Gamelan Mengalun dari Kaki Pegunungan Alpen

Rizky Sekar Afrisia , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 11:02 WIB
Gamelan Mengalun dari Kaki Pegunungan Alpen Ada pusat gamelan yang baru dibuka di Swiss. (Ilustrasi/Thinkstock/Uskarp)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pegunungan Alpen, Swiss tidak lagi sunyi. Di kota Sion yang terletak di kaki pegunungan itu, baru saja didirikan pusat pelatihan dan pertunjukan gamelan.

Itu adalah hasil kerja sama sekolah musik ‘Un, Deux, Trois, Musiques’ atau yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Satu, Dua, Tiga, Musik’ yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern di Swiss.

Adalah Nicole Coppey yang menjadi pemrakarsa berdirinya pusat pelatihan dan pertunjukan itu. Ia bisa disebut sebagai ‘pahlawan’ gamelan di negeri orang. Ia juga merupakan pendiri sekaligus direktur Un, Deux, Trois, Musiques.


Coppey jatuh cinta pada gamelan sejak pertama kali mendengarnya di Cite de la Musique di Paris, Perancis. Ia tak ingat tanggalnya. Tapi yang jelas, saat itu sedang ada pertunjukan musik dari Indonesia.

Ia lalu mencari tahu soal gamelan dan menjalin kerja sama dengan KBRI Bern. Pada 2008, ia membentuk grup gamelan di sekolahnya. Saat satu set alat gamelan tiba di sekolahnya, Coppey langsung terharu. Cintanya ada di depan mata.

Selama satu dekade terakhir, ia sibuk mempromosikan gamelan di Sion.


Kini, ia meresmikan pembukaan pusat pelatihan dan pertunjukan gamelan di sana. Acaranya, seperti diketahui dari keterangan Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Bern yang diterima kantor berita Antara, Selasa (14/11), dilakukan di gedung parlemen Kanton Walis.

Acara itu dihadiri oleh Presiden Sion, Philippe Varone dan wakilnya Christian Bitschnau, Presiden Parlemen Kanton Walis Diego Wellig, pejabat pemerintah Sion, dan Wakil Tetap RI untuk PBB dan Organisasi Internasional di Jenewa (PTRI Jenewa), Dubes Hasan Kleib, Dubes RI untuk WTO Sondang Anggraini, pemerhati seni dan budaya serta diaspora Indonesia.

Mereka dihibur grup gamelan Un, Deux, Trois, Musiques yang membawakan beberapa lagu dari Jawa Tengah, di antaranya Wilujeng dan Ladrang Pangkur. Undangan yang mayoritas warga Swiss dari kawasan berbahasa Perancis itu terhipnotis keindahan alunan musik gamelan.


Mereka juga bisa menikmati kuliner Indonesia, gamelan, demo membatik, dan tari poco-poco.

Varone menyatakan kekagumannya menyaksikan pertunjukan gamelan dibawakan remaja dan anak-anak itu. Dubes RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein Linggawaty Hakim menyampaikan, minat masyarakat Swiss terhadap budaya Indonesia sangat tinggi.

Berkat orang-orang seperti Coppey, katanya, budaya Indonesia pun makin dikenal. (Antara)