Bukan tanpa alasan, mengapa sinetron tersebut digemari masyarakat Indonesia walaupun banyak mengandung konten negatif seperti kata-kata kasar, kekerasan, maupun jalan cerita yang tidak logis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Devie menjelaskan, hal itu terjadi lantaran masyarakat sudah disibukkan dengan kegiatan sehari-hari yang melelahkan.
Lewat sinetron televisi yang banyak berisi kata-kata kasar, kekerasan, dan dramatis yang bisa memicu air mata, penonton seperti menyalurkan emosi yang sudah terpendam.
Tayangan drama itu juga dinilai dekat dengan kondisi masyarakat Indonesia sehingga memiliki kedekatan emosi dengan kehidupan para penonton.
Lihat juga:Dilema KPI Setop Siaran Televisi Bermasalah |
Selain itu, kata Devie, melalui sinetron masyarakat seakan diajak bernostalgia lewat adegan romantis, atau dengan sahabat dan orang tua. Masyarakat seolah ikut terlibat dalam adegan itu.
"Misalnya urusan percintaan digambarkan dengan begitu mudah menemukan pasangan yang tampan dan kaya dalam waktu singkat. Seakan-akan masyarakat ikut terlibat dalam peristiwa itu," tutur Devie.
Di sisi lain, ada pula kondisi ironi. Devie memaparkan, kondisi ini terjadi pada masyarakat yang umumnya berpendidikan. Mereka mengetahui bahwa tayangan televisi tidak bermutu, namun tetap saja menikmati tayangan tersebut.
Menurut Devie, mereka tetap menikmati lantaran ketika menonton merasa menjadi diri sendiri atau malah menertawakan diri sendiri.
Walaupun menilai siaran televisi baik untuk melepas stres, Devie menyarankan agar masyarakat tidak berlebihan menonton sinetron.
"Tetap harus menentukan dosisnya, apalagi anak-anak," ujarnya.
Bagi pegiat industri televisi, Devie menghimbau agar membuat program yang menunjukkan karakter bangsa.
"Program yang menjauhkan dari jati diri bangsa perlu dikritik, misalnya bermesraan yang berlebihan itu tidak sesuai dengan budaya ketimuran Indonesia," kata Devie.
Lihat juga:Taktik Bandel Televisi Kerek Rating |