Comot Lagu Kampanye, dari Ahmad Dhani sampai Donald Trump

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 07/04/2017 11:05 WIB
Comot Lagu Kampanye, dari Ahmad Dhani sampai Donald Trump Saat kampanye, Donald Trump pun banyak menggunakan lagu tanpa izin. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sentakan gairah di lagu-lagu bersemangat, sering didendangkan di kesempatan berbeda. Bukan lagi di atas panggung untuk menghibur. Penggalan lagu itu juga sering ditemukan di stadion olahraga untuk penyemangat tim idola, yel-yel di kampus, iklan komersial, bahkan seruan kampanye politik.

Kadang digubah, kadang dinyanyikan begitu saja.

Dalam kampanye Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang belakangan menjadi perbincangan misalnya. Mereka menggunakan melodi dari lagu Hashem Melech yang dinyanyikan musisi Israel Gad Elbaz, yang ternyata juga menyontek awalan C’est la Vie lagu Khaled, musisi asal Aljazair.


Persoalan comot-mencomot lagu dalam kampanye politik sudah punya riwayat panjang. Sebelum Anies-Sandi menggunakan Hasem Melech atau C’est la Vie, lagu yang sama pernah digunakan Anies Matta saat kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 2014. Nadanya persis.

Meskipun belakangan, PKS maupun tim sukses Anies-Sandi membantah mereka menjiplak lagu itu.
Sebelumnya, musisi besar Ahmad Dhani pernah bikin gara-gara dengan band dunia, Queen. Ia menggunakan salah satu lagu mereka, We Will Rock You, dalam kampanye dukungan terhadap Prabowo saat Pemilihan Presiden Indonesia, juga 2014. Itu diubah jadi Indonesia Bangkit.

Gitaris Queen sendiri, Brian May saat itu langsung menanggapi Dhani. “Tentu saja ini tidak mendapat izin dari kami. Bri,” demikian ia menulis di Twitter sembari memberi inisial.

Dhani pun mengakui bahkan ia memang tidak meminta izin dari Queen untuk menggubah lagu itu, yang ironisnya ia sandingkan dengan seragam dan gaya Nazi. Namun ia beruntung, saat itu namanya hanya jadi perbincangan khalayak ramai, terutama netizen. Tak ada upaya hukum.
Bukan hanya di Indonesia, kasus serupa juga terjadi di ‘kiblat’ hiburan dunia, Amerika Serikat. Donald Trump berkali-kali mendapat protes dari musisi saat lagu mereka dipakai dalam kampanyenya, ketika Pemilihan Presiden dari Partai Republik pada 2015 lalu.

Setidaknya ada tujuh musisi yang lagunya digunakan Trump dalam kampanye: I Want it That Way (Backstreet Boys), You Can't Always Get What You Want (Rolling Stones), It's the End of the World as We Know It (And I Feel Fine) (REM), Adele, Aerosmith, Rockin' in the Free World (Neil Young), dan We are The Champion (Queen). Semua geram atas tingkah Trump itu.

Masing-masing musisi protes ke media maupun dunia maya, meminta Trump tak menggunakan lagu mereka. Ada yang bahkan terang-terangan mengajak penggemarnya tak memilih Trump.
Namun, lagi-lagi, tidak ada yang sampai berujung penuntutan hukum soal pelanggaran hak cipta atau penyalahgunaan karya.