Stan Lee Pernah 'Ramal' soal Fanatisme Sejak 50 Tahun Silam

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 16/08/2017 14:46 WIB
Stan Lee Pernah 'Ramal' soal Fanatisme Sejak 50 Tahun Silam Stan Lee ternyata sudah pernah meramal soal 'fanatisme' yang dirasa muncul kembali saat ini. Ia menyinggung soal itu sejak 50 tahun lalu. (REUTERS/Kevork Djansezian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kartunis legendaris Marvel, Stan Lee, ternyata sudah 'meramal' situasi sosial fanatisme sejak 50 tahun yang lalu. Kala itu, ia menuliskan pendapatnya dalam sebuah kolom buletin yang diterbitkan Marvel Comics.

Kini, Lee mengunggah kembali tulisannya pada 1968 yang ternyata masih terkait dengan situasi sosial saat ini, terkait fanatisme dan rasisme. Ia mengunggah tulisannya tersebut di akun Twitter miliknya.

"Situasi saat ini sama seperti pada 1968. Pax et Justitia - Stan," tulis Lee bersamaan dengan gambar yang berisi pendapatnya soal situasi pada 1968.




Tulisan tersebut dibuat pada tahun terjadinya pembunuhan Martin Luther King Jr dan Robert F Kennedy, serta ketika Amerika Serikat mengesahkan Undang-undang Sipil.

"Rasisme dan fanatisme adalah penyakit sosial paling mematikan yang mengganggu dunia saat ini," tulis Lee, hampir 50 tahun lalu.

"Namun, tidak seperti penjahat super berkostum, mereka tidak dapat dihempas dengan senjata. Cara satu-satunya mengalahkan mereka, adalah menunjukkannya, membongkar kejahatan yang tersimpan dalam diri mereka," katanya.
"Mereka yang fanatik adalah pembenci yang tidak rasional, orang yang membenci secara membabi buta, fanatik, tanpa pandang bulu," lanjut Lee.

Menurut Lee, wajar bila seseorang tidak sepakat atau suka dengan pihak lain. Namun, dalam kasus fanatisme, ia menyebut kaum fanatisme dengan sebutan 'tidak rasional'.

"Mereka benar-benar tidak rasional, secara terbuka dan gila mengutuk seluruh ras, memandang rendah seluruh orang, menjelekkan agama lain," kata Lee.
Lee mengatakan dalam kolom tersebut, cepat atau lambat, setiap orang akan belajar menilai pihak lain berdasarkan keuntungannya.

"Cepat atau lambat, bila seorang ingin memiliki kehidupan yang berharga, ia harus mengisi hatinya dengan toleransi," kata Lee.

Lee diketahui kerap memberikan pesan moral dan sosial dalam karyanya, seperti pada serial X-Men yang menggambarkan pergerakan hak asasi manusia. (end)