Glastonbury Bayar Rp13,3 M untuk Bersihkan Ribuan Ton Sampah

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 27/06/2017 10:30 WIB
Glastonbury Bayar Rp13,3 M untuk Bersihkan Ribuan Ton Sampah Glastonbury menyisakan ribuan ton sampah yang harus dibersihkan dengan biaya Rp13,3 miliar. (REUTERS/Dylan Martinez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanah lapang di Worthy Farm, Mendip, Inggris itu kini kosong melompong. Tak ada lagi ribuan manusia yang memenuhinya. Padahal Rabu (21/6) hingga Senin (26/6) lalu, masyarakat lintas usia, remaja sampai dewasa, bersorak mengelukan Katy Perry sampai Ed Sheeran.

Sheeran menutup festival musik luar ruang yang paling ditunggu di Inggris, Glastonbury. Meski penampilannya disebut tak maksimal, ia mengantar sekitar 200 ribu pencinta musik kembali ke rumah masing-masing. Festival itu hanya menyisakan memori, dan segudang sampah.


Seperti diberitakan Daily Mail, sampah berserakan di Worthy Farm usai Glastonbury berakhir. Tenaga pembersih yang membuat panitia festival itu mengeluarkan 785 ribu poundsterling atau Rp13,3 miliar untuk membersihkan area usai acara pun, mulai digerakkan.
Glastonbury bukan hanya menyisakan memori, tetapi juga timbunan sampah.Glastonbury bukan hanya menyisakan memori, tetapi juga timbunan sampah. (AFP PHOTO / OLI SCARFF)
Pagi hari setelah festival berakhir, terlihat 800 tenaga pembersih sampah memunguti plastik makanan maupun kantong kertas di lahan festival seluas hampir 365 hektar itu. Mereka ‘berebut’ sampah bersama puluhan burung camar yang mencoba mengais makanan di sana.


Disebutkan, peserta festival meninggalkan 57 ton barang yang bisa digunakan kembali, 1.022 ton sampah yang bisa didaur ulang dan 500 ribu karung sampah yang berisi lainnya.
Peserta festival ada yang masih betah di lokasi meski Glastonbury telah usai.Peserta festival ada yang masih betah di lokasi meski Glastonbury telah usai. (REUTERS/Dylan Martinez)
Burung camar pun ikut mengais sampah di area Glastonbury.Burung camar pun ikut mengais sampah di area Glastonbury. (REUTERS/Dylan Martinez)
Padahal panitia festival sudah berusaha maksimal untuk mengimbau peserta soal sampah. Mereka yang membawa tenda untuk berpesta musik enam hari lima malam, sudah diingatkan untuk membawa tendanya pulang alih-alih meninggalkannya di lokasi itu.

Poster bertuliskan “Cintai lingkungan, jangan tinggalkan sampah” juga dipasang di mana-mana. Lebih dari itu, 514 gerai makanan di sana sudah diminta untuk menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan, dan pembelinya diimbau untuk membuang sampah pada tempatnya.

Tetap saja, sampah masih berserakan.


Kondisi semacam itulah yang membuat penggagas festival Michael Eavis meniadakan Glastonbury pada 2018. Ia menyebut itu sebagai ‘fallow year’ alias tahun yang sengaja dikosongkan untuk membuat Worthy Farm ‘bernapas’ kembali dari gegap gempita pesta.
Timbunan sampah di Glastonbury.Timbunan sampah di Glastonbury. (REUTERS/Dylan Martinez)
Itu merupakan ‘rehat’ yang selalu diambil setiap enam tahun sekali. “Tempat ini butuh istirahat. Begitu juga dengan desa ini dan kehidupan di sekitarnya,” kata Eavis.

Namun Glastonbury akan kembali pada 2019.
Lahan seluas 365 hektar yang menjadi lokasi Glastonbury dipenuhi sampah.Lahan seluas 365 hektar yang menjadi lokasi Glastonbury dipenuhi sampah. (REUTERS/Dylan Martinez)
Terdapat 800 pemungut sampah yang menyisir area seluas 365 hektar.Terdapat 800 pemungut sampah yang menyisir area seluas 365 hektar. (AFP PHOTO / OLI SCARFF)
Tahun selanjutnya, 2020, Glastonbury akan berusia 50 tahun. Ia masih menjadi festival musik paling ditunggu, yang dihadiri artis baik sebagai penampil maupun penonton, yang tiketnya ludes dalam hitungan menit, dan yang membuat pencinta musik rela macet-macetan dan hidup bertenda bahkan di tengah lumpur selama berhari-hari demi bersenang-senang.