosi yang dihadirkan aktor teater kawakan ini menjalar dan membuat yang melihatnya turut merasakan kegelisahan, dan rasa keterasingan.

Begitu juga dengan Marissa Anita yang memerankan Sipon. Ia bermain juga tak kalah meyakinkannya, meski akan ada banyak yang sanksi karena wajahnya yang dianggap kontras dengan Sipon sebenarnya. Adegan ketika ia menatap kosong, mengungkapkan kekesalannya pada tetangga atau saat ia akhirnya tak tahan untuk tak menangis adalah beberapa momen yang akan menempel di ingatan.

Di luar kedua pemeran itu, para pemain lain, seperti Melanie Subono, Edward Boang, Dhafi Yunan, dan Joned Suryatmoko membuat film ini menjadi kuat dan berjalan alami tanpa ada yang janggal dan membuat dahi berkerut.

‘Istirahatlah Kata-kata’: Film Puitis Wiji Thukul Adegan Wiji Thukul dalam pelariannya di Pontianak, di film 'Istirahatlah Kata-kata'. (Foto: Dok. Limaenam Films)

Istirahatlah Kata-kata pada akhirnya adalah upaya Anggi dan produser lainnya, Okky Madasari, Yulia Evina Bhara dan Tunggal Pawestri untuk membangkitkan lagi Thukul dari istirahatnya. Film ini menjadi produksi kolaborasi Muara Foundation, Kawan Kawan Film, Partisipasi Indonesia dan Limaenam Films yang hadir sebagai pengingat akan sosok dan karya penyair yang menakutkan rezim pemerintah lewat kata-katanya, dan menghilang tanpa kabar pasti ketika rusuh 1998.

Jika Wiji Thukul bersuara lewat kata-kata, Anggi Noen menyampaikannya lewat gambar. Keduanya sama-sama terdengar lantang dalam diam.