Sibuk, alasannya. Atau, ada pula orang tua yang menganggap dongeng sebelum tidur sudah tak relevan lagi. Jadul.
Tapi bagi Rika Endang Triyani dari komunitas Ayo Dongeng Indonesia (Ayodi), dongeng tak pernah mati. Membacakan buku atau menceritakan pengalaman diri pada anak-anak, manfaatnya tak lekang di makan waktu. Tak ada kata tak sempat atau tak relevan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dongeng membentuk karakter anak, itu pasti. Di sela acara Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) 2017 di Banda Aceh beberapa waktu lalu Rika bahkan menegaskan, efeknya ekstra. Bisa sampai jangka panjang.
Dongeng, katanya, adalah media mujarab untuk menanamkan sifat-sifat mulia kepada anak sejak dini. Jika dinasihati langsung, biasanya anak tidak akan langsung menuruti.
Anak sebenarnya bisa 'dijinakkan' lewat buku cerita atau dongeng. (Ilustrasi/robarmstrong2/Pixabay) |
“Kalau dibawakan dalam sebuah cerita, ‘Oh ternyata bohong itu jeleknya seperti ini,’” ujar Rika sembari mencontohkan menanamkan prinsip ‘berbohong itu buruk’ pada anak.
Anak cenderung tak suka ditegur atau dinasihati. Lewat dongeng, pesan itu bisa disisipkan.
Lihat juga:Gamelan Mengalun dari Kaki Pegunungan Alpen |
Rika memberi contoh lain. Menanamkan tentang bagaimana sikap saat makan yang baik, misalnya. Ketika orang tua meminta anak duduk yang baik saat makan, tidak jarang si anak malah mengabaikan. Mereka akan bersikap yang berlawanan dengan apa yang diminta orang tua.
Tapi sikap itu bisa diubah melalui dongeng. “Itu [menanamkan sikap baik saat makan lewat dongeng] lebih manjur. Tidak terasa, tapi kena. Sikap anak akan berubah,” Rika menjamin.
Dongeng boleh dianggap sekadar kata-kata yang lewat. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tapi itu juga bisa berisi nasihat yang lengkap. Dari sebab, sampai akibat.
“Dongeng juga melatih anak berimajinasi,” Rika menambahkan.
Anak bisa didorong untuk lebih berimajinasi lewat mendongeng. (Ilustrasi/kaleido-dp/Pixabay) |
Tapi dengan dongeng, orang tua dan anak dapat meningkatkan kembali kedekatannya. Kedua pihak harus saling bertatap muka dan saling mendengar.
“Otomatis anak juga akan terbiasa mendengarkan isi hati orang lain,” tutur Rika.
Demikian lah, dongeng pun punya ‘mimpi indah,’ segudang manfaat yang tak pernah mati. (rsa)
Anak sebenarnya bisa 'dijinakkan' lewat buku cerita atau dongeng. (Ilustrasi/robarmstrong2/Pixabay)
Anak bisa didorong untuk lebih berimajinasi lewat mendongeng. (Ilustrasi/kaleido-dp/Pixabay)