Drama Sinetron Jadi Pelepas Emosi dan Stres Masyarakat

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 23/09/2017 10:52 WIB
Drama Sinetron Jadi Pelepas Emosi dan Stres Masyarakat Ilustrasi. (Pixabay/Funnytools)
Jakarta, CNN Indonesia -- Program sinetron dan komedi di televisi Indonesia selalu menempati posisi deretan rating teratas seperti, Dunia Terbalik di RCTI, Jodoh Wasiat Bapak di ANTV dan Anak Langit di SCTV. Sinetron-sinetron itu menguasai posisi teratas dan berebut tempat pertama.

Bukan tanpa alasan, mengapa sinetron tersebut digemari masyarakat Indonesia walaupun banyak mengandung konten negatif seperti kata-kata kasar, kekerasan, maupun jalan cerita yang tidak logis.

Menurut pengamat sosial budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati, ada beberapa alasan yang menyebabkan masyarakat Indonesia gemar menonton drama yang memiliki narasi rendah dengan balutan komedi. Salah satu alasan tersebut yakni untuk melepas emosi dan stres yang dirasakan masyarakat.


"Tayangan sinetron maupun komedi itu menguras emosi sehingga membantu masyarakat menurunkan tingkat depresi yang dimiliki," kata Devie kepada CNNIndonesia.com.

Devie menjelaskan, hal itu terjadi lantaran masyarakat sudah disibukkan dengan kegiatan sehari-hari yang melelahkan.

Dalam kegiatan itu, masyarakat bertemu dengan beragam situasi emosi seperti marah, kesal, sedih dan sebagainya. Namun, budaya masyarakat Indonesia terbiasa untuk tidak mengungkapkan emosi itu secara langsung demi menjaga keharmonisan.

Lewat sinetron televisi yang banyak berisi kata-kata kasar, kekerasan, dan dramatis yang bisa memicu air mata, penonton seperti menyalurkan emosi yang sudah terpendam.

Tayangan drama itu juga dinilai dekat dengan kondisi masyarakat Indonesia sehingga memiliki kedekatan emosi dengan kehidupan para penonton.

Selain itu, kata Devie, melalui sinetron masyarakat seakan diajak bernostalgia lewat adegan romantis, atau dengan sahabat dan orang tua. Masyarakat seolah ikut terlibat dalam adegan itu.

"Misalnya urusan percintaan digambarkan dengan begitu mudah menemukan pasangan yang tampan dan kaya dalam waktu singkat. Seakan-akan masyarakat ikut terlibat dalam peristiwa itu," tutur Devie.

Di sisi lain, ada pula kondisi ironi. Devie memaparkan, kondisi ini terjadi pada masyarakat yang umumnya berpendidikan. Mereka mengetahui bahwa tayangan televisi tidak bermutu, namun tetap saja menikmati tayangan tersebut.

Menurut Devie, mereka tetap menikmati lantaran ketika menonton merasa menjadi diri sendiri atau malah menertawakan diri sendiri.

Walaupun menilai siaran televisi baik untuk melepas stres, Devie menyarankan agar masyarakat tidak berlebihan menonton sinetron.

"Tetap harus menentukan dosisnya, apalagi anak-anak," ujarnya.

Bagi pegiat industri televisi, Devie menghimbau agar membuat program yang menunjukkan karakter bangsa.

"Program yang menjauhkan dari jati diri bangsa perlu dikritik, misalnya bermesraan yang berlebihan itu tidak sesuai dengan budaya ketimuran Indonesia," kata Devie.
[Gambas:Video CNN] (res/res)