Ini merupakan edisi ke-tujuh Art Stage di Negeri Singa. Acara ini dianggap berperan dalam melestarikan ekosistem seni kontemporer di Singapura dan Asia Tenggara.
Ratusan artis dari seluruh dunia berlomba memamerkan hasil karyanya. Selain memanjakan mata, menambah pengetahuan dengan memandangi kreasi menakjubkan, dan berbelanja koleksi seni baru, pengunjung juga bisa menghadiri pameran dan perkuliahan dalam Southeast Asian Forum, Collectors' Stage, dan Exhibitor Highlights.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Out of Control (Yudi Sulistyo, Indonesia)
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaKarya yang dipersembahkan oleh Pearl Lam Galleries ini sejatinya ingin menceritakan soal latar belakang terjadinya peperangan secara umum. |
Out of Control dipajang di pojokan ruang utama Southeast Asia Forum Exhibition-Project Highlights. Karya yang dipersembahkan oleh Pearl Lam Galleries ini sejatinya ingin menceritakan soal latar belakang terjadinya peperangan secara umum.
Sang artis berpandangan bahwa banyak perang terjadi demi keuntungan, dibekingi oleh pihak-pihak yang mencari tambahan keuntungan dari konflik, atau untuk melindungi sumber daya geologis agar industri terus berjalan.
Yudi menganggap akumulasi militer sebagai elemen laten dari sistem kapitalis global masa kini di mana semakin banyak pihak yang berjuang untuk mendesak kekuatan transnasional dan kontrol atas sumber daya serta institusi global.
Pemakaian material daur ulang oleh Yudi untuk menciptakan mesin perang 'kertas macan' menyinggung kepada pemborosan sumber daya yang berlebihan dalam industri pembuatan senjata dan kesia-siaan besar dari adanya kemiliteran yang agresif.
Lulus dari Komunikasi Desain dan Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1994, Yudi tinggal dan bekerja di Kota Gudeg. Pahatan realistis peralatan militernya dibuat dari karton dengan detail-detail yang diciptakan penggunaan kembali barang biasa dan peralatan rumah tangga, seperti botol dan bungkus korek api.
Sejak kecil Yudi mulai tertarik menciptakan karya yang nyaris tidak dapat dibedakan dari fungsi asli barang bakunya itu. Ia mengaku sering menghabiskan waktu masa kecilnya dengan menonton film-film perang bersama ayahnya dan memperbaiki mainan yang rusak dengan kretif.
2. Stake and Skewer (Svay Sareth, Kamboja)
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia'Stake or Skewer' mengaitkan sebuah tongkat yang biasanya dipakai oleh penjaja berjalan untuk menggotong 17 sandal. |
Namun, Svay Sareth memiliki latar belakang yang agak menyedihkan dalam membuat karyanya ini. Pembuatan dua kreasi seniman asal Siam Reap ini dipicu oleh konfrontasi dengan sebuah pabrik sepeda motor yang menjual sandal ban karet yang memiliki nilai simbolis tinggi di kampung halamannya pada 2015.
Tersulut amarahnya, Svay lantas membeli setiap pasang sandal yang ada untuk persediaan sebagai bentuk perlawanan terhadap penyusunan kembali kekuasaan otoriter, dari komunisme ke kapitalisme, dalam hidupnya.
Stake or Skewer mengaitkan sebuah tongkat yang biasanya dipakai oleh penjaja berjalan untuk menggotong 17 sandal, sebagai simbol jumlah tahun yang Svay habiskan untuk ikut perang, bekerja, dan berada di tenda pengungsi.
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaSvay membuat sandal ban karet menggunakan mulut, lidah, dan giginya. |
Duduk di sebuah perkampungan komunitas miskin, Svay menggerogoti dan meludahkan 'makanannya,' menolak ideologi lain yang mematikan rasa dan memecah-belah masyarakat. Ia membuat sandal ban karet itu tanpa menggunakan peralatan apapun. Alih-alih, ia menggunakan mulut, lidah, dan giginya untuk menciptakan alas kaki ikonis itu.
3. Horse (Kawayan de Guiya, Filipina)
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia'Kuda' ini terbuat dari pita film dan gulungan video. |
Yang membuat 'kuda' ini berbeda adalah cara bagaimana ia 'dilahirkan' oleh Kawayan de Guiya pada 2011 silam, yakni melalui susunan ribuan pita film dan gulungan video yang berdurasi 1 jam 42 menit.
4. More We, Less Me (TROMARAMA, Indonesia)
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia'More We, Less Me' merupakan kreasi triptych atau satu set dari tiga karya yang berhubungan dan secara sengaja dibuat untuk dipajang secara berdampingan. |
More We, Less Me merupakan kreasi triptych atau satu set dari tiga karya yang berhubungan dan secara sengaja dibuat untuk dipajang secara berdampingan. Setiap salib berukuran 236 x 190 x 10 sentimeter. Di dalam ketiga salib itu terdapat hasil X-ray tubuh ketiga artis yang ditampilkan dengan indah menggunakan rangkaian plexi-glass, stainless steel, dan LED strip.
TROMARAMA menciptakan kreasi ini pada 2011 silam dan menjadi koleksi Umahseni Gallery, Indonesia.
5. English Deleted (Moffat Takadiwa, Zimbabwe)
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaInstalasi abstrak ini dibuat oleh seniman asal Zimbabwe, Moffat Takadiwa. |
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaInstalasi ini terdiri dari ribuan tombol kibor komputer dan laptop. |
Koleksi privat Jim Amberson ini dibuat artis Zimbabwe, Moffat Takadiwa pada 2016. Karya ini dipamerkan dalam ruangan Collector's Stage 2017: Expose Artworks. (res/rsa)
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia