'Pengkhianatan G30S/PKI' Pernah Jadi Film Terlaris Indonesia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 19/09/2017 11:02 WIB
Sepanjang 1984 hingga 1995, film itu ditonton sekitar 700 ribu orang dan menjadi film komersial pertama tentang peristiwa 1965. Film 'Pengkhiatan G30S/PKI' diwacanakan akan diputar kembali. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dan 2 boleh ditonton jutaan orang dalam waktu singkat. Film yang dibintangi Tora Sudiro, Vino G. Bastian dan Abimana Aryasatya itu menembus angka enam juta penonton dan jadi film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Mereka mengalahkan Danur, horor yang sempat hit di kalangan pencinta film, bahkan cerita inspiratif Laskar Pelangi yang diadaptasi dari buku laris karya novelis Andrea Hirata.

Namun sebelum film-film modern itu, selama bertahun-tahun yang bercokol sebagai film laris Indonesia adalah Pengkhianatan G30S/PKI, yang belakangan diributkan lantaran ada wacana untuk menayangkannya kembali. Setidaknya demikian menurut data filmindonesia.or.id.



Hingga 1995, Pengkhianatan G30S/PKI ditonton hampir 700 ribu orang.

Film yang disutradarai Arifin C. Noer ini membuat heboh dengan memecahkan rekor penonton pada 1984. Angka penontonnya tak tergoyahkan oleh film mana pun saat itu, sampai 1995.

Membuat film dokudrama tentang cerita pembantaian tujuh jenderal itu tidak mudah. Diproduseri G. Dwipayana, film itu dibuat selama sekitar dua tahun. Butuh Rp800 juta untuk memproduksinya. Uang yang tidak sedikit, terutama di zaman itu. Tapi Soeharto ‘membantu.’


Diproduksi oleh PPFN, Pengkhianatan G30S/PKI menjadi film komersial pertama yang berani bercerita soal peristiwa 1965. Di tahun rilisnya, film itu dinominasikan memeroleh tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia dan membawa pulang satu piala.

Piala Citra kali itu untuk Arifin C. Noer yang diganjar Skenario Terbaik.

Setahun setelahnya, pada 1985 film itu masih mendapat penghargaan di FFI, kategori Film Unggulan Terlaris 1984-1985. Hadiah yang dibawa pulang adalah Piala Antemas.

[Gambas:Video CNN]

Bukan hanya laris di bioskop, film itu dahulu juga ditayangkan di televisi selama bertahun-tahun setiap 30 September. Para pelajar pun wajib menonton film itu. Baru pada 1998 setelah Soeharto turun, Menteri Penerangan memutuskan film itu tak lagi ditayangkan.

Karya yang semula berjudul Sejarah Orde Baru itu dianggap merekayasa sejarah selama bertahun-tahun dan mengusung ide pengkultusan Soeharto ke otak para penontonnya.

PPFN alias Perum Propduksi Film Negara, yang memproduksi film itu, memang bertugas menyensor dan mengontrol perfilman yang beredar di Tanah Air kala itu. Disebut-sebut, G. Dwipayana dari PPFN lah yang sebenarnya mengatur plot Pengkhianatan G30S/PKI.


Arifin C. Noer, suami Jajang C. Noer hanya sutradara dan tak terlalu memasukkan ide kreatif. G. Dwipayana bukan hanya Ketua PPFN. Ia juga staf presiden dan anggota militer.

Film itu disebut-sebut perlu ditayangkan kembali belakangan ini. Presiden Joko Widodo belum mengamini wacana itu, namun ia menyebutkan perlunya menonton film PKI agar tahu bahayanya kelompok yang dituding ingin menguasai negara itu. Hanya saja, Jokowi mengatakan, butuh versi yang lebih kekinian agar “masuk ke generasi-generasi milenial.”
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK