Cerita 'Hitler' Terusir dari Yogyakarta

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Minggu, 12/11/2017 15:52 WIB
Cerita 'Hitler' Terusir dari Yogyakarta Patung Hitler di museum lilin di Yogyakarta terpaksa diturunkan. (AFP PHOTO / HENRYANTO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada Adolf Hitler di Indonesia. Ia berdiri di depan kamp konsentrasi Auschwithz seperti di zaman Nazi masih berkuasa. Bedanya, kamp itu hanya layar semata. Hitler yang berdiri pun, meski seukuran manusia seperti pada umumnya, hanya patung lilin dari Yogyakarta.

Nazi dan kamp itu hanya salah satu instalasi di Museum Seni Patung De ARCA di Yogyakarta.

Pengunjung bebas berfoto selfie dengan Hitler. Namun baru-baru ini, instalasi itu sudah dipindahkan, menurut keterangan manajer museum, Jamie Misbah pada Sabtu (11/11).



Tindakan itu terpaksa diambil setelah adanya protes keras dari kelompok kanan, tak lama setelah instalasi itu terpublikasikan di media internasional dan jadi perbincangan. Organisasi pejuang hak asasi Yahudi, Simon Wiesenthal Center ikut mengecamnya.

Meski foto dalam layar berukuran raksasa, kamp konsentrasi Auschwithz mengundang trauma terutama bagi Yahudi, karena itulah tempat Nazi membinasakan sekitar 1,1 juta kaum mereka.

“Kami tidak ingin memancing kemarahan. Tujuan kami menampilkan figur Hitler di museum ini adalah untuk mendidik [pengunjung],” kata Misbah, seperti dikutip dari AFP.


Tentu Hitler bukan satu-satunya figur yang dipajang di museum itu. Ia hanya satu di antara sekitar 80 figur lainnya, termasuk pemimpin dunia dan selebriti. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa figur dan layar Auschwithz adalah instalasi yang paling ramai.

Pengunjung paling suka selfie di sana. Mereka juga banyak memotret instalasi itu dan mengunggahnya ke media sosial. Terkadang mereka juga meniru salam ala Nazi.

Menurut Misbah, hal itu memang tidak dilarang. Ia juga menganggapnya normal. Sayangnya, tindakan itu ternyata menyulut kemarahan beberapa pihak di dunia internasional.

Di museum atau galeri di luar negeri, hal-hal berbau Nazi justru dengan bangga dipamerkan.Di museum atau galeri di luar negeri, hal-hal berbau Nazi justru dengan bangga dipamerkan. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Para sejarawan pun menyalahkan pendidikan atas kurangnya sensitivitas dan kepedulian pengunjung sehingga menghasilkan tindakan semacam itu. Namun melihat konteks bahwa Indonesia adalah negara mayoritas Muslim dan sedikit umat Yahudi, itu tak bisa dihindari.

Bagi masyarakat Indonesia, Nazi menjadi tema yang menarik. Di Bandung bahkan ada kafe dengan tema Nazi. Terdapat swastika dan banyak foto Hitler di dinding kafe itu. Namun pada Januari, kafe itu pun terpaksa ditutup karena kemarahan sebagian pihak. (rsa)