FOTO: Mendaki Benteng 'Prajurit Awan' di Pedalaman Peru

AFP, Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 07:31 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Benteng Kuelap berdiri diam di ketinggian 3000 mdpl barat laut Peru. Benteng ini didirikan sejak abad ke-5 oleh suku Chachapoyas, atau para 'prajurit awan'.

Benteng Kuelap berdiri diam di ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut, di antara kota Maria dan Tingo, barat laut Peru. Benteng ini didirikan sejak abad ke-5 oleh suku Chachapoyas, atau para 'prajurit awan'. (REUTERS/Guadalupe Pardo)
Suku Chachapoyas hidup di antara ketinggian Pegunungan Andes yang penuh awan. Kerajaan Inca menduduki wilayah mereka sebelum penaklukan Spanyol pada abad ke-16 Masehi. (AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES)
Sebelum dikuasai oleh Inca, suku Chachapoyas terkenal sengit dan konsisten melawan juga mempertahankan diri. (REUTERS/Guadalupe Pardo)
Dengan dikuasainya Chachapoyas oleh Inca, petunjuk peninggalan 'prajurit awan' amat sedikit. Sejumlah pengetahuan tentang mereka hanya berasal dari tembikar, artefak, makam, termasuk benteng Kuelap. (REUTERS/Guadalupe Pardo)
Benteng Kuelap dibangun di punggung tebing batu kapur di pegunungan Andes, di tepi kiri sungai Utcubamba. Benteng ini dikelilingi hutan hujan yang sering berkabut. (REUTERS/Guadalupe Pardo)
Benteng ini dibangun dari utara ke selatan dengan panjang 584 meter dan memiliki bagian terlebar sebesar 110 meter serta tinggi antara 10 hingga 20 meter. (REUTERS/Guadalupe Pardo)
Bangunan yang membentengi area seluas enam hektar ini memiliki tiga pintu, dua di timur dan satu di barat. (AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES)
Meski diketahui mulai dibangun sejak abad ke-5 Masehi, namun sebagian besar bangunan didirikan antara 900 hingga 1100 Masehi. (AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES)
Benteng ini pada awalnya melindungi sekitar 300 ribu jiwa suku Chachapoya. Namun ditinggalkan pada 1570 karena penaklukan Spanyol sehingga kondisi kota memburuk dan ditutupi akar tumbuhan. (AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES)
Suku Chachapoya pun diketahui telah punah sejak abad ke-18 Masehi. Mereka dikenal sebagai salah satu jejak genetis yang berbeda dari penduduk asli Peru modern. (AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES)