Kolaborasi Seni Budaya Indonesia-Inggris Mejeng Lagi

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Rabu, 18/10/2017 05:38 WIB
Kolaborasi Seni Budaya Indonesia-Inggris Mejeng Lagi Indonesia dan Inggris kembali menunjukkan kebolehan keduanya berkolaborasi dalam seni budaya di acara UK/ID Festival 2017. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki seni dan budaya yang berbeda tak menghalangi Indonesia juga Inggris berkolaborasi. Kedua negara tersebut kali ini kembali berkolaborasi mulai dari bidang musik, film, hingga pameran seni.

Bertajuk UK/ID Festival 2017, seniman kedua belah negara saling bertukar ide dan bekerjasama dari segi kreativitas lalu dipamerkan dalam ajang yang dimulai Selasa (17/10) hingga Minggu (22/10) tersebut.

"Ini festival enam hari penuh dengan keunikan yang terdiri dari 18 acara dan satu pameran hasil kolaborasi para seniman dari dua negara," kata Direktur Seni dan Kreatif British Council Indonesia Adam Pushkin saat membuka helatan UK/ID Festival 2017, Selasa (17/10).



Acara yang diadakan di The Establishment, Senayan, dan mengangkat tema Come Together itu dibuka dengan pemutaran film England Is Mine, film musikal yang mengisahkan perjuangan karier musisi Morissey.

Usai pemutaran film, musisi kedua negara yaitu Chloe Martin (Inggris) dan Neonomora (Indonesia) tampil memeriahkan acara.

Dalam acara ini, Indonesia akan menunjukkan kebolehannya menjadi musik pengiring film bisu karya Inggris. Sjuman School of Music dijadwalkan bermain orkestra sembari mengiringi film bisu mahakarya Alfred Hitchcock pada 1927, The Lodger: A Story of the London Fog.

Adapula film terbaru dari sutradara Inggris, George Clark yang bakal bekerja sama dengan Hanyaterra, kumpulan pemain musik keramik asal Jatiwangi, Jawa Barat.

Kolaborasi seniman Indonesia dan Inggris juga memanfaatkan teknologi. Kolaborasi seniman Indonesia dan Inggris juga memanfaatkan teknologi. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Di sela-sela menikmati pertunjukan, ada pameran seni dari seniman Indonesia dan Inggris yang dipajang di setiap sudut The Establishment.

Karya para seniman itu merupakan hasil pertukaran budaya kedua negara.

Para seniman asal Indonesia dikirim ke beberapa kota di Inggris untuk berinteraksi dengan kurator dan masyarakat di sana. Mereka kemudian membuat kreasi seni dari barang-barang yang ditemukan di Negara Three Lions itu.


Pun sebaliknya, seniman Inggris datang ke beberapa kota di Indonesia dan membuat karya. Sekitar 13 seniman dari Indonesia, 10 dari Inggris, serta 32 organisasi seni terlibat dalam pertukaran budaya ini.

Hasilnya, beragam karya dari berbagai tema dengan media berbeda mulai dari patung hingga video tercipta lewat sentuhan teknologi dan eksperimen dua negara.

Seperti Uncle Twis, musisi Surabaya yang menjelajah hutan Skotlandia Barat dan membuat alat musik dari hutan pedalaman Inggris itu. Alat musik itu diberi nama Kalpataru - The Tree of Life.

Kalpataru - The Tree of Life, alat musik karya seniman Indonesia Uncle Twis bersama Cryptic dari Inggris dipamerkan di UK/ID Festival 2017.Kalpataru - The Tree of Life, alat musik karya seniman Indonesia Uncle Twis bersama Cryptic dari Inggris dipamerkan di UK/ID Festival 2017. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Seniman Inggris, Liam Smyth membuat sebuah instalasi berjudul Augmented Reality Tour: Vernacular Heritage. Instalasi itu merupakan gabungan peta dan foto-foto Kota Semarang.

UK/ID Festival 2017 yang merupakan kali ke-2 acara dari British Council itu juga menampilkan hasil kerja sama lainnya dalam bentuk kuliner dan mode.