logo CNN Indonesia

Cuaca, 'Awan Mendung' Festival Musik Luar Ruangan

, CNN Indonesia
Cuaca, 'Awan Mendung' Festival Musik Luar Ruangan Penyelenggara festival musik menyebut cuaca menjadi tantangan utama saat menggelar acara di luar ruangan. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyelenggara festival musik menyatakan bahwa cuaca menjadi tantangan utama saat menggelar acara di luar ruangan. Itu pula yang menjadi salah satu perbedaan mencolok antara festival musik di dalam dan luar ruangan.

Perbedaan itu dipaparkan oleh perwakilan Ismaya Live serta Java Festival Production saat dihubungi CNNIndonesia.com baru-baru ini.

"Festival kami DWP (Djakarta Warehouse Project) dan WTF (We The Fest) memadukan outdoor dan indoor. Hanya saja memang indoor lebih aman kalau hujan, tapi tidak mempengaruhi jalannya acara," kata Kevin Wiyarnanda, staf humas dan media Humas Ismaya Live.

Kepala Promosi Java Festival Production Ressanda Tamaputra pun menyatakan hal yang sama. Menurutnya, secara skala produksi dan pengerjaan, festival musik luar serta dalam ruangan sebenarnya sama saja. Kendala cuacanya yang berbeda.

"Kalau kami hampir selalu menggabungkan outdoor dan indoor, kecuali Java Rocking Land waktu itu sempat ada indoor satu saja. Dan kendala kalau outdoor itu cuaca. Biasanya kami melihat itu buruk untuk penonton atau alatnya atau tidak," ujarnya.
Mengakali itu, penyelenggara biasanya memutar otak untuk mencari jalan keluar. Salah satu andalan mereka, tak lain, adalah pawang hujan.

"Untuk antisipasi [cuaca] kami sewa pawang hujan, walau ujung-ujungnya kembali ke Yang Maha Kuasa. Kami selalu berpikir positif dan berdoa juga untuk itu," katanya saat berbagi soal persiapan gelaran We The Fest akhir pekan ini.

Senada dengan Kevin, menurut Ressanda, gelaran festival yang diselenggarakan Java Festival Production kerap menggunakan pawang hujan sebagai wujud nyata dari peribahasa ’sedia payung sebelum hujan.’

"Selalu menggunakan [pawang hujan]. Tapi ya mau pakai 10 pawang pun, kalau sudah hujan ya hujan. Kami pernah merasakan itu di Java Jazz dan Java Rocking Land dulu," ujarnya.

Dia menambahkan, bila cara tersebut tak manjur, maka persiapan dari manajemen panggung menjadi hal utama yang dilakukan.

"Biasanya dari manajemen panggung langsung melihat mengganggu atau tidak, bahaya tidak dari listriknya. Kalau iya, maka SOP-nya adalah artis tertentu jadi tampil lebih cepat untuk keselamatan," imbuh Ressanda.
Pertimbangan memilih menggelar festival musik dalam atau luar ruangan, ditambahkan Ressanda, juga bergantung pada karakter musik dan konsep yang diusung.

"Misalnya, Java Rocking Land itu dengan musik rock yang lebih dinamis, menggunakan outdoor. Ada juga satu panggung indoor di sana tapi pemilihan artisnya disesuaikan, seperti Payung Teduh dan Pure Saturday," ujarnya.
(res/rsa)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Dendang Tanpa Ruang
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video