Mengulik Makna 'Maknyus' Bondan Winarno

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 18:15 WIB
Mengulik Makna 'Maknyus' Bondan Winarno Bondan Winarno yang memopulerkan kata maknyus, meninggal dunia. (Detikcom/Agung Phambudhy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kata ‘maknyus' seolah tak dapat dilepaskan dari pegiat kuliner Bondan Winarno.

Setiap menjajal makanan yang menurutnya lezat, pria kelahiran Surabaya itu kerap mengucap kata tersebut semasa hidupnya. Kini, kata itu populer bagi para penikmat kuliner.

‘Maknyus’ dipopulerkan Bondan kala dirinya menjadi presenter di acara Wisata Kuliner yang tayang pada 2002-2012. Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Karsono H Saputra menjelaskan makna di balik kata itu pada CNNIndonesia.com, Rabu (29/11).



"Dalam ilmu bahasa, 'nyus' merupakan tiruan bunyi yang juga onomatopoeia [formasi kata dari sebuah bunyi]. Bisa berupa keadaan atau kata kerja untuk benda jatuh, ayam berkokok. Sedangkan 'mak' itu untuk ungkapan yang tiba-tiba, seketika atau spontan," katanya.

"Jadi 'mak' terus diikuti tiruan bunyinya. Bisa 'nyus', atau lainnya," tambah Karsono.

Ia melanjutkan, 'nyus' kerap digunakan untuk menunjukkan rasa manis seperti merasakan air teh atau tebu. "Rasa manis yang luar biasa," katanya.


Tapi ‘maknyus’ yang diucapkan Bondan telah diperluas maknanya. Bukan hanya manis, melainkan semua yang rasanya luar biasa. Yang jelas, itu tidak mengubah maknanya.

“Perluasan makna sudah biasa terjadi," ungkapnya.

‘Maknyus' sendiri tidak ada dalam kamus bahasa jawa. Apalagi kamus besar bahasa Indonesia. Itu hanya kata-kata tidak baku yang dipopulerkan oleh Bondan sendiri.

"Pak Bondan bisa jadi memang pintar mencari [kata yang tepat], jeli menangkapnya, atau sebenarnya popularitas kata 'maknyus' tidak ia dirancang, tiba-tiba saja," ujarnya.

Bondan Winarno hobi menjajal kuliner.Bondan Winarno hobi menjajal kuliner. (Screenshot via twitter (@PakBondan))
"Saya tidak yakin, apakah ketika kata 'maknyus' diucap orang lain nuansa maknanya akan sama [seperti jika Bondan yang mengucapkan]. Bisa jadi, kalau bukan penutur asli, cara mengucapnya tidak akan benar, irama, intonasi tidak benar," tambah Karsono.

Sementara menurut Dosen Budaya Jawa FIB UI, Prapto Yuwono, kata 'maknyus' sejatinya adalah ungkapan seseorang saat merasakan apa pun yang berkaitan dengan panca indera.

"'Nyus' sama dengan 'nyos', tiruan bunyi, seperti suara besi panas saat dimasukkan ke dalam air," katanya, saat dihubungi CNNIndonesia.com secara terpisah.


Menurut Prapto, Bondan menggunakan ungkapan tersebut sebagai rasa terkejut dan kagum saat merasakan sesuatu di lidah. Namun, penggunaan itu baginya salah kaprah.

"Salah kaprah Bondan. ‘Nyus' itu bunyi besi panas di air, tapi dia menyatakannya untuk kuliner lezat. Tidak sesuai, tapi ya sudah viral, dan akhirnya tidak melihat lagi arti sebenarnya," katanya.

Meski begitu, ia sepakat bahwa kata 'maknyus' tidak ada di dalam kamus. Namun kata-kata itu sudah kerap digunakan sebagai ungkapan spontan sehari-hari.

‘Maknyus’ kini menjadi salah satu warisan Bondan. Sang pencetus sendiri telah meninggal di RS Harapan Kita Jakarta, Rabu (29/11) pukul 09.05 WIB. Jenazah Bondan akan dikremasi. (rsa/rsa)