'Festival Musik Luar Ruangan Berisiko, Namun Lebih Memikat'

Resty Armenia, CNN Indonesia | Sabtu, 12/08/2017 16:15 WIB
'Festival Musik Luar Ruangan Berisiko, Namun Lebih Memikat' Akhir-akhir ini makin banyak festival musik yang digelar di luar ruangan di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akhir-akhir ini makin banyak festival musik yang digelar di luar ruangan di Indonesia. Bukan tak beralasan, karena meski berisiko lebih tinggi, festival jenis ini ternyata dinilai lebih memikat massa.

Masyarakat, khususnya anak muda, di kota-kota besar kini tak perlu pusing untuk mencari hiburan. Penyelenggara acara berskala akbar beberapa tahun belakangan gencar menggelar acara-acara musik di luar ruangan yang di dalamnya terdapat juga bazar makanan, pakaian, dan segala macam.

Festival musik akbar yang digelar tahunan ini misalnya We The Fest, Djakarta Warehouse Project, Soundrenaline, Hammersonic, Java Jazz dan masih banyak lagi.
Psikolog musik Djohan Salim menjelaskan, meski berisiko karena cuaca yang seringkali tak menentu, festival musik di luar ruangan lebih memikat massa ketimbang yang di dalam ruangan. Karenanya, para penyelenggara biasanya tak terlalu memusingkan terkait persoalan ini.


Djohan menuturkan, festival yang digelar di ruangan terbuka paling cocok untuk musik bergenre rock, metal, elektronik, pop dan, kadangkala jazz. Genre-genre ini, menurutnya, banyak digandrungi hingga kini.

“Musik serius atau musik seni biasanya di dalam ruang, karena kalau di luar ruang itu masalah risiko suara akustiknya. Jadi kalau musik elektronik, terutama seperti musik industri pop itu memang biasanya di luar ruangan,” ujar Djohan saat berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon beberapa saat lalu.
Djohan berpandangan, acara musik yang digelar di luar ruangan ini lebih memikat dan ke depan perkembangannya akan semakin kuat dari yang di dalam ruangan. Ia bahkan menyebut festival musik outdoor sebagai industri, sementara indoor sebagai wadah untuk menampilkan musik seni nan serius.

“Musik yang ditampilkan indoor tidak begitu bisa dijual dan tidak bisa menang dari musik non-serius maupun musik pop, karena musik seni itu persoalannya orang mendengarkan belum menggunakan pikiran, kognisinya perlu ada modal. Ini memang segmented sekali,” ujarnya.

“Jadi kalau kita bicara tentang ekonomi kreatif ya memang (acara musik) outdoor itu, karena dia memang tidak ada kepentingan khusus untuk musiknya. Bisa jadi musik (dalam sebuah festival musik) hanya sebagai media memanggil orang atau mengumpulkan massa,” imbuhnya.
Direktur Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) ini memaparkan, sejak zaman kolonialisme memang sudah banyak acara musik yang digelar di luar ruangan. Bahkan tak jarang di antaranya dijadikan sebagai media berpolitik, sehingga festival musik ini sering dikategorikan sebagai seni pertunjukan, bukan hanya seni suara.

“Dari zaman dahulu ketika belum merdeka, ketika masih jajahan Belanda, misalnya, ada tradisi seperti panggung rakyat. Itu pun orang-orang berjualan. Jadi sebetulnya ekonomi kreatif seperti itu sudah lama kita menjalaninya. Itu termasuk juga hiburan, jadi orang masuk tidak cuma untuk satu tujuan,” katanya.